Aku dan salah seorang sahabat di sekolahku di SMA yang bernama Rifki, berencana menonton pertandingan sepakbola antara Persija vs Persib. Rifki yang sudah lama tinggal di jakarta dan menjadi pendukung setia-nya Persija pernah berjanji mengajakku untuk menonton setiap tim kesayangannya itu bertanding. Ia pun telah berjanji akan memberikan kaos berwarna orange, warna khas macan kemayoran itu. Aku yang baru saja menjadi perantau juga mulai tumbuh benih-benih The Jak Mania, sebutan suporter fanatik Persija. Aku akan menonton pertandingan sepakbola, pikirku. Selama di Sulawesi aku tak pernah menyaksikan pertandingan sepakbola secara langsung dan resmi. Di sana aku hanya bermain sepakbola dengan teman-temanku di pelataran depan masjid setiap pulang sekolah. Dan di sini, sahabat baruku yang bernama Rifki tadi akan mewujudkan impianku itu.

          “Pulang sekolah, lu langsung ikut gue ke rumah, ya. Nanti di rumah gue kasih kaos The Jak, sekalian makan siang, hitung-hitung silaturrahim sama keluarga gue juga. Oke!” bisik Rifki pelan di telinga kiriku.
          “Oke!” jawabku singkat dan mantap.
***

Bel sekolah melengking tiga kali. Pertanda belajar di sekolah telah usai dan tiba saatnya pulang. Aku dan Rifki segera membereskan buku-buku yang berserakan di meja. Ketua kelas pun langsung memimpin doa. Setelah itu, kami keluar kelas satu persatu. Aku dan Rifki bergegas keluar area sekolah dan menaiki mobil mikrolet 16 menuju rumah Rifki di daerah Dewi Sartika. Sesampai di sana, kami makan dan mendirikan shalat dzuhur. Lalu mengganti pakaian sekolah dengan atribut The Jakmania. Dengan rona wajah yang tampak ceria aku pun memakai syal sembari mengangkat tangan, membuka telunjuk dan ibu jari lalu berteriak, “The Jakmania.” Rifki hanya tersenyum melihatku bertingkah seperti itu. Dan kami pun terbawa hanyut dalam dunia The Jakmania.

          Rifki keluar rumah. Aku menguntit di belakangnya. Kami menuju stasiun Cawang. Lalu naik kereta menuju stasiun Tanjung Barat. Sesampai di Tanjung Barat, kami menunggu di sebuah halte. Tak lama kemudian, muncul segerombolan The Jakmania dengan menggunakan mobil bus mini sambil menabuh gendang dan menyanyikan yel-yel khas The Jakmania. “Sudah kubilang jangan melawan Persija. Sekarang kamu merasakan akibatnya. Baiknya kamu diam di rumah saja. Duduk yang manis nonton di layar kaca. Siapa yang suruh… melawan Persija… siapa yang suruh… datang ke Jakarta…!” begitulah bunyi yel-yel yang mereka dendangkan.


          Aku sangat antusias melihat gerombolan The Jakmania itu . Ketika mereka sampai di depan halte yang kami duduki, mereka pun berhenti. Beberapa di antara mereka berteriak kami. Mereka berteriak sembari mengulurkan tangan. Aku pun sangat terkejut, betapa setia-kawannya suporter The Jakmania, mereka mengajakku dan mengajak Rifki untuk bersama-sama menuju stadion Lebak Bulus. Aku pun semakin senang dan lantas menyimpulkan bahwa; The Jakmania mempunyai solidaritas yang sangat tinggi.

