“Ya Allah, mengapa semua jadi begini?” pekikku dalam hati.
Tak mampu berkata. Hanya pilu yang terasa syahdu di hatiku. Dalam ruang berukuran 3×4 itu aku hanya terdiam memikirkan celoteh ibu kos yang selalu menggema di telinga. Sekejap kuteringat akan pesan bunda yang ada di ujung timur jawa sana. “Jaga diri baik-baik di kota perantauanmu, Nak. Ibu kan selalu mendoakanmu, mudah-mudahan apa yang menjadi cita-citamu tercapai.” Begitulah nasihat bunda tercinta yang selalu berkelebat di benakku. Tapi sayang, ia hanya berkelebat sekejap, karena selain nasihat itu ada yang lebih sering berkelebat lagi di atas kepalaku. Apa lagi kalau bukan kata-kata ibu kos tadi. Ia tak mau mengerti akan keadaan diriku. Aku yang berstatus mahasiswa dan hanya bekerja sebagai office boy sekedar mencukupi segala kebutuhan di kota perantauan yang semakin membuncit. Di antaranya, biaya kuliah, makan sehari-hari dan biaya kos setiap bulan. Dan tak jarang pula aku berpuasa daud demi menghemat isi dompetku.


Mudah-mudahan bukan karena keadaan yang membuatku semakin rajin beribadah. Allah pasti mengerti apa yang kualami saat ini. Menurutku hanya satu yang tak mengerti, ibu kos tadi. Betapa sakitnya hatiku dimaki-maki di depan orang banyak karena telat membayar uang sewa. Bahkan ia selalu mengakhiri amarahnya dengan kata-kata blangsak, mahasiswa gembel. Benar-benar terpuruk dan sedih hatiku saat ini.
***
“Bu De, makan,” seruku pelan sambil menyingkirkan piring-piring kotor bekas orang lain makan. Kebetulan hari ini aku sedang tak berpuasa daud. Dan sedari tadi pagi hingga menjelang ashar ini aku belum makan.
“Lauk apa, Mas?” Tanya ibu berbadan subur itu.
“Biasa, Bu De!” kataku sembari memicingkan mata. Ibu itu paham dengan maksudku dan segera melaksanakan tugasnya.

Setelah itu Bu De Aminah, panggilan akrab ibu pemilik warung, menyodorkan piring berisi nasi putih dan lauk tempe orek ditambah satu sendok sambal. Menu makanan kesukaanku setiap waktu. Bu De Aminah sangat baik dan mengerti dengan keadaanku. Terkadang ia menambahi lauk atau sayur. Namun harga yang kubayar tetap, tiga ribu rupiah. Harga yang sangat spesial untukku. Zaman sekarang mana ada warung di Jakarta yang menjual makanannya seharga seperti harga tadi, kalau pun ada paling-paling hanya nasi putihnya saja.
Aku makan dengan pelan. Menikmati sari-sari makanan yang terkandung dalam makanan tersebut. Dalam kenikmatanku itu, tiba-tiba Iwan, teman se-kosku namun beda kamar, menepuk bahuku. Seketika aku pun tersentak kaget.
“Heh, ngagetin aja lu, Wan,” kataku sambil meraih air minum yang ada di sebelah piringku. “Dari mana aja, Lu?” lanjutku.
“Biasa, dari kampus. Ane pinjam buku, dong,” kilahnya tanpa basa-basi.
“Owh, nanti dulu ya, gue masih makan. Lu udah makan? Makan, yuk!”
Alhamdulillah tadi di kos ane juga udah makan, makasih. Ente kenapa, kayaknya kurang semangat banget?”
“Gini lho, Wan. Gue sakit hati banget sama ibu kos, gue baru bulan ini telat bayar setoran, tapi dia marahnya setengah mati, sampai-sampai gue dihina di depan banyak orang,”
“Mmm… Ente santai aja, kata-kata ibu kos itu jangan di masukin hati. Sebelum ente dimarahin en dihina seperti itu. Dulu juga sudah ada orang yang dihina lebih sadis daripada ente, jadi bukan hanya ente yang pernah diperlakukan seperti itu,” ujar Iwan menasehati. Aku hanya manggut-manggut.
“Mungkin itu udah menjadi tabiatnya kali, ya,” ujarku mencoba menyimpulkan.
“Mungkin, tapi mudah-mudahan ia mendapat hidayah dan bisa berubah,”
“Amien,” kataku tak bersemangat.

