CERPEN ANAK


Kriiiing..…!!   Kriiiing…..!!   Kriiiing..…!!


Bel pertanda pelajaran selesai berbunyi. Adul dan teman-temannya yang lain berkemas merapikan peralatan belajarnya. Mereka memasukan alat tulisnya ke dalam tas masing-masing. Setelah dirasa sudah siap dan tidak ada yang tertinggal, Sandi, sahabat Adul, sebagai ketua kelas langsung memimpin doa. Kemudian setelah selesai berdoa mereka bersalaman mencium tangan Bu Indri, lantas bergegas untuk pulang.

Siang ini matahari cukup menyengat. Adul pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Ia merasa tenggorokannya sangat kering dan benar-benar haus. Tiba-tiba ia melihat pedagang es cincau. Ia pun membayangkan betapa segarnya meneguk es cincau di bawah cuaca yang cukup terik seperti sekarang. Ia ingin sekali membeli es cincau itu, tetapi uang jajannya sudah habis. Sandi yang ada di sebelahnya, memperhatikan sikap Adul dengan penasaran.


“Kamu haus ya, Dul?”
“Iya nih. Rasanya seperti seharian nggak minum air,”
“Ah kamu, Dul. Tadi di sekolah saja kamu sudah minum es teh manis hampir dua gelas,”
“Hehehe… Itu kan tadi, sekarang hausnya beda. Lebih haus dari yang tadi,”
“Kamu mau es cincau itu, Dul?” Sandi menawarkan.
“Ma… Maulah… Pasti, aku sudah kehausan nih, hehe…”
“Hehehe… Oke. Tapi jangan sekarang ya, Dul,”
“Lho, kenapa?” tanya Adul lemas.
“Kata Kak Nisa, minum es di siang hari tidak baik untuk kesehatan. Nanti tenggorokan kita jadi radang lho!”
“Kakakmu dokter yah? Terus minum apa dong sekarang?”
“Gimana kalau sekarang kita minum air dulu, nanti sore kamu main ke rumahku. Soalnya Kak Nisa sudah janji mau buat es krim rasa durian,”
“Wuih, pasti enak tuh. Tapi aku juga nggak punya uang buat beli air,”
“Santai kawan! Uang jajan aku masih ada kok. Ayuk!” ujar Sandi sambil merangkul pundak Adul. Adul pun menyambut rangkulan Sandi dengan senyuman. Kemudian mereka menuju sebuah warung untuk membeli air minum.
***

Sore hari tiba. Sandi menelpon ke rumah Adul. Tapi tak ada seorang pun yang mengangkat telponnya. Ia jadi cemas. Lalu kembali menelpon rumah Adul. Namun tetap saja tidak ada yang mengangkat. Ia mulai sedih karena jika sore ini Adul tidak datang ke rumah, berarti ia tidak bisa menepati janjinya.

Tiba-tiba ada yang menelpon balik. Sandi yang ada di depan telpon terkaget karena suara telpon berdering begitu nyaring. Ia pun cepat-cepat mengangkat gagang telpon.

“Halo, selamat sore!” sapa Sandi pelan.
“Halo Sandi, ini aku Adul,” jawab Adul bersemangat.
“Oh Adul, kamu bisa main ke rumah nggak? Es krim buatan Kak Nisa enak lho. Aku di rumah sering dibuatkan dan selalu minta nambah,” kata Sandi menggoda.
“Hehehe… Kamu ini bisa saja! Pasti bisa! Aku mandi dulu yah. Maaf aku baru bangun tidur, di rumah hanya aku sendiri. Ayah dan ibu belum pulang kerja,”
“Oh, pantas saja berkali-kali aku telpon enggak kamu angkat. Yasudah aku tunggu yah!”
“Oke, tiga puluh menit lagi aku sampai kok. Dadaaaa..!!” teriak Adul kemudian menutup telponnya.

Sandi meletakkan gagang telponnya seperti semula. Ia tak menyadari bahwa Kak Nisa sudah dari tadi berada di belakangnya.

“Eh, Kak Nisa!” seru Sandi terperanjat.
“Adul bisa main ke rumah kan, sayang?” tanya Kak Nisa tersenyum.
“Hehehe… Bisa, Kak! Katanya dia mau coba es krim buatan kakak,”
“Oooh, es krim duriannya sudah ada di kulkas tuh. Spesial untuk Sandi dan Adul lho,”
“Asyiik, jadi kita tinggal menikmati es krimnya ya Kak?”
“Iya adikku sayang! Kita tunggu sampai Adul datang,”

“Makasih kakakku yang cantik!” kata Sandi sambil memeluk Kak Nisa erat-erat.
Tak perlu lama-lama menunggu bel pun berbunyi. Dengan cepat-cepat Sandi membuka pintu ruang tamu. Adul yang sudah berdiri di depan pintu langsung bersalaman dengan Sandi dan tanpa malu-malu langsung bertanya,
“Mana es krim duriannya, Kawan!?”
“Yeee… Sabar dulu! Tuh di rumah ada Kak Nisa,”

Mengetahui Kak Nisa berjalan menghampiri mereka, Adul pun malu. Lalu ia cepat-cepat bersalaman dengan Kak Nisa. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Setelah itu, Kak Nisa dibantu oleh Sandi mengambilkan es krim yang ada di kulkas. Lantas membawanya ke meja ruang tamu dan dinikmati bersama-sama.

Adul benar-benar menikmati es krim rasa durian spesial buatan Kak Nisa. Sandi merasa senang bisa menepati janjinya makan es krim bersama-sama dengan Adul. Ia juga merasa bangga memiliki kakak perempuan seperti Kak Nisa yang cantik dan pandai membuat es krim.
***
Jakarta, April 2012