          Dalam benak aku berpikir, ‘bukankah kita dilarang naik di atas atap kendaraan? bukankah itu suatu pelanggaran dalam berlalu-lintas?’ Entah mengapa tanpa pikir panjang aku dan Rifki menyambut ajakan para The Jakmania itu. Kami bersusah-payah untuk berjejal naik di atas atap bus mini itu. Namun, mereka tetap bersemangat menarik tangan kami. Setelah kami sampai di atas atap, bus melaju dengan kecepatan sedang. Aku yang saat ini sebagai The Jakmania pun turut menyanyikan yel-yel, walau hanya berteriak-teriak karena belum hafal betul. Saat itu adalah saat pertama kali aku menjadi suporter yang akan membela tim baru kesayanganku, Persija. Dan aku benar-benar menikmatinya.
***

Aku, Rifki dan para The Jakmania yang lain turun di depan stadion Lebak Bulus. Kami langsung menyerbu pintu masuk. Tak ada yang membeli tiket. Aku pun sempat kebingungan dan ingin membeli tiket, namun padatnya massa The Jakmania tak memberikanku kesempatan untuk itu. Aku dan Rifki pun larut dalam aksi dorong The Jakmania dengan petugas jaga, hingga masuk ke dalam stadion. Sesampai di dalam, aku sangat antusias dengan para suporter. Begitu banyak dan semangat menyambut para pemain yang berduyum-duyun memasuki lapangan.

Pertandingan pun dimulai. Kami bersorak-sorai menyemangati para pemain Persija. Waktu berjalan sembilan menit. Persija pun unggul 1-0 atas Persib lantaran sundulan Bambang Pamungkas yang tak mampu ditepis oleh penjaga gawang Persib. Kemudian di menit-menit terakhir menjelang jeda, gocekan Aliyudin berhasil mengelabui bek kanan Persib dan penjaga gawang yang sudah keluar dari daerah penjagaanya pun tak mampu kembali ke posisinya. Dan Aliyudin dengan mudah memberikan sontekan indah ke gawang Persib hingga tercipta sebuah gol lagi bagi Persija. Papan skor pun menunjukkan angka 2-0. Tak lama kemudian, peluit pertanda jeda berbunyi.

Pertandingan babak kedua telah dimulai. Aksi-aksi gemilang Bambang Pamungkas dkk mulai teruji. Beberapa striker Persib memberi tekanan di daerah pertahanan Persija. Beberapa pemain tengah Persija pun ikut serta menjaga pertahanan. Dan ketika bola berada pada kaki Abanda Herman, ia membawa bola itu hingga di depan gawang Persib. Sontak para pemain Persib yang larut dalam penyerangan tak mampu berbuat banyak. Dengan leluasa Abanda pun berhasil menceploskan bola ke gawang Persib dengan tendangan yang cukup keras. Sungguh luar biasa sosok Abanda Herman, pemain berposisi back, namun mampu mencatatkan namanya di papan skor. Kiper Persib hanya menunduk sembari meninju tanah menyesali kegagalan. Kami, para The Jakmania di tribun sangat bangga atas keunggulan tim kesayangan kami itu. Dan hingga peluit panjang, skor 3-0 bagi tim kami.

Usai pertandingan kami berduyun-duyun keluar lapangan. Beberapa di antara kami ada yang menunggu Bambang Pamungkas dkk untuk dimintai tanda tangan atau foto bareng. Namun, aku dan Rifki lebih memilih untuk langsung pulang karena hari sudah larut malam.
***

Lima hari pasca pertandingan melawan Persib, Persija kembali menjamu lawan yang cukup tangguh. Yakni, Persipura. Dan sesuai jadwalnya, pertandingan bigmatch itu akan dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Aku dan Rifki pun semakin semangat ingin menyaksikan aksi-aksi tim kami untuk menghempaskan pasukan “mutiara hitam” itu.
***

Hari yang kutunggu telah tiba. Seperti biasa, aku dan Rifki usai sekolah langsung pulang ke rumah. Kemudian segera meluncur ke lokasi pertandingan. Sesampai di sana, para suporter The Jakmania pun tak kalah semarak seperti halnya ketika di stadion Lebak Bulus beberapa hari lalu. Dan tampak dari kebanyakan suporter membeli tiket. Berhubung pertandingan ini adalah bigmatch dan lokasinya di SUGBK, Senayan, keamanan dibuat superketat. Sangat berbeda dibandingkan saat di stadion Lebak Bulus yang para suporternya bebas masuk tanpa membeli tiket.

