Pagi ini langit desa yang berada di pinggiran Cianjur nampak begitu cerah, secerah musim kemarau. Padahal saat ini masihlah musim hujan yang seharusnya menaungi desa itu. Musim hujan adalah musimnya padi dicocok-tanam, dirawat dan dipanen. Tetapi sang mentari tak kalah mengejutkan, ia menampakkan diri dengan sinar yang sangat terang nan menyilaukan. Ia seolah muncul bagaikan pahlawan kesiangan. Para penduduk begitu heboh dengan kehadiran benda ciptaan Allah yang terbit dari arah timur itu.


       Faiz duduk di surau yang terletak di sebelah kanan pekarangan, lebih tepatnya di depan rumahnya. Ia berkali-kali meneliti dengan seksama selembar kertas yang berhologram Departemen Pendidikan Nasional tanpa menghiraukan hiruk-pikuk penduduk sekitar. Ia melihat namanya yang tercantum di bagian depan atas kertas dengan penuh optimis, lalu melihat ke bawah, tulisan tidak lulus tercoret dan nampaklah tulisan lulus, bibirnya tersenyum mengembang. Lalu ia melihat ke bawah lagi, dilihatnya nilai yang membuat hatinya sangat puas. Ia kembali menyungging senyum bahagia. Bagaimana tidak, setelah selama tiga tahun bersusah payah belajar di bangku SMA, saat ini ia sudah mendapat hasil dari semua jerih payahnya itu. Ia masih dalam senyum dan terus melihat ke bawah lagi, dan ia mendapati fotonya yang terlihat tampan, walau tak setampan Bradd Pitt, suami Angelina Jolie. Tetapi juga nampak gagah, walau tak segagah sahabat Nabi, Umar bin Khattab. Baginya cukuplah yang sedang-sedang saja. Ia kembali tersenyum.


       Hatinya begitu bahagia dan tak acuh dengan semua yang terjadi di sekelilingnya. Rona wajahnya berbinar-binar. Tiba-tiba nalurinya sebagai manusia muncul. Perasaan kurang puas menyerangnya tanpa kompromi. Rasa bahagianya luntur, senyumnya terhapus dan hati yang awalnya puas tiba-tiba pupus. Ia merasa kurang dengan prestasi yang telah diraihnya, hanya sekedar lulus SMA dengan nilai yang cukup memuaskan. Pikiran dan hatinya telah menggebu-gebu, menuntut untuk melanjutkan pendidikan. Pendidikan jenjang strata satu. Ia harus kuliah, tapi kuliah di mana? Kalaupun sudah mendapat tempat kuliah yang dituju, biayanya dari mana? Hatinya mulai gundah. Wajahnya terperangah.

       Tiba-tiba ia teringat akan firman Allah dalam surat Yusuf yang berbunyi “…sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” Sejalan dengan ingatannya itu pikirannya menimbang-nimbang. Gejolak nalurinya mulai tersalurkan. “Jangan berputus asa Faiz, cita-citamu masih jauh, harapanmu masih terhampar luas bak kekayaan alam negerimu, Indonesia. Bukankah kau biaya sekolah dari SD hingga SMP hanya mengandalkan dari beasiswa. Beasiswa yang menghantarkanmu menggugurkan hukum belajar di negaramu, hukum wajib belajar sembilan tahun. Ayo Faiz, ketidakmampuan orang tuamu dalam hal materi bukanlah menjadi penghambat untuk kesuksesanmu, jadikanlah semua itu sebagai penggugah jiwamu,” sisi hatinya yang lain menderu-deru mendukungnya. Ia semakin optimis.

       Jiwanya yang bertaburkan bumbu-bumbu semangat telah menetapkan keyakinannya untuk merantau, demi melanjutkan pendidikannya. Dan ia memutuskan untuk merantau ke kota Jakarta. Kota metropolitan yang berstatus sebagai Ibu Kota negaranya itu. Sejurus kemudian, ia bergegas masuk ke rumah. Ia ingin membicarakan semua keputusannya itu bersama ayah dan ibunya.

