Tinggal menunggu waktu tiga hari lagi aku akan meraih hasil dari jerih payahku selama tiga tahun belajar di SMP Al-Qalam. Waktu tiga tahun adalah waktu belajar yang cukup lama, tetapi keberhasilannya hanya ditentukan oleh tiga hari dan hanya tiga mata pelajaran pula; Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris serta Matematika. Dengan jantung yang berdetak dag dig dug, aku senantiasa menanti hasilnya. Dalam penantianku ini aku selalu bergeming untuk menghibur diri. “Mana mungkin aku tidak lulus ujian nasional, beberapa hari sebelum dilaksanakannya ujian aku selalu belajar dan belajar. Tak ada waktu yang kubiarkan berlalu tanpa belajar. Bahkan sambil makan pun aku selalu membawa buku dan membacanya. Aku pasti lulus,” gumamku dalam hati dengan sumringah.

       Dan tibalah waktu yang senantiasa kunanti, pengumuman ujian nasional. Aku berjalan perlahan dari asrama menuju ke sekolah. Jarak antara asramaku dengan sekolah cukup dekat dan aku tak perlu repot-repot untuk berjejal naik angkot. Sesampai di sekolah, aku memasuki kelas dengan jantung yang berdegup kencang. Pak Mahidin selaku kepala sekolah pun memasuki kelas. Ia membuka pembicaraanya dengan sekelumit pesan tentang syukur dan sabar. “Jika lulus, kalian harus bersyukur. Tapi jika tidak lulus, kalian harus bersabar. Ketidaklulusan dalam ujian ini bukanlah kegagalan kalian dalam menuntut ilmu. Ingat, kegagalan adalah awal dari keberhasilan,” kira-kira begitulah pidato singkatnya yang kudengar.



       Surat pengumuman ujian telah kuterima, Dengan wajah penuh kekhawatiran aku pulang ke asrama, tanpa membuka surat yang ada di dalam amplop putih terlebih dahulu. Aku berniat untuk membuka surat di kamar asrama saja. Sesampai di asrama dan memasuki kamar, perasaanku semakin khawatir dan semakin tidak enak. Dengan bibir bergetar sembari mengucap basmalah tanganku membuka surat itu dengan perlahan. Setelah terbuka, kutemukan namaku Muhammad Qomaruddin

       Lalu kumelihat ke bawah lagi, Astaghfirullahal’adziem. Tulisan lulusnya tercoret dan nampaklah tulisan tidak lulus. Ya Allah, aku tidak lulus. Aku tercengang dalam diam. Kudapati nilai Matematika yang membuatku tidak lulus, 3,8. Aku masih terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Bibirku terasa kelu. Lidahku terasa kaku. Dan ubun-ubunku terasa ngilu bagai ditancap paku. Perasaanku begitu miris karena teriris. Tanpa kusadari air mataku pun meleleh. Tanda tangan kepala sekolah dengan tinta hitam tebal yang tertera di surat pun meleleh karena air mataku. Lalu kuremas-remas selembar kertas yang ada di tanganku itu. Begitu muak kumelihatnya. Begitu jijik kumemegangnya. Dan kulemparkan kertas yang sudah tak berbentuk itu ke luar jendela kamar.

      “Ya Allah, Hatiku berat untuk menerima kenyataan ini. Engka telah mengingkari janji-Mu sendiri. Engkau berfirman dalam kitab-Mu … Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Apakah Engkau tidak menghargai usahaku dalam belajar setiap waktu? Tak kupikirkan aku punya pakaian kotor yang belum kucuci. Tak kuperdulikan perutku yang keroncongan karena lapar. Apakah ini yang harus kuterima, Ya Allah?” pekikku dalam hati. ingin rasanya kumenjerit, tetapi apalah dayaku saat ini.

     Lalu dengan langkah gontai kumenuju ruang tamu. Kutemukan teman-teman sekamarku sedang berbincang-bincang dan tertawa-ria. Dan alangkah terkejutnya ketika mereka mengetahui bahwa aku tidak lulus dalam ujian nasional tahun ini, tahun ajaran 2005/2006. Aku merasa malu dan kata-kataku begitu sendu. Sedih, tak ada ujian susulan. Yang ada hanyalah mengulang ujian ditahun depan. Tetapi aku masih bersyukur dengan adanya teman-teman dan ustadz-ustadz asrama, mereka memberiku semangat dan dukungan yang sangat luar biasa. Mereka mau menerima kenyataan yang dihadapi anak didiknya. Tak ada sikap marah yang mereka tunjukkan. Tak ada kata-kata hujatan yang mereka utarakan. Sungguh mulia hati mereka itu sehingga mampu mengendalikan diri, tanpa ada emosi negatif yang menyelimuti diri.       
***

       Pagi berganti siang hingga sore. Dan sore pun berubah menjadi malam. Malam menjelang pagi. Tepat waktu sepertiga malam aku bangun dari tidurku. Aku berniat untuk mendirikan sholat tahajjud. Aku bergegas beranjak dari tempat tidur. Membersihkan diri dan mempersiapkan diri dengan pakaian shalat. Lalu kuraih sajadah hitam yang menggantung di pintu lemari. Setelah itu, kuhamparkan sajadah di lantai kamar. Lalu memulai shalat tahajjud dan diakhiri dengan shalat witir. 

