Yanti adalah wanita yang cukup terbuka. Ia pandai bergaul dan mengambil hati bagi siapa saja yang ingin menjadi kawan ataupun sahabatnya. Tindak dan tutur katanya sangat sopan sehingga ia disegani oleh orang-orang terdekatnya. Wajahnya selalu memancarkan senyum dengan cahaya meneduhkan. Dan keteduhan itu sangat nampak pada balutan jilbab berwarna hijau. Warna yang menjadi kesukaannya karena warna tersebut adalah warna kesukaan rasulullah setelah warna putih.

Ia kerapkali dimintai pertolongan oleh sahabatnya, baik pertolongan fisik maupun sekedar masukan nasihat. Baginya, menolong orang yang dalam kesulitan adalah ibadah. Dan kebanyakan dari orang-orang yang meminta pertolongan kepadanya berupa pendapat atau masukan tentang memilih jodoh. Bertahun-tahun ia menjadi konselor bagi orang-orang terdekatnya, namun hingga kini ia sendiri belum menemui seseorang yang benar-benar siap menjadi imam baginya.


Ia sering menitikkan air mata setiap merenungkan nasibnya seperti saat ini. Dengan duduk manis di kursi ruang tamu, ditemani Al-Qur’an yang baru saja dibacanya. Lantas ia mengingat-ingat perjalanan hidupnya secara flashback.
***


Yanti termasuk wanita yang mandiri. Sudah cukup lama ia hidup tanpa belaian kasih sayang orang tua. Walau begitu, masih ada orang yang bersedia dan mampu menggantikan peran kedua orang tuanya itu. Ia masih teringat pada insiden kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya beberapa tahun lalu. Di mana saat itu ia baru menginjak usia sebelas tahun.

“Umi! Aku ikut ya,” ujar Yanti kepada ibunya saat itu.
“Aduh, jangan sayang. Ade di rumah saja ditemani tante Ela. Ade harus bisa bermain tanpa umi dan abi. Kebetulan umi dan abi ada acara penting. Dan anak kecil tidak boleh ikut,” jawab sang ibu lantas mengecup kening Yanti.
“Ya sudah, Abi dan Umi pamit dulu. Ade jaga diri baik-baik ya. tidak boleh nakal,” sahut ayah Yanti yang akrab disapa abi itu dengan menyungging senyum.

Yanti hanya mengangguk dan berusaha sekuat mungkin menahan air matanya. Lalu tante Ela menghiburnya dengan memberikan laptop yang sudah menyala dengan sebuah game online yang siap dimainkan. Yanti dengan sigap meraih mouse dan memainkannya sembari menatap layar kaca yang nampak tipis itu.
###

Selang satu jam kemudian Yanti dan tante Ela terheran-heran mendengar suara lengkingan ambulan yang berhenti tepat di depan rumahnya. Setelah tante Ela mendekat dan menanyakan apa yang terjadi kepada sopir mobil berwarna putih itu, ternyata abi dan umi Yanti sudah tiada akibat kecelakaan yang cukup mengerikan. Mobil yang dikendarai ayahnya itu ditabrak truk kontainer yang mengangkut berton-ton tembaga.

Tante Ela sangat tersentak dan segera menelpon keluarga dan kerabat terdekatnya. Ia menggendong Yanti yang sedari tadi menangis terisak-isak sampai sesenggukan. Dan ia cukup terharu dengan kejadian saat ini. Sebenarnya ia juga ingin menitikkan air mata, namun ia tak ingin menangis di depan keponakannya yang juga menangis. Hanya kelopak matanya nampak memerah karena menahan air mata yang seharusnya tumpah. Lalu di lain waktu, ia dan suaminya pun berniat untuk mengasuh Yanti hingga dewasa seperti sekarang ini.
***

Setiap mengingat kejadian itu Yanti hanya bisa menangis. Walau sebenarnya ia tak ingin menangis, namun butiran kristal nan bening itu selalu jatuh bergantiaan dari kelopak matanya. Begitu pilu hatinya menerima sebuah kenyataan seperti itu. Dan ia begitu terharu bercampur syukur tatkala mendapati seseorang, yakni tante Ela bersama suaminya yang bersedia menjadikannya sebagai bintang kecil yang selalu bercahaya terang bagi rumah tangganya.

Ia juga sangat bahagia diasuh oleh tante Ela yang sangat baik dan tidak memanfaatkan kesempatan dengan cara mengambil harta anak yatim seperti kebanyakan orang. Ia benar-benar bangga jadi anak asuh tante Ela. Dan ia merasa tante Ela adalah ibunya sendiri, karena tante Ela selalu melayaninya tak ubahnya ibu kandungnya sendiri.

Kini, Yanti hanya hidup sendiri. Dengan menghuni rumah yang cukup mewah peninggalan orang tuanya. Dan toko busana muslim yang juga peninggalan kedua orang tuanya, yang sementara waktu dikelola oleh tante Ela juga sudah diserahkan kepadanya. Begitu amanahnya tante Ela membuat hatinya terenyuh dan ingin tetap tinggal bersamanya. Namun, tante Ela berpendapat lain, ia ingin keponakannya itu mandiri. Menciptakan keluarga kecil dan sukses dalam mengelola toko busana muslim yang cukup terkenal itu.

Yanti hanya bisa pasrah dengan niat baik dan tulus dari tantenya. Ia pun menurut saja. Dan suatu ketika ia sudah berhasil mengelola toko busana muslim dengan mengeluarkan rancangan baru jilbab-jilbab modern dan praktis. Banyak dari kalangan remaja, ibu rumah tangga hingga artis ibukota yang menyukai rancangan jilbabnya.

