Oleh: Yanisa Qorry ‘Aina

Brakk…!!!

Tas hitam berisi laptop itu dibanting oleh lelaki berambut ikal dan berkemeja garis-garis vertikal berwarna ungu. Kini emosinya benar-benar tersulut. Aku yang ada di sebelahnya hanya tersenyum sambil menyodorkan kursi. Lelaki itu pun duduk dan tiba-tiba saja menatapku. Matanya menghujam begitu tajam ke mataku. Aku tetap menatapnya seolah-olah melayani tantangannya. Lama-lama aku berpikir ada sesuatu yang berbeda terjadi pada lelaki yang baru lima bulan lalu dekat denganku.
Gilang, dialah lelaki yang kini berhadapan denganku. Sepertinya ia tengah menghadapi masalah yang cukup sulit diterima oleh hati. Aku mengalihkan tatapannya dengan menarik tasnya yang lumayan berjauhan dengan tempat dudukku. Lalu, kuberanikan diri untuk mengawali sebuah perbincangan.
“Sabar, Mas. Sebenarnya ada masalah apa?” tanyaku mencoba dari hati ke hati.
“Teh, kampus macam apa ini? Dosennya kalo ngasih nilai selalu nggak objektif,” teriak Mas Gilang memanggilku dengan sapaan teteh. Dan aku memanggilnya dengan sapaan ‘mas’. Suara Mas Gilang cukup nyaring, tak pelak setiap pasang mata mengalihkan pandangannya ke tempat duduk di mana aku dan Mas Gilang berada.
“Lho… Lho… Mas! Kamu ada masalah apa kok tiba-tiba men-judge dosen kayak gitu?” tanyaku masih mencoba menenangkan.

“Tau ah! Mereka itu bikin naik darah. Masa di Kartu Hasil Studi-ku mata kuliah Sosiologi Sastra dapat nilai E, apa menurut kamu E itu nilai, Teh?”
“Oooh, kamu sabar dulu Mas. Mungkin ada suatu kesalahan yang memang harus dikonfirmasi di BAAK. Dosen pun nggak akan sampai hati ngasih nilai E ke mahasiswanya. Kamu jangan meladeni emosimu dulu yah, nanti aku bantu urusnya,” kataku sehalus dan selembut mungkin, dan alhamdulillahia pun mulai mengerti. “Kamu udah makan, Mas? Makan bakso ‘Agung’ yuk! Coba kita omongin masalah ini dengan kepala lebih dingin di sana,” lanjutku menawarkan kepada Mas Gilang untuk makan.
“Belum. Yaudah kita makan,” ujar Mas Gilang sedikit jutek.
Alhamdulillah, meskipun dalam keadaan emosi, Mas Gilang masih bisa menganggapku sebagai teman dekat, masih mampu menerima masukan dariku meski masukan itu belum tentu menjadi solusi dari permasalahannya saat ini. 
Aku dan Mas Gilang menuju tempat penitipan tas di perpustakaan. Di sana aku masih menyempatkan diri untuk bercanda, dan dengan senang hati Mas Gilang menanggapiku. Setelah keluar dari ruang perpustakaan, kami menelusuri sepanjang lorong gedung kampus, lalu menuruni anak tangga, dan sesampai di lobi kami masih membelah sekerumunan mahasiswa yang nampak berbeda-beda dari raut wajah mereka. Ada yang nampak ceria, adapula yang nampak dingin tanpa ekspresi senang mupun sedih sedikit pun.
Sebelum sampai di kantin, kami masih melewati sekumpulan muda-mudi yang tengah asyik berlatih beladiri. Kemudian kami menembus lahan parkiran, tepatnya parkiran yang ada persis berhadapan dengan kantor BAAK. Mas Gilang melangkahkan kaki dengan agak memburu. Mendapati tingkahnya begitu aku pun berseru.
“Mau ambil gaji ya, Mas? Jalannya pelan-pelan dong!”
Mendengar seruanku itu, ia lantas menghentikan derap langkahnya dan memandangku dengan menyungging senyum. Aku pun membalas senyumnya.
“Nanti kita urus nilai kamu di sini, Mas,” lanjutku memberi tahu. Mas Gilang menoleh ke arah kantor BAAK, lantas mengangguk. Ia melanjutkan langkahnya, aku sedikit mengejarnya dari belakang. Lalu kudongakkan kepalaku ke arahnya, ternyata ia masih dalam senyum.
“Kamu kenapa senyam-senyum sendiri sih, Mas?” tanyaku penasaran.
Lelaki bertubuh atletis itu kembali menatapku, dari bawah agak lama, lalu ke atas, dan ke bawah lagi.
“Kamu kenapa sih, Mas?” tanyaku lagi semakin penasaran. Ia hanya tersenyum-senyum menatapku. Aku merengek sambil mencubit lengannya. Akhirnya ia mulai berbicara.
“Kamu selalu bisa bikin aku senyum, Teh. Walaupun aku dalam keadaan bingung kayak ini. Kamu memang someone special buatku,” ujarnya serius, lalu tersenyum lagi.
“Iya, tapi kenapa kamu senyam-senyum lihat aku?” tanyaku tak mengerti.
“Kamu mau tau kenapa aku senyum-senyum sendiri? Karna hari ini kamu terlihat anggun banget. Lihat kamu aja hatiku rasanya tenang, ciyuz deh! (serius deh!) He..he..”
“Ah Mas gombal banget deh. Mi appah?” (demi apa?) tanyaku dengan bahasa ikut-ikutan aL4y.
“Beneran, Teh! Aku suka kalo kamu pakai rok kayak gini, jiwa perempuan kamu itu dapet. Kamu itu selalu ada cara buat hibur aku, baik yang kamu sengaja atau yang enggak,”
Mendengar kata-kata Mas Gilang aku hanya tersenyum. Ternyata aku cukup berarti untuknya. Aku senang bisa menghiburnya, bisa membuatnya tersenyum. Ia pernah berkata kepadaku bahwa ia sangat menyayangiku dan keluargaku. Aku cukup terharu mendengar ucapannya kala itu.
“Sudah Mas. Ayo kita makan dulu, bakso ‘Agung’ beserta mangkok, garpu, dan sendoknya sudah menunggu kedatangan kita,”
“Nah, sekarang bahasa kamu yang hiperbola, Teh. Sedikit personifikasi juga, hehe…”
“Hehe… Kenapa kita jadi agak-agak begini sih Mas?!” tanyaku masih dengan canda.
“Bukan kita, tapi aku yang agak-agak miring,”
“Ups… Agak miring kenapa, Mas?”
“Agak miring karena memikirkanmu… hehe..”
“Hahaha…. Mas lebaaaaaaaaaaaaaaaaaaaay…!!!”
***
Usai makan dan membicarakan kronologi nilai Mas Gilang yang nahas itu, aku dan Mas Gilang beranjak dari kantin bakso ‘Agung’, lalu kami pun berjalan menuju kantor BAAK. Sesampai di sana, kami bertemu dengan salah satu petugas BAAK.  Mas Gilang bertanya kepada petugas BAAK itu dengan nada sedikit meninggi. Petugas BAAK hampir terpancing emosi, tatapannya terlihat kurang senang diperlakukan oleh Mas Gilang seperti itu. Daripada nanti malah kacau-balau akhirnya aku lebih memilih menenangkan Mas Gilang. Kuiisyaratkan kepada Mas Gilang untuk melangkah mundur, lantas aku yang maju untuk bertanya kepada petugas berkemeja putih lengan pendek itu dengan cara baik-baik. 
Masih bukan solusi untuk persoalan nilai buruk Mas Gilang, petugas BAAK menyuruh kami untuk menghubungi dosen mata kuliah yang bersangkutan. Mas Gilang pun segera menghubungi dosen tersebut, namun tidak diangkat. Ia mencoba menghubungi dosen itu lagi, namun tetap tidak diangkat. Ketika Mas Gilang kembali mencoba menghubunginya lagi, ternyata nomornya sudah tidak aktif.
Astaghfirullah! Kutemukan raut wajah Mas Gilang yang semakin gusar, penuh dengan kekecewaan. Aku bersandar ke dinding, menarik nafas perlahan sembari memejamkan mata. Sayup-sayup terdengar alunan suara adzan maghrib dari salah satu pengeras suara masjid dekat kampus. Mas Gilang menatapku dengan tatapan kosong.
Dalam keadaan seperti ini, aku merasa harus berinisiatif mengajak Mas Gilang untuk memenuhi seruan adzan itu. Mas Gilang menuruti ajakanku, dan kami pun segera menuju masjid. “Astaghfirullah, biarin aja lah Teh. Kita serahkan aja semua pada Allah. Oh ya, nanti habis shalat jangan lupa doain aku yah, mudah-mudahan urusan nilai ini lancar,” pinta Mas Gilang dengan nada pilu. Aku mengangguk dan mencoba tersenyum untuk Mas Gilang.  ^_^