       Ia berlari masuk rumah dan mendapati ayahnya sedang asyik duduk di ruang tamu sembari menonton tv yang warna layarnya hitam putih. Dan kebetulan di sana juga ada ibunya yang menemani ayahnya. Nampaknya mereka membicarakan sesuatu. Namun entah apa yang mereka bicarakan. Faiz meletakkan kertas yang sempat membuatnya bahagia nan puas itu di atas meja. Lalu ia menghampiri kedua orang tuanya. Ia menduduki kursi dekat ibunya.

       “Sudah sarapan, Iz?” Ibunya menyambutnya dengan sebuah pertanyaan.
       “Sudah, Bu.” Jawabnya polos. Ayahnya hanya memandanginya dengan perasaan heran.
       “Sepertinya kau kurang semangat. Padahal baru saja lulus sekolah dan mendapatkan nilai yang membanggakan ayah. Kau kenapa, Iz? Ada masalah?” sahut ayahnya.
       “Ada sedikit, Yah. Aku belum puas dengan semua hasil belajarku itu. Aku ingin melanjutkan kuliah. Aku ingin menjadi guru yang berpengaruh bagi pendidikan di tanah airku ini serta minimal menyandang gelar S.Pd. Dan aku sangat berniat untuk kuliah di Jakarta. Itu pun kalau Ayah dan Ibu merestui niatku.” Urai Faiz.
       “Ooowh. Itu masalahnya. Kau ingin kuliah di mana, Iz? Kami tidak punya uang cukup untuk biaya kuliahmu. Ini saja sudah alhamdulillah, Kau sekolah dari SD sampai SMA dapat beasiswa dari Pak Anton. Kalau sekarang siapa yang akan membiayai kuliahmu? Pak Anton kan sudah meninggal. Ayah tidak bermaksud meragukan pertolongan Allah. Toh, Allah itu sudah pasti menolong hamba-Nya yang memerlukan pertolongan, tentunya dibarengi dengan usaha. Kalau kau memang yakin itu baik untuk masa depanmu, ayah dan ibu sebagai orang tua pasti merestuinya. Iya kan, Bu. Tapi ingat, selalu doakan Pak Anton. Kita banyak berhutang budi padanya.” Jawab ayahnya dengan penuh wibawa. Ibunya menganggukkan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
       “Iya, Ayah, Ibu. Niat Faiz baik. Faiz yakin Allah akan menolong Faiz. Allah-lah yang menguasai desa kita. Allah juga yang menguasai Jakarta. Begitupun alam semesta. Faiz juga yakin kalau ayah dan ibu memang merestui Faiz untuk mengikuti keputusan Faiz, maka Allah pun merestui keputusan Faiz.” Kilahnya dengan wajah berbinar-binar. Sepertinya ada angin kebahagiaan yang baru saja menerpa wajahnya.
       “Owh ya, Iz. Ayah ada teman di Jakarta. Saat ini ia ngajar sebagai dosen di Universitas Indraprasta PGRI. Kalau tidak salah di Fakultas Bahasa dan Seni. Dia teman ayah sejak kecil. Orangnya sangat baik  pada siapa pun. Ayah masih ada kartu namanya, nanti sekalian kau bawa. Hitung-hitung buat jaga-jaga.” Ujar ayahnya memberikan saran.
       “Baik, Yah. Terima kasih.”                                      
       “Ya sudah. Kapan Kau akan berangkat ke Jakarta, Nak?” tanya ibunya sambil mengelus kepalanya.
       “Secepatnya, Bu. Kalau bisa besok pagi. Mumpung pendaftaran Perguruan Tinggi masih dibuka.”
       “Kau sepertinya semangat sekali, Iz. Doa kami selalu menyertaimu. Mudah-mudahan Allah selalu menunjukkan jalan yang benar kepadamu dan membimbingmu dalam belajarmu.” Sambung ayahnya dengan sekelumit doa. Mata ibunya mulai berkaca-kaca. Dengan perlahan air matanya pun meleleh tanpa sepengetahuan Faiz.
       “Amin Ya Allah.” Gumam Faiz dan ibunya hampir bersamaan.
***

