Suasana di kampus sore itu cukup ramai. Banyak mahasiswa berlalu-lalang mencari kelas masing-masing. Ada yang membawa setumpuk buku tebal, ada pula yang hanya menjinjing tas. Berbagai macam bentuk dari rona wajah mereka, ada yang ceria bercanda sesama temannya, ada pula yang murung seolah tak ada angin kegembiraan yang menerpa dirinya. Setelah sampai pada kelas masing-masing, beberapa di antara mereka sibuk mempersiapkan bahan presentasi yang akan di presentasikan hari itu juga. Maklum, sebagian besar mahasiswa reguler sore itu banyak yang sudah bekerja dan berkeluarga, sehingga hanya memiliki sedikit waktu luang untuk mengerjakan tugas presentasi tersebut di rumah. Tetapi sebagian kecil dari mereka adalah mahasiswa yang baru saja lulus dari tingkat SMA. Beberapa di antaranya; Fajar, Subhan, Fauzi, Irfan, Sulis, Hani, Nurul dan masih banyak yang lainnya.


       Fajar duduk di bangku sambil membolak-balikkan bukunya. Sepertinya ia menantikan kedatangan seseorang. Benar, ia menantikan kedatangan Sulis, yang mana hari ini mereka berdua adalah satu kelompok dalam presentasi mata kuliah Berbicara. Ia menantikan kedatangan Sulis dengan mimik wajah harap-harap cemas. Ia berharap makalah yang akan dipresentasikan sudah rampung diketik oleh Sulis. Dan ia sangat cemas kalau seandainya Sulis belum mengerjakan sedikitpun dari makalah yang akan dibahasnya itu.

       Kali ini yang akan mereka presentasikan yaitu tentang Gaya dan Nada Tuturan. Tak lama kemudian Sulis pun datang. Ia langsung menuju bangku di mana tempat Fajar duduk.
       “Assalamu’alaikum. Mas Fajar, maaf telat. Aku baru saja selesai makan dengan teman-teman di kantin. Sudah lama menunggu, ya?” kata Sulis mengawali pembicaraan.
       “Wa’alaikumsalam. Tak apa, Lis. Bagaimana makalahnya, sudah kamu ketik?” tanya Fajar menyela pertanyaan Sulis.
       “Tenang dulu, Mas. Jangan gugup gitu. Alhamdulillah sudah selesai semua. Nanti kita tinggal presentasikan. Sekarang dosennya belum datang, jadi Mas bisa baca-baca dulu. Ini!.” Kilah Sulis sembari menyodorkan makalah yang ada di tangannya.
       “Oke.” kata Fajar sambil membuka makalahnya.
       Fajar membaca makalah yang saat ini ada di tangannya. Yaitu makalah yang dijilid bersampul plastik warna biru langit. Sedangkan Sulis hanya duduk di sebelahnya. Fajar mengamati makalah yang dikerjakan Sulis lembar demi lembar itu. Benar-benar sempurna. Jarak ketikan spasi pun tak ada yang salah. Hatinya begitu tenang dan puas dengan hasil pekerjaan Sulis. Sebenarnya bukan hanya itu yang menyebabkan hatinya tenang dan puas, penyebabnya yang lain yaitu karena ada cinta yang sedang bercokol di hatinya untuk wanita yang sekarang berada di sebelahnya itu. Ia pun berusaha untuk menguasai diri agar tidak salah tingkah.

       Setelah selesai membaca dan mengamati, Fajar mengembalikan makalah itu kepada Sulis. Dengan menyungging senyum Sulis pun meminta diri untuk pergi duduk di bangku yang paling depan. Dengan hati yang berdesir Fajar mengizinkan dan juga membalas senyum manis wanita berdarah sunda itu.

       Lima menit kemudian datanglah teman-teman akrab Fajar. Mereka saling salaman dan tanya kabar. Dan belum sempat duduk di kursi, mereka sudah mulai mengumbar kata-kata candanya. Kali ini Fajar tampak begitu riang. Teman-temannya pun serupa. Mereka tertawa saling mencela yang akhirnya menjadi bahan tertawaan di antara mereka. Sesekali mereka terbahak tersengal-sengal, begitu berat untuk bernapas. Tetapi mereka tetap saja terbuai dengan gelak tawa. Hingga akhirnya Fajar tertunduk tersipu, karena temannya yang bernama Subhan meluncurkan gosip baru padanya.
       “Ada seseorang yang ditaksir Fajar, nih.” celetuk Subhan.
       “Owh ya, siapa orang itu?” tanya Fauzi ingin tahu.
       “Anak sekelas kita juga, Han?” sahut Irfan dengan pertanyaannya yang melengking.
       “Iya, anak kelas kita juga. Tuh orangnya.” kata Subhan lagi sambil menunjuk gadis berkudung merah yang berada di bangku barisan depan sebelah kiri.
       “Oooowh…. Yang itu toh. Tenang, Jar. Nanti aku salamin.” ujar Fauzi dengan nada agak keras.