——————————————————————————————————–
Tentang Penulis :

Namaku Yanisa Qorry ‘Aina, lahir di Jakarta 05 Oktober 1990. Aku adalah mahasiswa semester akhir di Universitas Indraprasta PGRI. Selain sebagai mahasiswa, aktivitasku yang lain adalah mengajar. Aku juga sebagai guru kelas IV di MI Al-Hidayah, Sukatani, Depok.

Awalnya aku mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, entah karena apa ketika masuk semester III aku pindah Program Studi ke Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bisa jadi kepindahanku itu disebabkan lantaran aku menyukai dunia literasi.

Aku suka membaca novel, cerpen, menonton teater, juga listening music. Bagiku, dunia literasi secara kita sadari atau tidak adalah bagian dari sebuah kehidupan. Mungkin kita berkoar tidak menyukai dunia literasi, tetapi di lain kesempatan kita menikmati alur sebuah sinetron di televisi, atau dalam diam kita mendengar alunan lagu dan tanpa sengaja jemari kita menari, atau kepala kita mengangguk. Itu adalah bentuk dunia literasi yang kita masuki melalui alam bawah sadar kita. Aku mengakui semua itu dan tak ingin menjadi orang bermuka dua dalam hal itu.
Satu hal lagi, aku berkarya hanya untuk diri pribadi dan untuk orang-orang yang kusayang dan sayang kepadaku. Ayahku telah tiada, namun semua nasihatnya dahulu telah menguatkanku untuk menjadi diri sendiri seperti saat ini. Mudah-mudahan Allah Swt memberikan tempat yang layak untuk ayah di sisi-Nya. Amin.
Bersamaan dengan nasihat ayah yang selalu terdengar di telingaku setiap waktu, misi hidupku selanjutnya hanyalah ingin membahagiakan ibu serta menjadikan kedua adikku untuk menjadi pribadi yang mandiri. Aku mencintai keluarga, karena bagiku keluarga adalah segalanya. I love my Mom, my Dad, my Bro and my Sist. ^_^