Malam semakin larut. Jam dinding menunjuk angka sebelas tepat. Tiba saatnya untuk tarik selimut. Tapi, lain halnya dengan kebiasaan buruk dua anak muda yang baru saja lulus SMA ini. Acong dan Bagol. Mereka tidak memanfaatkan waktu malamnya untuk tarik selimut, malah menjadikan waktu untuk melepas lelah itu sebagai waktu yang penuh kemelut. Betapa tidak, mereka hanya bermain judi di warung doyong Pak Sarmin yang terletak tak jauh dari sungai. Dan tak jarang pula mereka adu mulut. Pemicunya karena salah satu di antara mereka merasa dirugikan dan kurang puas.

             “Gol, Ayo lu duluan,” seru Acong kepada Bagol.
            “Entar dulu dong. Berapa nih taruannya?” teriak teman yang lain.
            “Kita pemanasan dulu deh. Kalo gocap dulu gimana?” usul Bagol.
            “Oke,”jawab Acong singkat.
PLAAKK!


Bagol memulai sebuah permainan dengan membanting kartu lebih dulu. Diikuti Acong dan ketiga temannya yang lain secara bergantian.
Suasana hening sejenak. Masing-masing memilih dan memilah kartu yang dirasa ampuh untuk mengalahkan kartu lawan. Memang sepertinya sangat rahasia, sehingga tak boleh seorang lawan pun melihat kartu yang dipegangnya itu. Di antara mereka cenderung menutupi kartu masing-masing. Kecuali Bagol yang memang kurang paham dengan yang namanya permainan kartu. Ia pun tak jarang kalah dalam permainan itu. Dan sering pula dibodohi teman-temannya.

Permainan kartu terus berlangsung sengit. Kecerdikan dan kelicikan campur-aduk menjadi satu. Bagol nampak serius, namun ia selalu terpojokkan dengan kekalahan. Penyebabnya, karena ia tak merahasiakan kartu-kartu yang dipegangnya itu, sehingga lawan-lawannya bebas melirik dan sesekali mengintip. Apalagi Acong. Ia sangat getolmengelabui temannya sejak SMA  itu. Tiba-tiba, datang polisi dengan menggunakan mobil patroli. Tanpa basa-basi mereka pun berhamburan melarikan diri.
***

            Malam ini pukul sembilan lebih lima menit. Bagol pergi ke rumah Acong. Ia ingin mengajak Acong untuk pergi ke warung doyong Pak Sarmin. Seperti halnya malam-malam yang telah lalu. Mereka di warung itu hanya sekedar nongkrong, bermain judi, atau minum kopi, bahkan sesekali minum bir dan sejenisnya.

            Setelah sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka kembali melakukan aksi permainan nostalgia, apalagi permainan nostalgia yang mereka maksud kalau bukan berjudi. Dan ketika mereka asyik bermain judi, polisi pun kembali menggrebek mereka. Sontak mereka pun terbirit-birit berpencar menghindari sergapan para penegak hukum itu.

            “Cong, ka- kalo kita ketangkep gi- gimana?” kilah Bagol terbata-bata sembari berlari dengan tangan kiri masih memegang kartu.

            “Diam, bodoh! Yang penting kita sekarang kabur aja,” jawab Acong ketus.
Mereka berdua pun terus berlari. Berlari dan berlari, hingga ia mendapati warung ‘Tenda Biru’ milik Cak Zainal. Acong membuka baju kaosnya agar tak dikenali oleh petugas yang sedari tadi mengejarnya. Ia pun menyuruh Bagol untuk melakukan hal yang serupa. Kemudian tanpa pikir panjang mereka masuk ke warung ‘Tenda Biru’ itu. Lalu mendekati Cak Zainal yang sedang memasak nasi goreng.

            “Cak, maaf saya ada perlu sebentar dengan sampeyan. Nasinya biar si Bagol dulu yang goreng. Tenang aja, Cak. Dia ini pintar goreng nasi, kok,” kata Acong mencoba megelabui lelaki berkumis tebal itu.

Cak Zainal pun menuruti permintaan Acong. Kemudian mereka menepi. Sedangkan Bagol menggantikan posisi Cak Zainal. Ia berlagak tak ubahnya penjual nasi goreng. Di tangan kirinya masih memegang tiga buah kartu. Ia bingung harus disembunyikan di mana kartu itu. Ia pun melempar kartu-kartu itu ke dalam penggorengan, lalu ditutupinya dengan nasi hingga tak terlihat satu kartu pun.

Kemudian polisi datang masuk tenda dan menghampiri Bagol yang dianggapnya sebagai penjual nasi goreng. Bagol tetap mengaduk nasi dengan agak gerogi.

            “Mas, lihat tukang judi berlari masuk tenda ini ‘ndak?” tanya polisi itu dengan logat jawanya yang kental.

            “Owh, owh, saya nggak liat, Pak,”     jawab Bagol gugup.
           “Brengsek! Ke mana larinya cecunguk-cecunguk sialan itu,” gumam polisi pelan. Tiba-tiba aroma hangus pun menyeruak. Sontak lelaki berbadan subur itu mengalihkan pandangannya ke penggorengan.

Mas, nasi gorengnya gosong,” ujar polisi sembari menatap penggorengan.
            “Owh iya, Pak.”

Tanpa sadar Bagol mengaduk nasi yang telah mengepulkan asap yang lebih tebal itu. Dan tanpa ia sadari pula kartu yang ada di penggorengan itu terkuak. Alhasil, polisi yang masih menatap penggorengan pun mendapati kartu itu.

            “Mas, ini apa?” tanya polisi geram.
            “A.. Anu, Pak,”

Wajah Bagol pucat pasi. Pikirannya menerawang, membayangkan dirinya akan dijerat kasus dan dibui. Tanpa peduli alasan yang pasti dan tak kenal basa-basi, sang polisi lantas memborgol tangan Bagol. Sedangkan Acong sudah berhasil melarikan diri. Entah ke mana!

4/6/12
picture from Google