Sore itu, jalan beraspal dan tergenang air nampak begitu lenggang. Tak seperti hari-hari biasanya yang selalu macet oleh kendaraan dari berbagai bentuk dan jenisnya. Kini, hanya ada beberapa pengendara saja yang masih tetap konsisten menelusurinya. Termasuk aku. Dengan motor butut rakitan tahun 90-an aku berhasil ikut andil menembus sepanjang jalan yang nampak seperti sebuah danau tersebut. Meski perlahan, namun pasti. Beruntung saat itu motorku tidak mogok seperti biasanya. Alhasil, tak membutuhkan waktu lama akhirnya aku sampai juga di depan kampus.

Sembari melepas jas hujan kusempatkan diri untuk mampir di kedai kopi. Tak perlu terburu-buru untuk masuk kelas karena aku hanya mengikuti mata kuliah pada jam kedua.

“Pak! Kopi hitamnya satu ya,” seruku kepada lelaki penjaga kedai.


“Tinggal yang moca, Mas! Mau?” jawab lelaki paruh baya itu dengan menawarkan selera yang lain. Namun, aku hanya menanggapi tawarannya itu dengan gelengan kepala. Sambil mengamati rencengan minuman instan yang tergantung di sepanjang tali rapia, tiba-tiba aku tertuju pada beberapa bungkusan coklat tua.
“Itu apa, Pak?” tanyaku sambil menunjuk.
“Ini bandrek, Mas! Mau?!?
“Oh, boleh deh!” kataku singkat.

Dinginnya angin dan air hujan terlalu membuatku menggigil. Sekejap larutan bandrek pun sudah tersaji dan terhidang di hadapanku dengan gelas beralaskan marmer. Ah, marmer asli atau bukan, entahlah! Yang jelas alas itu berwarna putih kecoklatan seperti terbuat dari batu marmer pada umumnya.

Wuih! Semerbak aroma bandrek menembus lorong-lorong hidungku yang sejatinya sudah terjangkit flu. Di atasnya masih mengepulkan asap, namun aku sudah tak sabar ingin segera menyeruputnya. Sekali menyeruput aku merasa harus mengulanginya lagi. Dua kali menyeruput mulut ini semakin terasa tak ingin berhenti, dan ketiga kalinya, tiba-tiba pandanganku tertuju pada sosok gadis berkerudung merah. Kulepaskan bibirku dari bibir gelas. Aku perhatikan gadis itu, ternyata dia tengah asyik memperhatikan hujan. Tanpa basa-basi dan tanpa pikir panjang aku menyapanya.

“Ehm… Mbak! Lagi nunggu siapa?” tanyaku sambil tersenyum. Ia juga membalas senyumku.
“Lagi nunggu hujan,” jawabnya lembut.
“Masa hujan ditunggu sih, nunggu pacar yah?” tanyaku nakal.
“Hehe… Enggak kok, beneran nunggu hujan. Soalnya aku harus masuk kuliah,” jawabnya masih dalam senyum.
“Oh, ini aku ada jas hujan. Mbak mau pakai?”
“Nggak usah, Mas. Masuknya masih nanti jam kedua kok! Betewe, jangan panggil aku mbak dong! Hehe”
“Kayak tukang jamu yah? Hehe… Terus aku manggilnya apa?” tanyaku dengan nada canda.
“Hehe… Aku lebih suka dipanggil adek. Mas kenapa nggak masuk kuliah?”
“Aku masuknya juga jam kedua, tapi nggak tau kenapa rasanya males banget,”
“Lho, kok males sih Mas? Harus semangat dong!” tukasnya selalu tersenyum. “Memangnya sekarang mata kuliah apa, Mas?” sambung gadis itu penasaran. Mendengar pertanyaannya itu aku jadi ragu untuk menjawabnya. Aku lemah bila ditanya tentang mata kuliah susulan. Beberapa semester lalu aku gagal pada mata kuliah Kajian Puisi dan harus mengulang. Padahal hampir semua penduduk dunia maya tahu bahwa aku sangat gemar berpuisi. Menulis puisi, lalu menyebarkannya ke jejaring sosial fesbuk, twitter, bahkan di situs pribadi sekalipun. Sampai detik ini, aku masih tak percaya dengan nilai E dengan tanda sama dengan nol koma nol nol.