Aku terdiam dan melanjutkan makan dengan pelan. Pikiranku buyar tak bisa konsentrasi walau hanya sejenak. Dalam setengah sadarku itu terdengar alunan lagu Opick di radio yang terletak di sudut kanan atas warung.
“Tombo ati iku limo perkarane!
Kaping pisan moco qur’an lan maknane!
Kaping pindo sholat wengi lakonono!
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono!
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe!
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe!”
Begitulah alunan lagu itu mendayu-dayu. Hatiku terharu setiap mendengar syair lagu itu. Begitu menyentuh hati. Begitu menggugah jiwa.
“Ron, Ane ke kos duluan, ya!” seru Iwan kembali menepuk bahuku.
“Owh, iya,” jawabku dengan pikiran tak karuan.
“Ingat, kata-kata ibu kos nggak usah digubris. Ok!” pesannya sambil berlalu.
“Hmmm… oke!”

Aku terus melanjutkan makan sembari menghayati lagu yang dipopulerkan Opick tadi. Aku kembali menangkap syair-syair yang begitu berarti. Syair-syair yang terkandung pesan dan makna di dalamnya. Aku merasa, sakit hati yang disebabkan oleh ibu kos adalah penyakit hati. Dan hari ini aku benar-benar mendapat obat hati dari lagu bernada slow itu. Kubulatkan tekadku untuk selalu membaca al-qur’an dan artinya setiap hari, salat tahajjud, berkumpul dengan orang-orang soleh, memperbanyak puasa dan selalu dzikir malam.
***
“Assalamu’alaikum,” seruku setiap bertemu ibu kos. Ia hanya senyum kecut menanggapi salamku. Namun, mulai sekarang aku tak akan memperdulikan setiap kata-kata cemoohan yang akan dikatakannya kepadaku. Aku pun berprinsip untuk tidak memasukkan hati kata-kata orang lain yang menjatuhkan semangatku. Aku harus mampu meraih cita-citaku demi membahagiakan orangtuaku. “Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Begitulah pepatah yang sering dilontarkan oleh Pak Bambang, Dosen mata kuliah Pragmatik di kampusku.
***
Akhir-akhir ini aku lebih merasa tenang dan nyaman setelah mengindahkan syair-syair yang berjudul ‘tombo ati’ itu. Hari demi hari selalu kujalani dengan senyuman. Tak kupikirkan lagi kata-kata cemoohan yang mencoba merapuhkan hatiku. Bahkan ibu kos yang sering marah-marah tak jelas sudah mulai baik denganku. Ia pun akhirnya mengerti dengan segala keadaanku. Ia sering mengantarkan lauk ataupun sayur ke kamarku. Bukan hanya itu, dua hari yang lalu aku mendapat pekerjaan dari Pak Bambang untuk mengajar di SMP di mana beliau menjadi wakil kepala sekolah di SMP tersebut. Bukan hanya itu juga, baru tadi pagi aku mendapat beasiswa dari sebuah Baitul Mal. Aku jadi terharu bercampur senang.
            “Ya Allah, Alhamdulillah…” gumamku sembari menitikkan air mata.
Akhirnya, Allah mencukupi.

*Kisah ini dimuat di buku ‘Lagu Opick Inspirasiku’ yang ditulis oleh 30 penulis pilihan yang diterbitkan oleh Leutika Publisher, Yogyakarta.