       Esok harinya. Faiz baru selesai mandi. Hari masuk waktu dzuha. Pukul setengah delapan pagi. Dengan cekatan ia mengambil air wudhu. Lalu mendirikan sholat dzuha di surau. Setelah itu ia bergegas ke kamar, menghampiri lemari kecilnya. Dan diambilnya cẻlẻngan model ayam yang jika diangkat lumayan berat. Ia pecahkan cẻlẻngan itu, setelah pecah belah ia mencoba menghitung uang logam demi logam, lembar demi lembar. Dan akhirnya, ia jumlahkan uang tabungannya itu. “Alhamdulillah, lebih dari cukup untuk bekal di Jakarta.” Gumamnya dalam hati. Lalu ia mengamankan uang-uang itu ke dalam kantong plastik hitam, menyimpannya ke dalam ranselnya yang masih setia menemaninya sejak kelas satu SMP. Jadi hingga kini, usia tas itu kira-kira enam tahun lebih. Kemudian ia melanjutkan aktifitasnya dengan sarapan.

       Lalu ia mempersiapkan diri. Mengemas sedikit pakaiannya dan beberapa barang-barang yang dirasa penting untuk persyaratan daftar di Perguruan Tinggi. Ia berencana berangkat pukul sembilan pagi. Setelah segalanya dirasa sudah siap, ia bergegas ke ruang tamu. Ternyata ayah dan ibunya sudah menunggu. Sesekali ia melirik jam yang menggantung di dinding ruangan itu, jarum jam menunjuk angka sembilan kurang lima belas menit.

       “Bagaimana, Nak. Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya ibunya mengawali pembicaraan.
       “Alhamdulillah semakin yakin dan mantap, Bu. Faiz sudah siap untuk meluncur ke terminal Rawabango.” Ujar Faiz dengan semangat menggelora. Ayah dan ibunya pun tersenyum. Mereka bangga dengan anak bungsunya yang penuh optimis dan tanpa kenal lelah dalam mengejar cita-cita.
       “Ayah, Ibu, Faiz pamit dulu. Mohon doanya. Assalamu’alaikum.” Seru Faiz meminta diri.
      “Wa’alaikumsalam. Eh! sebentar, Nak. Ini ada sedikit uang, tolong Kau pergunakan dengan sebaik-baiknya. Jangan lupa shalat dan makan. Belajar yang rajin supaya kamu bisa meraih apa yang menjadi cita-citamu.” Pesan ibunya dengan bibir yang begitu kelu. Lalu ia mencium kening anak harapannya itu.
       Usai bersalaman mencium punggung tangan kedua orang tuanya itu, Faiz keluar rumah seraya berseru salam. Lalu ayah dan ibunya pun ikut keluar rumah untuk memperhatikan anaknya itu hingga hilang di kejauhan.

       Setelah sampai di terminal Rawabango, Faiz langsung berjejal naik bus antar kota “Doa Ibu”, kelas ekonomi. Ia sengaja memilih bus kelas ekonomi untuk menghemat ongkos. Perjalanan antara Cianjur menuju Jakarta memakan waktu kurang lebih empat jam. Baginya perjalanan itu lumayan melelahkan. Bus itu melaju dengan kecepatan sedang. Melewati Puncak, Ciawi lalu menyusuri jalan tol Jagorawi. Tanpa disadari bus itu pun sampai di terminal Kampung Rambutan. Ia turun dari bus, lalu keluar terminal. Ia menanyakan alamat bapak Maman Khoirul Iman yang tertera di kartu nama dari ayahnya itu. Ia bertanya dari orang satu ke orang yang lain. Setelah mendapat informasi tentang rute jalan menuju daerah alamat itu, ia langsung meninggalkan terminal Kampung Rambutan dengan menaiki bus Metromini 53 arah terminal Kampung Melayu. Jarak antara kedua terminal itu cukup jauh, tetapi untuk menuju alamat teman ayahnya itu Faiz tak perlu berhenti di Kampung Melayu. Ia cukup berhenti di jalan Otto Iskandardinata, orang Jakarta biasa menyebutnya dengan Otista. Sesampai di Otista, Faiz mencari alamat itu di jalan Cipinang Cempedak I No. 14 Polonia.