Sejatinya hatinya cukup bersyukur dan bahagia menjadi perancang dan pengusaha, serta menjadi konselor bagi sahabat dan orang-orang terdekatnya walaupun hanya gratisan. Namun, hanya satu yang belum membuatnya bahagia, yakni jodoh yang tak kunjung diberikan oleh Allah kepadanya. Hatinya cukup miris, merintih dan merintih. Tak ada yang mendengar rintihan hatinya kecuali dirinya dan Dzat yang menciptakan dirinya. Ia tak memiliki banyak keberanian untuk bercerita tentang derita yang dialaminya kepada orang-orang terdekatnya. 

Di antara orang-rang terdekatnya, hanya tante Ela yang sudah mengetahui permasalahannya. Akan tetapi, tanggapan tante Ela sama saja dengan nasihatnya sendiri tatkala memberikan pendapat untuk sahabat-sahabatnya yang mengalami permasalahan serupa. “Kita harus bersabar. Berusaha dengan diiringi doa. Karena jodoh, rizki dan umur seseorang itu sudah ditulis oleh Allah di Lauhul mahfudz.”

Hatinya semakin pasrah setiap teringat akan nasihat tante Ela, juga nasihatnya sendiri. Ada perasaan menyesal karena telah menolak lamaran Pak Rosyid  yang sebenarnya sampai sekarang masih mengharapkannya. Hanya saja ia tak ingin dimadu oleh lurah yang selalu bertikai dengan kedua istrinya itu. Ia tak mampu membayangkan seandainya ia dijadikan istri ketiga dan bertikai menjadi satu dengan istri-istrinya yang lain. Na’udzubillahi min dzalik, ujarnya membatin.
***

Yanti masih duduk di kursi ruang tamu sembari memegang Al-Qur’an. Tiba-tiba ia tersentak mendengar deringan telepon yang cukup melengking. Ia pun segera mengusap air mata yang tengah meleleh di pipinya, lalu mengangkat gagang telepon.

“Halo! Assalamu’alaikum,” ujar Yanti dengan suara halusnya yang khas.
Wa’alaikumsalam. Yanti, ini tante Ela,” ujar suara di seberang sana.
“Iya Tante, ada apa ya?”
“Apa kamu sudah yakin untuk menyempurnakan separo agama?”

Yanti terdiam sejenak. Ia belum mengerti apa maksud perempuan yang sudah cukup lama mengasuhnya itu. Kondisi jiwa dan hatinya belum stabil.
“Halo Ade, apa benar kamu sudah yakin untuk menyempurnakan separo agama?”
“Iy… Iya Tante,”
“Ya sudah, tante ada calon untukmu. Dia sudah S2 sama sepertimu. Juga belum pernah menikah. Sudah siap lahir batin. Ilmu agamanya tidak perlu diragukan. Hanya saja ia sudah berumur tiga puluh lima tahun. Lebih tua darimu tujuh tahun. Bagaimana?” ujar tante Ela detail.
“Benarkah Tante? Insya Allah saya siap, Tante,” kata Yanti belum percaya.
“Baik. Nanti malam tante dan om akan mengajak dia ke rumahmu. Cocok tidaknya nanti kamu tentukan setelah itu,”
“Terima kasih Tante,”
“Sama-sama. Yasudah sampai ketemu nanti malam. Assalamu’alaikum,”
Wa’alaikumsalam,”
Kini hati Yanti berbunga-bunga. Wajahnya nampak cerah diliputi senyum sumringah. Sangat berbeda dengan sebelum ia menerima telepon.
***

Ting…! Tong…! Ting…! Tong…!
Mendengar bel berbunyi Yanti pun segera menuju pintu ruang tamu. Ia nampak cantik dengan jilbab dan baju gamis berwarna hijau muda. Setelah pintu ruang tamu dibuka. Ia hanya mendapati seorang lelaki berdiri tegap dengan kemeja putih, dilengkapi peci bertengger di kepalanya.

Assalamu’alaikum. Apa benar ini rumah Mbak Yanti?” ujar lelaki berjenggot tipis itu.
Wa’alaikumsalam. Iya benar. Ada perlu apa ya?”

Lelaki itu belum sempat menjawab pertanyaan Yanti tiba-tiba tante Ela dan suaminya, om Kus, muncul di belakang lelaki itu. Sontak Yanti pun teringat janji tante Ela tadi siang. Ia bingung harus berbuat apa. Ia tertunduk.  Lelaki di hadapannya itu sungguh menyilaukan pandangannya. Ya Allah, apa benar ini calon suamiku kelak. Keindahan-Mu benar-benar Engkau tampakkan melalui sosok pria ini. Sungguh beruntungnya diriku ini jika benar ia menjadi imam bagiku, bagi anak-anakku kelak.
“Yanti, kok kita tidak dipersilahkan masuk?” seru tante Ela tersenyum.
“Owh, iya. Silakan masuk,” kata Yanti agak terbata.
***

Yanti masih belum percaya dengan kenyataan tadi malam. Kini dirinya benar-benar menjadi calon pengantin. Ia sudah dipersunting oleh Muhammad Affan, lelaki tampan yang diperkenalkan oleh tante Ela kepada dirinya. Ia pun ingin segera menikmati indahnya pernikahan. Dan pelbagai acara sudah dirembugkan bersama tadi malam. Akad nikah akan dilangsungkan di Masjid Jami’ Baitur Rahman. Dan resepsinya dilangsungkan di rumah peninggalan ayah dan ibunya yang kini ia tempati.

_*Selesai*_
Bojonegoro, Agustus 2011