“Ah, Sam, sebenarnya kau mau ajak aku ke mana, sih?” tanya Tulus sembari mengekor di belakang Samsudi.

“Santai aja, Kawan. Ikuti ke mana gue pergi. Gue pengen ngajak lo seneng-seneng,” ujar Samsudi berhenti sejenak sembari menepak bahu Tulus.
“Iya, yang pasti ke mana gitu? Jangan ngajak aku yang ndak bener, lho,” timpal Tulus khawatir akan melanggar peraturan pondok.

Tulus dan Samsudi tinggal bersama di sebuah pondok pesantren yang ada di Ibukota. Mereka datang dari masing-masing daerahnya. Tulus dari sebuah desa yang masih makmur di Tinombala, Sulawesi Tengah. Sedangkan Samsudi dari Sambas, Kalimantan Barat. Mereka datang bersama kakaknya masing-masing yang juga alumni ponpes itu. Namun dari keduanya, Samsudi lebih dulu datang ke Jakarta dari pada Tulus yang baru tiga hari menghirup udara kota metropolitan itu. Samsudi sudah hafal betul seluk beluk kota perantauannya itu. Maka dari itu, ia ingin mengajak Tulus untuk berjalan-jalan keluar ponpes barang beberapa jam saja, hanya ingin mencari hiburan demi menghilangkan burung-burung yang mengitari kepala karena beratnya pelajaran agama dan hafalan al-qur’an di asrama.


Samsudi tetap berjalan cepat seperti mengejar waktu. Tulus hanya mengikutinya dari belakang. Sesekali sandal jepit Tulus terlepas tersandung batu.

“Sam, tunggu aku, tho,” kilah Tulus sembari menjinjing dan membenarkan sandal jepitnya. Samsudi menghentikan langkahnya. Ia mengelap keringat dengan kerah bajunya. Kebetulan siang itu adalah saat panas-panasnya kota Jakarta. Sekilas ia tersenyum melihat teman barunya itu mengenakan kaos lengan pendek merah, celana kain hitam lalu bersandal jepit, ditambah lagi peci putih. Memang dilihatnya terasa aneh, tapi tak apalah.

“Sebenarnya kita mau ke mana, Sam?” tanya Tulus lagi sambil kembali megenakan sandal jepitnya.
“Udah lah, Bro, Tuh mobil yang kita cari udah datang. Masuk, yuk,” sela Samsudi masih merahasiakan tempat yang akan ditujunya. Lalu mereka berdua memasuki mobil mikrolet.
Samsudi menduduki bangku paling belakang. Tulus juga duduk di depannya, berhadapan. Samsudi kembali mengelap keringat dan menyingkap rambut depannya. Tulus mengikutinya. Di dalam mobil hanya mereka berdua, bertiga dengan sopir. Sang sopir menancap gas. Mobil pun melaju dengan kecepatan kencang.

“Sam, tadi aku denger kamu bilang bro, apa itu bro?” tanya Tulus polos.
Samsudi hanya tersenyum. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat teman barunya yang menurutnya sedikit norak itu. Tapi, ia lebih memilih tersenyum. Ia takut teman satu perjuangannya itu tersinggung.
“Lus, kata-kata bro, coy, boy, lay, semua itu kata-kata sapaan akrab untuk teman dekat atau sahabat kita. Tapi hati-hati, nanti kalo di pondok jangan panggil ustadz dengan kata-kata itu,”
“Kenapa, Sam?”
“Ya, nggak sopan tau. Bisa-bisa lo disuruh bersihin wc selama seminggu,”
“Owh, begitu, ya. Aku ndak tau,” gumam Tulus manggut-manggut.
“Ayo, kita udah sampai,” kata Samsudi sambil menarik lengan Tulus. “Kiri, Bang,” lanjutnya.

Seketika sang sopir menghentikan laju mobilnya. Samsudi keluar dari mobil itu, diikuti Tulus. Ia menyodorkan uang ribuan kepada sopir. Sopir pun menerima dan segera berlalu.
“Waaah…! Tempat apa ini, Sam? Bangunannya berlebihan. Rumahku di kampung saja ndak seperti ini,” kata Tulus sambil menggelengkan kepala. Samsudi tersenyum, membenarkan pakaiannya yang dirasa berantakan.

“Coba, lihat itu!” tukas Samsul sambil menunjuk sebuah tulisan yang bercokol di atas gedung, ‘PGC, Pusat Grosir Cililitan’.
“Pe.. ge… ce… tempat apa ini?”
“Tempat perbelanjaan lah, namanya juga grosir,”
“Itu ada juga, je.. co…, ka… ef… ce…,”
“Udah, nanti gue kasih tau di pondok, aja,” sela Samsudi sambil melangkahkan kaki. Tulus kembali mengikuti sambil tetap bergeming.
“Sam, pakaian-pakaian mereka kok bagus-bagus. Terus, ndak ada yang pakai peci kecuali aku,” gumam Tulus sembari menunjuk orang-orang di sekelilingnya.
“Udah, nggak papa, lo pake peci keliatan alim,” jawab Samsudi sekenanya.
“Lha kamu dilihatnya bagus juga, Sam. Pakai kaos biru sama celana lepis. Sandalnya juga bagus, nggak seperti sandalku,”
“Udah, Boy, hidup di Jakarta cuek aja. Nggak usah malu atau sungkan. Ayo!”
“Lho, ini apa namanya, Sam? tangga tingkat kok bisa berjalan,”
“Tulus. Ini namanya eskalator,” jawab Samsudi singkat. Lalu ia menaiki eskalator. Tulus masih terus megekor di belakangnya.
“Eh, hati-hati, Sam. Eksa, eksalatornya  mengerikan,”
“He… he… eskalator, Tulus, bukan eksalator. Udah, naik aja, nggak papa,”