Huft! Itu beberapa semester lalu, dan kini mata kuliah yang harus aku ulang Sosiologi Sastra. Hmmm… Mengapa semuanya harus berkaitan dengan sastra. Padahal aku sangat menyukai keindahan. Ah! Memangnya aku Allah, yang tercipta indah dan menyukai keindahan. Sesekali keburukan harus kuhadapi, kenapa tidak bisa menerima? Toh pada akhirnya itu juga untuk kebaikanku semata. Ih, ini semua proses, tapi pikiranku kurang menerima jika suatu proses berujung pada hal-hal yang menyulitkan.

Apa aku terlalu sok tahu dengan sebuah mata kuliah, sampai-sampai aku harus mengulang. Atau aku memang sudah tahu dengan sebuah mata kuliah, sehingga sang dosen pun ingin memantapkan pengetahuanku itu dengan cara mengulang. Entahlah!

“Mas! Kamu hari ini mata kuliah apa?” ujar gadis itu membuyarkan pikiranku.
“Sos… Sosiologi Sastra, Dek! Mata kuliah susulan,” jawabku tergagap. “Menurut kamu Sosiologi Sastra itu apa, Dek? Lalu, mudah atau sulit?” tanyaku memberondong melanjutkan perbincangan.

“Sosiologi Sastra itu sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra, memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda daripada yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Lalu mudah atau sulitnya ilmu Sosiologi Sastra itu tergantung diri kita masing-masing, apakah menjadikan suatu pembelajaran itu sebagai beban sehingga merasa berat untuk menghadapinya, atau malah menjadikannya sebagai tantangan yang harus ditundukan dengan berbagai cara,” urai gadis berparas manis itu panjang lebar. Aku hanya manggut-manggut menyetujui argumennya.

“Lalu, apakah Sosiologi Sastra hanya dapat ditinjau dari pengarang dan karyanya saja, Dek?” tanyaku lebih ingin tahu.
“Bukan hanya itu, tetapi ditinjau dari pembaca karya sastra juga,” jelasnya lagi. “Lain kali kita bahas ini lagi ya, Mas. Sekarang sudah masuk mata kuliah jam kedua, kebetulan hujannya juga sudah reda. Ayuk kita masuk kelas!” ajaknya sambil menungguku.

Aku pun menyanggupi ajakannya. Kami bersama-sama keluar kedai. Sebelum kami berpisah ke kelas masing-masing, aku pun menyempatkan diri untuk bertanya, “Dek! Kamu suka sastra?” Ia hanya tersenyum sembari mengangguk. “Coba kamu lihat ke atas, langit terlihat gelap, bukan? Malam semakin larut nampak gelap kian berkabut. Menebalkan setiap senyum-senyum yang cemberut. Menghantarkan cuaca dingin tak ubahnya di Garut. Mewakili sepoi angin malam di Beirut. Oh begitu berlebihan, aku bukanlah sastrawan kondang. Bukan pula sastrawan yang datang lantaran diundang. Aku hanya sastrawan jadi-jadian, yang datang bertemu bidadari sosiologi sastra, yaitu kamu,”

“Hahaa… Ah mas ini bisa saja. Ternyata mas ini suka bermain sastra juga,” sergahnya sembari tertawa.
“Hehe… Sedikit, dek! Mata kuliah sastranya kan harus ngulang,” kataku polos.
“Hihi… Semangka! Semangat kakak, eh mas! Daah…!!” ujarnya sambil melambaikan tangan, lantas meninggalkanku. Aku hanya terpaku melihat ia membelakangiku. Aku masih terpaku hingga ia benar-benar telah memasuki kelas dan tenggelam oleh daun pintu.
End
Jakarta, 7 Juli 2012

Image from Google