Kamu, mengertilah aku
Di saat hati ini membutuhkanmu
Kamu bersikap tak acuh dan berpaling dariku
Di saat hati ini mulai memendam rasa
Kamu mengorek-ngoreknya hingga terluka
Maafkan aku…
Jangan pernah sentuh kehidupanku
Kini, aku cukup mengerti arti sebuah rasamu
Dan aku cukup tau apa maksudmu
Maafkan aku tlah menutup hatiku…
Kamu, adalah masa laluku
Dan aku adalah masa lalumu
Masa lalu sudah tentu berlalu
Dan aku, tak mau lagi bergejolak-
dengan jalan cinta yang penuh liku
Luka yang kau cipta sudah lebih dari menganga
Derai air mata kian habis tak bersisa
Apa yang masih kau harapkan dari semua itu?
Aku? Hanya menjadi mimpi burukmu
Aku tau kau kini begitu menyayangi
Namun maaf, semakin kau menyayangi-
aku semakin takkan perduli…
Masihkah kau ingat, di saat aku terlalu percaya diri-
mengungkapkan isi hati, dengan sinis kau katakan-
“jadi lelaki jangan menjual diri”
Memang benar,
Dahulu kita slalu bersama
Dahulu kita sering berbagi cerita
Dahulu kita sering bercanda, tertawa
Dahulu kita sering… dan sering…?!?
Ah itu dahulu…. apa kau paham kata ‘DAHULU’?
Biarkanlah aku berlalu darimu
Jangan tarik aku lagi ke dalam masa lalu
Lepaskan aku dari kehidupanmu
Karna ku tak ingin kau menjadi benalu-
dalam hidupku
Di Bawah Temaram Rembulan, 9 Juli 2012
Picture from Google