       Ia kembali bertanya lagi kepada tukang ojek. Setelah paham dengan maksud jawaban tukang ojek itu, ia menelusuri sepanjang jalan Cipinang Cempedak I, di tengah perjalanan ia menemukan bangunan gedung semacam kantor yang bernomor 14. Kebetulan ia mendapati pintu gerbang yang terbuka lebar, lalu ia mencoba masuk dan menyerukan salam. Di halaman kantor tampak sepi, tak ada siapa pun yang bercokol di sana, tak ada satu orang pun yang menjawab salamnya. Yang ada hanyalah pelataran taman yang tumbuh beberapa bunga dahlia nan indah.

       Ia meneruskan perjalanannya. Lalu mengalihkan pandangan ke sebuah ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca tebal, dan tampaklah seseorang, mungkin dia adalah resepsionis yang sedang berjaga-jaga. Setelah sampai di depan ruangan itu Faiz mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Setelah pintu terbuka, ia menarik napas dalam-dalam, hidungnya merasakan sejuknya udara AC bercampur harumnya aroma-terapi jeruk lemon. Aroma-terapi khas Stella.

       “Silahkan masuk.” Kata resepsionis mempersilahkan.
       “Terima kasih.” Jawab Faiz sambil melangkahkan kaki.
Sang resepsionis menutup pintu kembali seperti semula, lalu mempersilahkan Faiz untuk duduk.
       “Maaf. Saya mau tanya. Apa benar ini alamat bapak Maman Khoirul Iman. M.Pd. Salah satu dosen yang mengajar di Unindra?” tanya Faiz sopan dengan menyingkat nama perguruan tinggi Universitas Indraprasta.
       “Owh,ya, benar. Tapi ini alamat kantornya. Anda siapa dan dari mana?” sang resepsionis balik tanya.
Faiz pun menceritakan perihal tujuannya datang ke Jakarta dan menceritakan hubungan baik antara ayahnya dengan Pak Maman.
       “Sebentar, saya panggilkan orangnya dulu, supaya Anda bisa bertemu langsung dengannya.” Kata sang resepsionis seraya menekan barisan tombol telepon secara acak.
Tak ada tiga menit lamanya sang resepsionis memanggil Pak Maman melalui telpon, tetapi orang yang Faiz maksud itu sudah menyapa dirinya. Sungguh benar-benar orang yang memuliakan tamu.

       Setelah mengobrol panjang lebar hingga pembahasan tentang ujian nasional yang baru beberapa minggu ia lewati, ia dipersilahkan untuk tinggal satu atap bersama Pak Maman. Sepertinya mereka semakin akrab saja, apalagi setelah Pak Maman tahu kalau Faiz tergolong anak yang baik dan cerdas. Dengan senang hati Pak Maman memberikan kemudahan kepadanya untuk bisa kuliah di Unindra, tentunya harus tetap melalui tes masuk. Kalau pun Pak Maman bisa memberikan kemudahan tanpa tes masuk, Faiz tidak akan mau mengikutinya. Ia lebih suka kesuksesan yang melalui proses. Baginya, kesuksesan adalah sebuah pencapaian. Pencapaian yang diiringi dengan semangat dan jerih payah dalam menghadapi berbagai tantangan demi tantangan.

       “Barang siapa yang tinggal di suatu tempat, maka ia harus mengikuti segala aturan yang berlaku di tempat tersebut.” Mungkin kata-kata bijak ini sangat berlaku bagi kehidupan Faiz sekarang. Sudah beberapa hari ini ia tinggal bersama Pak Maman dan sudah sepatutnyalah ia mengikuti aturan-aturan yang diterapkan oleh teman ayahnya ketika kecil itu.
       Ia ditugaskan untuk bertanggung jawab atas kebersihan kantor SMP Integral Nurul Qalam; tempat Pak Maman mengajar. Dan Pak Maman juga merangkap jabatan sebagai Wakil Kepala sekolah di SMP yang berbasis tauhid tersebut.
***