Mereka berdua menuju lantai dua. Lalu merapat ke kios pakaian. Samsudi meminta penjaga kios untuk mengambilkan kaos olah raga yang berwarna merah. Warna yang disukainya. Ia mengelus bahan kaos itu, lalu memperhatikan logo yang ada di sebelah kiri atas kaos, Manchester United.

“Bagus Sam, kaosnya,”
“Bagus lah, namanya juga barang mahal,” jawab Samsudi santai.
“Lo mau, Boy,”
“Lha kalau dikasih pasti mau, lah,”
“Terserah lo mau pilih yang mana,”
“Yang bener, Sam? Aku pilih yang itu aja,” wajah Tulus berbinar-binar menunjuk kaos biru muda berlogo Manchester City. Samsudi terdiam sejenak. Ia menimbang-nimbang karena kaos yang diminta Tulus adalah kaos rival tim kesayangannya, Manchester United. Memang dalam dunia sepak bola, khususnya Liga Inggris, Manchester United dan Manchester City adalah rival sekota. Tak jarang bila ada pertandingan antara kedua tim tersebut, Samsudi mencuri waktu untuk keluar ponpes dan menonton di warung makan. Walau di warung tersebut ia hanya memesan teh hangat. Tujuan utamanya adalah menonton pertandingan bergengsi itu.

“Mmm… ya udah, Mas, sama yang itu satu,” seru Samsudi sambil menunjuk kaos yang dipilih Tulus.
Usai berbelanja kaos, Samsudi memutuskan untuk balik ke pondok karena waktu menjelang ashar. Ia dan Tulus kembali turun ke lantai satu melewati eskalator. Sesampai di lantai satu, ia mendapati perempuan muda sedang bekerja mengepel lantai. Seketika itu Tulus melepas sandal jepitnya. Orang-orang yang berlalu-lalang heran melihat tingkah laku Tulus.
“Orang aneh,” cibir seseorang kepada Tulus.
“Kamu yang aneh! Lepas sandalmu. Hei! Lepas sandalmu,“ teriak Tulus kepada beberapa pengunjung.
“Emangnya kenapa, Lus?” tanya Samsudi tak mengerti.
“Kamu kok malah nanya sih, Sam? Kasihan mbak ini, sudah capek-capek ngepel kok diinjak lagi. Kan kotor lagi,” jawab Tulus polos.
“Hei! Kamu bisa dibilangin, ndak? Lepas sandalmu! Sepatumu!,” teriak Tulus sambil menunjuk-nunjuk kaki pengunjung.
“Dasar kampungan, paling-paling orang baru datang dari pelosok,” celetuk seorang pengunjung yang berperawakan anak muda.

“Eh, semprul. Tau apa kamu soal kampungku!” Tulus mulai marah. Sepertinya ia ingin menghajar anak muda itu. Belum sempat menghajar anak muda itu, lengannya ditarik oleh Samsudi. Lalu ia diajak secara paksa oleh Samsudi untuk keluar gedung. Setelah sampai di luar gedung bercat orange itu, Tulus membenarkan pecinya yang hampir jatuh. Lalu kembali memakai sandal jepitnya.

“Kamu apa apaan sih, Sam. Tanganku sakit,”
“Lo malu-maluin gue aja, Lus,” kata Samsudi agak kecewa.
“Lho, malu-maluin bagaimana? Mereka yang membuatku kesal,” ujar Tulus membela diri.
“Bukan yang itu. Tapi tadi lo kenapa lepas sandal? Terus sok kasian sama mbak-mbak tadi,”
“Bukan sok kasihan, Sam. Tapi aku memang benar-benar kasihan. Kok apa yang dikerjakan mbak tadi nggak ada yang menghargai, malah mereka mengotori lantai yang sudah dipel oleh mbak-mbak tadi,”
“Sesuai nama lo, lo kelewat baik, terlalu tulus. Lagian itu memang sudah jadi kerjaannya. Dia juga dibayar,”
“Dibayar? Siapa yang bayar?” tanya Tulus kaget.
“Udah, itu bukan urusan lo. Ayo kita balik ke pondok, sebentar lagi masuk waktu ashar,”

Samsudi berjalan terburu-buru menuju mobil angkot. Dengan cepat Tulus membuntuti teman baiknya itu sesekali memanggil nama Samsudi.

Setelah masuk ke dalam angkot, Tulus merasa bersalah dan meminta maaf kepada Samsudi karena telah mempermalukannya di depan khalayak umum. Samsudi pun memaklumi keluguan temannya itu. Ia juga meminta maaf karena terlalu kasar dan kecewa menanggapi keluguan temannya itu. Mereka pun saling tebar senyum. Dan suasana kembali cair seperti sediakala. Hingga sampai di pondok pesantren dan langsung mendirikan shalat ashar berjamaah bersama santri-santri yang lainnya.
***

Jakarta, Februari 2011