       Fajar hanya terdiam. Sebenarnya ia tidak mengerti dengan apa yang digosipkan oleh teman-temannya itu. Saat ini ia benar-benar berhenti tertawa. Cukup tersenyum. Ia mendengus sekilas menatap teman-temannya itu dengan tatapan kosong. Sesekali ia mendongakkan kepala untuk melihat wanita yang dimaksud oleh Subhan. “Ah, walau berkerudung auranya biasa saja, tidak masuk kriteria dalam pencarian cintaku.” Gumamnya dalam hati.
       “Serius nggak, Jar. Mau disalamin sama Fauzi tuh! Atau aku saja yang sampaikan salam kamu? Sekalian aku mintakan nomer hape-nya. Oke.” ujar Subhan kembali menyahut.
       “Serius apa’an, sih? Aku nggak tau permasalahannya. Memangnya dia siapa? Teman pindahan? Atau kelas terbang? Kok aku baru lihat dia sekarang.” urai Fajar kesal bercampur sewot.
       “Iya, dia memang kelas terbang.” Irfan kembali mengeluarkan kata-katanya. Fajar diam dan kembali menatap teman-temannya dengan tatapan kosong. Lalu menatap ke bangku barisan paling depan kanan. Dilihatnya wanita yang berkerudung cokelat sedang bercengkerama-ria dengan teman-temannya di sana. Siapa lagi yang membuat hati dan jiwanya terpesona sejak awal masuk kuliah kalau bukan Sulis. Hatinya pun kembali bergumam. “Sebenarnya aku lebih berharap digosipkan dengan Sulis, bukan dengan wanita yang baru saja tampak batang hidungnya itu.”

       Baginya Sulis begitu anggun dan sopan. Setiap senyum yang terpancar dari bibirnya, seolah ada bunga mawar yang sedang merekah di hati Fajar. Ketenangan dan ketentraman sedang bertandang di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia pun ikut tersenyum bahagia. Seringkali dalam belajarnya ia tak memperhatikan penjelasan dosen. Ia lebih fokus memperhatikan gerak-gerik Sulis. Untung saja sang dosen tidak pernah memergoki sebenarnya perasaan apa yang mulai hidup di hatinya itu. Memang ia sering berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia cukup mengagumi Sulis sebagai makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Tetapi rasa kagumnya itu tergolong berlebihan. Memang benar Sulis adalah sosok wanita yang nyaris sempurna di kelasnya saat itu. Kesempurnaannya disebabkan karena ramahnya sifat dan sikap Sulis kepada siapa pun. Entah kepada orang yang lebih tua darinya, yang sebaya dengannya, dan yang lebih muda darinya. Bahkan kepada orang yang iri pada dirinya sekalipun.
       “Hey, Fajar. Kau serius nggak naksir sama dia?” seruan Subhan menyadarkan Fajar dari lamunannya. Ia pun tergopoh-gopoh.
       “Apa’an sih. Memangnya Kau bisa lihat hatiku kalau aku naksir sama dia? Apa jangan-jangan kamu peramal? Ya, Sepertinya kamu memang peramal. Dasar keponakannya Dedy Corbuzer.” ketus Fajar mencoba mencela temannya kembali. Teman-teman di sekelilingnya pun kembali terbahak.
       “Yee… Untuk saat ini aku nggak bercanda. Kalau kamu serius. Aku pun serius membantumu. Aku mintakan nomer hape-nya.” Subhan kembali sok setia-kawan.
       “Ya sudah sana kalau berani, sampaikan salamku dan mintakan aku nomer hape-nya.” Fajar tanpa sadar asal bicara. Mula-mula ia hanya menguji keberanian temannya yang sok setia-kawan itu. Eh, ternyata temannya yang satu itu benar-benar berani dan nekad.
Subhan menuju tempat duduk ketua kelas. Lalu meminta daftar absen mahasiswa yang kuliah saat itu. Ia menanyakan nama wanita berjilbab merah kepada ketua kelas. “Namanya adalah Sofia Alhaqqunnisa’.” kata sang ketua kelas. Kemudian Subhan menghampiri wanita berjilbab merah yang bernama Sofia itu.
       “Mbak Sofia, maaf Mbak dapat salam dari temanku. Boleh minta nomer hape-nya, nggak?” kata subhan dengan rasa percaya diri yang menggebu dan suaranya nyaring pula. Dan sudah barang tentu seluruh mahasiswa yang berada di dalam kelas pun mengalihkan perhatian kepada dirinya.
       “Owh.. Maaf juga ya, Mas. Aku rasa semua itu nggak penting, deh.” jawab Sofia dingin tanpa senyum.
       Mendengar jawaban Sofia yang tidak ada keramahannya sedikit pun itu, seketika wajah Subhan memerah. Benalu-benalu perasaan malu telah menempel di seluruh wajahnya. Teman-teman sekelas menyorakinya. Ia tampak lesu dan kembali ke tempat duduknya dengan wajah tertunduk.
       “Lah, kok bisa jadi begini, sih!” seru  Irfan.
       “Aku juga nggak tau, Fan. Benar-benar nggak habis pikir,” jawab Subhan singkat.
       “Makannya, Kau jangan terlalu positif thinking pada semua wanita yang berkudung. Tak semua wanita yang berkudung itu bersifat seperti Sulis. Eh, bersifat seperti wanita-wanita yang benar-benar salihah.” urai Fajar keceplosan menyebut nama wanita yang diidam-idamkannya itu.
      “Waaah… Ternyata kamu naksirnya sama Sulis ya, Jar?” kilah Subhan kembali tersenyum-senyum.
      “Iya, tapi awas. Kamu jangan sampai bertindak kepadanya seperti tindakanmu pada Sofia tadi. Karena menurutku Sulis itu orangnya sangat lain dengan wanita-wanita yang lain. Mengerti?” kata Fajar mengancam.
      “Iya, cukup kali ini saja-lah. Sebagai pelajaran atas kecerobohanku.” aku Subhan.
      “Bagus! Okelah kalau beg- beg- begitu.” Kilah Fajar menirukan bait lagu yang dipopulerkan oleh grup band “Warteg Boys”. Suasana tegang pun kembali riuh. Dan sekejap hening saat dosen memasuki kelas, Bu Maguna,  memasuki kelas sembari berseru salam.
     “Wa’alikumsalam warohmatullahi wabarokaatuh!” jawab seluruh mahasiswa serempak. Walau di kelas itu ada beberapa mahasiswa non-muslim, tetapi tetap ikut andil dalam menjawab salam sang dosen.