       Satu dua bulan waktu berjalan. Faiz dengan telaten dan sabar serta bercampur bumbu-bumbu keikhlasan mengerjakan segala yang diamanahkan oleh Pak Maman dengan lancar. Walau sering muncul rasa capai yang tiada disangka dan rasa letih yang tiada tara. Tetapi ia selalu berusaha menjaga dirinya agar tetap sehat nan bugar, salah satunya dengan mengkonsumsi obat-obatan herbal; Sari Kurma dan Habbatussauda’ yang terbuat dari jintan hitam. Seringkali dalam aktifitasnya ia teringat akan sabda Nabi yang berbunyi, “Akal yang sehat terletak pada jiwa yang sehat”.

       Pagi masih gulita, pukul lima lebih dua menit. Usai shalat subuh. Seperti biasa Faiz membersihkan kantor SMP Integral Nurul Qalam. Dari kebersihan lantainya, kaca jendelanya, piring dan gelasnya serta meja-meja yang di atasnya terdapat buku atau koran yang berserakan. Setelah segalanya sudah beres hingga pukul enam lebih tiga puluh menit, ia mandi pagi lalu standby di kantor SMP tersebut. Ia standby untuk melayani keperluan kantor, mulai dari keperluan foto copy hingga kebutuhan konsumsi guru-guru.

Suatu ketika ia membuat teh untuk guru-guru, lalu  ada seorang siswa bernama Juliansyah menyelinap masuk kantor dan menghampirinya sembari berseloroh.
       “Kak Faiz! Kakak mau aja disuruh-suruh terus.”
       “Memangnya siapa yang nyuruh aku?” tanya Faiz menimpali.
       “Yaa, orang-orang di sini. Buktinya Kakak disuruh foto kopi lah, beli gorengan lah, buatkan mereka teh lah, membersihkan kantor, nyapu, ngepel. Kenapa Kakak mau? Kakak pembantu?” Juliansyah balik tanya dengan nada memvonis. Faiz merasa kesal dan ingin memarahi anak SMP itu sejadi-jadinya. Tapi, buat apa ia marah kepada anak yang belum mengetahui permasalahannya. Lalu ia mencoba mendongak dengan kepala dingin. Mencoba menjelaskan dengan bahasa yang kira-kira mudah dipahami oleh anak seperti Juliansyah.
       “Hmm… Itu keinginanku saja, Juli. Daripada setiap pagi aku diam saja tidak ada kegiatan apa-apa. Merenungi nasib yang tak jelas. Lebih baik aku mengisi kegiatan seperti ini, bermanfaat untuk orang lain. Lain lagi kalau waktu sore sampai malam hari, aku kuliah.” Kata Faiz mencoba beralasan.
       “Ah, Kak Faiz bisa aja. Kak Faiz pembantu, kan.” Cetusnya lagi mengulang.
       “Juli! ingat ya. Aku bukan pembantu. Paham! Ya sudah, sekarang kau masuk kelas saja, siswa dilarang masuk kantor tanpa ada kepentingan.” Ujar Faiz sambil memberi isyarat kepada Juliansyah untuk keluar.

       Lalu Faiz kembali mengakrabi gelas-gelas yang berisi teh. Di masukkannya gula satu sendok sampai dua sendok dan mengkucurkan air dispenser yang berlampu merah, warm. Lalu diadukknya kembali hingga gula itu benar-benar larut.  

       Dengan tenang Faiz menyuguhkan beberapa gelas teh kepada guru-guru yang sedang bercengkerama. Kebetulan di situ juga ada Pak Maman. Dalam hati ia bergumam bangga sambil memperhatikan Faiz. Ia begitu bersyukur dengan kehadiran Faiz. Dengan kehadiran remaja berambut ikal itu sebagian pekerjaan SMP menjadi tertangani, bahkan apa yang dikerjakan oleh anak temannya itu terkesan istimewa bagi seluruh staff kantor SMP Nurul Qalam. Dan ia sering mendengar cerita-cerita dari beberapa guru yang condong ke sisi positif Faiz, nyaris tak ada cela sedikit pun  pada diri remaja berdarah sunda itu. Dalam rasa bangganya, diam-diam Pak Maman mempunyai rencana tersendiri untuk masa depan Faiz. Rencananya adalah, ia akan meminta kesediaan Faiz untuk mempersunting putrinya yang bernama Afirah. Saat ini putrinya itu sedang kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Menurutnya, semakin lengkap sudah kebahagiaanya bila Faiz bersedia melamar serta menikahi putri satu-satunya itu. Dan dia akan menjadi bẻsan dengan teman semasa kecilnya dulu, Pak Saiful, ayah Faiz.

