Tulang belulang tersusun rapi

Berlaku horizontal maupun vertikal
Berliku, liuk-liuk dan menakjubkan
Tak sekedar keras seperti semangat seorang pecita
Tak seputih iman seorang mu’allimin mu’allimat tanpa dusta
Tak serapuh bangunan pada masa Jepang dan Belanda
Tak rawan patah laiknya kegalauan hidup atas nama cinta
Memang tersusun sedikit runyam,
Namun tak serunyam masa depan seorang remaja yang tak tau aturan
Halah, memangnya sastrawan dalam berpuisi memiliki aturan?
Ini bukan soal sastrawan dan karyanya,
Tetapi soal tulang belulang
Tak lepas kiasan tulang belulang apapun itu
Tulang punggung keluarga,
Atau tulang rusuk sebagai pelengkap hidup layaknya yang tercantum di sebuah ayat dalam kitab suci atau falsafah cinta
Maksudnya, wanita kah?
Salah seorang cendekiawan negeri pun menunjukkan nakalnya, bahwa
‘wanita ibarat tulang rusuk, itu penyebab wanita terasa enak, seperti yang kalian pernah rasakan, bahwa sop iga itu enak’

Ba’da Subuh di LP Cipinang, Mei 2013