     Tanpa basa-basi Bu Maguna langsung menyinggung sedikit mengenai tugas presentasi. Fajar dan Sulis yang kebetulan menjadi kelompok pertama, bergegas ke depan. Seharusnya dalam satu kelompok ada tiga peserta. Namun, peserta yang satunya, Ulfa, tidak masuk kuliah karena sakit. Jadi, mau tidak mau Fajar harus presentasi berdua dengan Sulis.
Dengan jantung yang berdetak kencang Fajar memulai prsesentasinya dengan salam, lalu dilanjutkan dengan sedikit humor untuk melenturkan urat sarafnya yang agak tegang karena berada di sebelah wanita yang dicintainya. Ia mencoba menguasai diri. Lalu dilanjutkan dengan materi inti. Ia berlagak layaknya seorang guru. Sulis yang ada di sebelah kirinya tampak diam, takzim. Sesekali teman-temannya bertepuk tangan menyoraki.

      Kemudian sesi pertanyaan. Setiap sesi ada tiga orang penanya. Dan setiap pertanyaan dijawab berdua secara bergantian. Bila ada yang kurang, salah satu dari mereka menutupi kekurangannya itu. Kerjasama yang baik, cukup sempurna. Teman-temannya kembali bertepuk tangan. Saat ini Fajar benar-benar menyadari bahwa ia bersanding dengan gadis pujaannya. Sekilas ia menatap wajah sulis. Dan ditemukannya senyum manis nan anggun yang terpancar dari sana. Senyuman gadis kalem itu pun dianggapnya cahaya. Ia merasa ada sesuatu di hatinya yang tersita karena cahaya itu. Ia pun tak bisa menampik bahwa semua yang mampu dilakukan itu karena kekuatan cinta.  “Cinta itu ekspresi. Dan baik buruknya ekspresi cinta tergantung dari pelaku cinta itu sendiri. Bila sang pelaku mampu menghargai cinta, maka ia akan berekspresi positif. Begitu pun sebaliknya.” begitulah untaian dari sahabatnya ketika SMA yang selalu terngiang di telinganya. Dari sana ia berusaha agar lebih berhati-hati dalam menyikapi semua perasaan yang dirasa. Ia tak ingin memetik cinta sebelum tiba saatnya, karena ia benar-benar ingin merasakan manisnya buah cinta yang sesungguhnya.
Ditulis ketika penulis masih Semester II di UNINDRA. Latar tempat cerita di SMK Bunda Kandung, Jakarta.