       Hari ini hari rabu. Hari yang dinanti-nanti oleh para calon mahasiswa Unindra, yaitu hari pengumuman kelulusan tes, diterima tidaknya calon mahasiswa yang akan menempuh jenjang strata satu di Unindra. Pada hari itu suasana di lobi Unindra penuh sesak dengan mahasiswa dari berbagai macam daerah dan etnis, bahkan ada yang dari luar negeri. Faiz menuju papan pengumuman, lalu dengan teliti ia mengamati nama peserta satu persatu, dari atas ke bawah, dari samping kiri ke samping kanan. Ia tak menemukan namanya. Ternyata ia salah papan pengumuman, itu papan pengumuman khusus calon mahasiswa yang akan mengambil jurusan Fakultas Matematika dan IPA. Lalu ia mencari papan pengumuman Fakultas Bahasa dan Seni. Selanjutnya ia mencari bagian Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia kembali mengamati nama calon mahasiswa yang diterima satu persatu. Akhirnya, ia menemukan namanya pada nomor urut ke 235, Faiz Mushaffa. Ia begitu bahagia. Berkali-kali bibirnya mengatup membaca hamdalah. “Alhamdulillah, aku diterima di perguruan tinggi.” ucapnya nyaring tanpa basa-basi.

       Kemudian ia berencana mencari teman. “Hitung-hitung menjalin silaturrahim.” Pikirnya. Dan dilihatnya sebelah pintu masuk kampus utama. Di sana tampak mahasiswa berambut gondrong dan berkulit legam. Lalu tanpa pikir panjang ia menghampiri mahasiswa yang menyendiri itu.

       “Mas, kenapa bengong. Perkenalkan namaku Faiz.” Cecarnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman.
       “Owh.. lagi BT aja nih. Nama guẻ David.” Kata mahasiswa itu dengan antusias menyambut Faiz.
       “BT kenapa?”
       “Janjian sama temen, tapi dia-nya malah nggak nongol-nongol. Boy, Lu pasti muslim, ya?” tanya David dengan bahasa khas anak muda Jakarta itu, sepertinya ia sudah cukup lama berdiam di Jakarta.
       “Iya, memangnya kenapa?”
       “Nggak kenapa-kenapa sih. Guẻ ini udah sebulan yang lalu mu’allaf, tapi belum bisa shalat. Padahal guẻ pẻngẻn banget jadi muslim sejati yang taat dengan agamanya. Lu bisa ajarin guẻ sholat nggak? Tolong guẻ, Boy. Udah lama batin guẻ tertekan karena ini.”

       “Insya Allah aku siap menolongmu untuk mengajarimu tata cara shalat. Tapi kita tentukan waktunya dulu. Ini ada nomer telpon rumah pamanku. Kalau Kau butuh bantuan denganku, coba Kau hubungi aku ke nomer itu saja. Insya Allah aku yang akan menerima telponmu dan siap membantumu.” Kata Faiz mantap sambil mengulurkan secarik kertas yang bertuliskan nomor telpon sembari menyungging senyum.

Dalam perbincangan kecil itu, ternyata mahasiswa yang bernama David sudah semester dua. Lalu Faiz meminta diri untuk pulang menemui Pak Maman. Hari ini ia sangat bahagia. Ia akan berterima kasih kepada Pak Maman yang telah bersedia membantunya dan selalu mengarahkannya sehingga ia bisa masuk di Perguruan Tinggi. Ia pun tak lupa untuk memberi kabar gembira itu kepada kedua orang tua tercintanya yang ada di kampung halaman.

Jakarta, Oktober 2010