Aku dan Rifki mengantre di loket. Setelah mendapat tiket, kami berbondong-bondong memasuki stadion. Di dalam stadion aku begitu takjub dengan kemegahan stadion internasional itu. Baru kali ini aku memasuki stadion semewah ini. Para pemain dari kedua kesebelasan mulai memasuki stadion. Kami sebagai suporter menyuarakan yel-yel dengan histeris. Dan bigmatch pun dimulai.

Pertandingan cukup menegangkan. Beberapa kali Bambang Pamungkas dkk memberikan tekanan dan gempuran pada pertahanan Persipura, namun setiap tendangan keras yang mengancam gawang Persipura itu selalu terbendung. Jalan pertandingan semakin sengit. Kali ini para pemain Persipura yang memberikan perlawanan. Dalam kemelut yang terjadi di depan gawang Persija berbuah gol bagi Persipura.

Kubu Persipura selalu memberi perlawanan yang sangat sengit. Hingga perlawanannya selalu berbuah gol. Gol, gol dan gol. Dan sampai wasit meniup peluit panjang, tim kesayangan The Jakmania pun tak mencetak satu angka pun. Papan skor menorehkan angka 0-6. Kami sebagai The Jakmania tak habis pikir. Permainan apa yang telah ditunjukkan oleh skuad Persija kepada kami. Tampak dari wajah beberapa The Jakmania sedih, ada yang sampai menangis bahkan membuat onar.

Sepertinya ada yang tidak beres, bathinku. Aku dan Rifki pun segera berlari untuk meninggalkan lokasi pertandingan. Dalam pelarianku itu hatiku bertanya-tanya, apakah beberapa hari yang lalu aku salah menyimpulkan bahwa The Jakmania adalah suporter sarat solidaritas dan setia-kawan? Namun, kali ini apa yang telah kusaksikan. Aksi saling serang dan lempar batu antara teman dan lawan tak terhindarkan. Begitupun antara teman dan teman. Sesama The Jakmania dari beberapa daerah di jakarta terlibat konflik. Dari beberapa kepala suporter mengucur darah segar, kendaran dirusak dan dibakar. Hingga sarana dan prasarana di lingkungan stadion rusak parah. Sepertinya mereka meluapkan emosinya yang sangat menggebu-gebu. Apakah ini sifat asli The Jakmania? Hatiku kembali bertanya-tanya.

Keesokan harinya di sekolah, aku menghampiri Rifki. Dan menanyakan perihal kerusuhan kemarin. Rifki dengan mimik menyesal berkilah kepadaku bahwa kerusuhan yang terjadi di SUGBK, Senayan, kemarin dipicu lantaran kekalahan tim kesayangannya itu. Dan ditambah ulah suporter jadi-jadian yaitu ‘Rojali’, sebutan ‘Rombongan Jakmania Liar’ yang tak bertanggung jawab. Mereka kerap-kali menggencarkan provokasi-provokasi dengan cara mengejek dan melempari batu sesama The Jakmania. Secara langsung The Jakmania lainnya terpancing emosi. Apalagi dengan kekalahan yang ditelan oleh tim kesayangannya mentah-mentah itu.  Skor 0-6 kemenangan bagi Persipura.

Sejatinya Rojali hanyalah menciptakan onar. Bukan anggota The Jakmania asli yang menjunjung tinggi sportivitas. Bila pun diadakan pemeriksaan, mereka juga tidak memiliki kartu anggota The Jakmania. Kami bukan ‘Rojali’. Tetapi, we are The Jack, ujar Rifki menutup perkataannya. Aku hanya manggut-manggut.

Jakarta, Desember 2008