     Usai shalat, kuberdzikir singkat untuk mengingat-Nya, Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu’akbar sebanyak tiga puluh tiga kali. Lalu kupanjatkan doa dengan menyerahkan sepenuhnya nasib kehidupanku kepada-Nya. 

       “Ya Allah Ya Ilahi, hanya kepada-Mu hamba menyembah dan memohon pertolongan. Ya Allah, pagi tadi Engkau telah memberikan keputusan dari jerih payahku selama tiga tahun belajar di bangku SMP. Dan hasilnya sangat berat untuk kuterima, tetapi aku akan berusaha untuk menerima keputusan-Mu itu. Ya Allah, setiap pagi selama kelas tiga, aku selalu piket membersihkan kelas, menyapu dan mengepelnya. Dan aku juga membersihkan kamar mandi sekolah di setiap minggunya. Ya Allah, jikalau semua yang hamba lakukan itu adalah suatu kebajikan, maka kujadikan amal kebajikan hamba itu sebagai ‘wasilah’ dalam doa hamba. Berikanlah hamba yang terbaik dan berikan kekuatan kepada hamba agar bisa menerima semua kenyataan yang ada, walaupun kenyataan itu pahit. Ya Allah, berikanlah hamba ketenangan hati, jiwa dan pikiran. Amien.” uraiku sembari menitikkan air mata dalam doa. Doa di waktu sepertiga malam seperti saat ini sangat merenggut perasaanku. Rasa tenang pun menyelimuti jiwaku.
***

       Pagi hari tiba. Matahari menampakkan dirinya dengan penuh percaya diri. Semburat cahayanya begitu terang nan indah membuatku semakin semangat untuk menghadapi hari-hari selanjutnya. Pagi ini aku dipanggil Pak Mahidin untuk segera datang ke sekolah. Lalu dengan sigap aku menuju ke kantor sekolah. Sesampai di sana, kuketuk pintu kantor sekolah. “Assalamu’alaikum.” sapaku dari luar kantor. “Wa’alaikumsalam. Silahkan masuk.” Jawab Pak Mahidin dari dalam. 

         Setelah aku masuk, dengan antusias Pak Mahidin menyambutku dengan rona wajah yang berbinar-binar, bagai ada angin kegembiraan yang baru saja menerpa wajahnya. “Ini benar-benar keajaiban. Sungguh keajaiban. Saya baru saja mendapatkan surat informasi kelulusan hasil ujian yang baru bahwa keputusan kelulusan yang kemarin tidak sah, karena kesalahan teknis, komputernya eror. Dan Alhamdulillah nilai matematikamu saat ini tercantum 8,3 bukan 3,8. Subhanallah…! Selamat, kau lulus, Qomar.” ujarnya dengan senyum lebar. Mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Mahidin aku pun langsung kaget bukan kepalang. Tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang kepala sekolah itu. “Mana mungkin pengumuman yang sudah diputuskan bisa diulang. Ah, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada yang bisa mengganggu-gugat keputusan yang ditetapkan oleh Allah.” pikirku sejenak. 

        Pak Mahidin menyodorkan selembar kertas kepadaku, lalu aku melihatnya dengan seksama. Dan ternyata apa yang dikatakannya itu benar, aku pun langsung melakukan sujud syukur di ruang kantor yang ber-AC itu. Berkali-kali kubersyukur, mengucapkan hamdalah. “Ya Allah, Alhamdulillah,  akhirnya aku lulus juga.” lirihku dengan bibir kelu. Pak Mahidin hanya terdiam menyaksikanku dengan perasaan haru. Usai bersujud-syukur, kucium tangan Pak Mahidin sambil mengucapkan terima kasih dan meminta diri untuk kembali ke asrama. Sesampai di asrama, kusampaikan angin kebahagiaan yang baru saja menghempas tubuhku ini kepada teman-temanku, juga ustadz-ustadzku. Setelah kuceritakan semuanya, mereka pun menyambutku dengan penuh syukur dan  takjub tak percaya dengan peristiwa yang baru saja kualami. Subhanallah.  

                                                                        

Jakarta, April 2010
Revisi April 2012