Waktu terus berjalan. Hari semakin sore. Jarum jam menunjuk angka 17.35. Kebetulan aku dan teman-temanku tinggal di sebuah Asrama. Sore ini kami akan menghadiri sebuah acara. Yaitu acara tasyakuran yang diadakan oleh salah satu donatur kami yang bernama Adi Warsita. Kami berbondong-bondong menuju kediaman Pak Adi dengan mengenakan pakaian sholat dan tak lupa pula membawa Al Qur’an kecil ber-resletting yang selalu siap di saku kanan bawah baju koko. Baju koko dan peci yang kami kenakan serba putih. Kecuali sarung berwarna bebas asalkan terkesan warna gelap. Kami sekitar lima puluh orang-an. Dalam perjalanan kami diwarnai dengan canda serta tawa yang tiada henti hingga kami sampai pada tempat yang kami maksud.

      Setelah aku dan teman-temanku memasuki komplek yang tampak begitu megah, kami dikejutkan dengan gonggongan anjing. Tak lama kemudian mucullah anjing Helder berwarna cokelat dan hanya berkaki tiga. Mungkin anjing itu sangat berbahaya, sehingga salah satu kakinya harus diamputasi oleh pemiliknya. Ataukah anjing itu pernah mengalami kecelakaan? Ah, itu bukan urusanku.

       Tiba-tiba anjing itu berlari ke arah kami. Teman-temanku bergegas memasuki pintu gerbang yang kebetulan sudah terbuka, aku pun mengikuti mereka. Setelah kami sudah memasuki pintu gerbang, aku langsung menutupnya. Tinggal beberapa jengkal pintu gerbang akan tertutup, tetapi sebagian kepala anjing itu masuk dan terjepit. Dengan perasaan takut pintu itu kubuka sedikit, lalu kumenendang kepala anjing itu hingga keluar. Dan aku kembali menutupnya.

       Tanpa terasa perjalanan kami memakan waktu lima belas menit. Dan hari tampak semakin gelap saja. Adzan maghrib mengalun. Bersahutan dari masjid satu ke masjid yang lain. Ah, bukan hanya di masjid saja yang terdengar suara adzan, tetapi di rumah Pak Adi pun serupa. Salah seorang temanku melantunkan seruan-seruan Ilahi dengan suara lantang dan menggema. Mendengar itu semua, aku dan teman-temanku pun mengantri untuk mengambil air wudhu. Antrian memanjang ke belakang bak sarana transportasi mudik yang khas Indonesia, apa lagi sarana transportasi mudik Indonesia yang khas kalau bukan kereta api. Setiap susut di depan, maka bertambahlah yang di belakang. Tiada putusnya antrian itu hingga suara iqamat memanggil.

        Usai shalat maghrib. Saatnya dimulai acara inti. Acara pembacaan kalam Ilahi, mendengar ceramah dan pesan dari sang ustadz jebolan Universitas Islam Al Azhar, Kairo, Mesir, lalu ditutup dengan do’a. Kemudian acara ramah tamah. Dan selanjutnya pembagian amplop sebagai santunan untuk kami.

       Setelah semua acaranya usai. Aku dan teman-temanku berniat untuk pulang. Dengan perlahan kubuka pintu ruang tamu yang berdaun tebal, lalu keluar dari rumah yang begitu megah itu, dan disusul teman-temanku. Ketika kami sudah keluar semua, sangat tampak dari raut wajah kami perasaan takut. Bukan takut karena apa, tetapi takut karena galaknya anjing Helder berwarna cokelat dan berkaki tiga tadi. Lalu aku menuju pintu gerbang. Ternyata pintu gerbang yang akan kami lewati bukan pintu gerbang yang kami lewati tadi sore. Kali ini adalah pintu gerbang bagian belakang rumah. “Hmm…! Orang kaya, pintu gerbang harus dua.” Gumamku pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala.

       Aku mendekati pintu gerbang itu dan ingin sekali membukanya. Tetapi benakku langsung teringat dengan kejadian yang cukup mengerikan tadi sore. Tiba-tiba ada suara anjing yang menggonggong begitu keras di pelataran taman. Aku dan teman-temanku pun panik luar biasa. Ternyata anjing yang menggonggong itu berwarna hitam dan lebih besar daripada anjing Helder yang berkaki tiga. Postur tubuhnya yang gagah dan tampak beringas membuat pikiranku semakin was-was. Begitu juga dengan teman-temanku. Untung saja anjing itu berada di balik jeruji. Dan itu menandakan betapa galaknya anjing yang di dalam kandang itu. Apa mungkin anjing hitam itu lebih galak daripada anjing Helder berkaki tiga? Ah, yang namanya anjing tidak bisa dibanding-bandingkan. Selama hidupku tak pernah kutemui anjing yang berbaik hati. Kalau pun ada, malah akunya yang akan menghindar darinya karena statusnya sebagai binatang najis.

       Tak lama kemudian, datanglah salah seorang pembantu yang berperawakan paruh baya. Dan pembantu itu menghampiriku serta membuka pintu gerbang. Setelah kami keluar pintu gerbang, kami tak mendapati apa-apa. Tak tampak batang hidung anjing Helder cokelat dan berkaki tiga tadi sore. Gonggongannya yang menakutkan pun tak terdengar. Yang terdengar hanyalah suara gonggongan anjing hitam beringas dari dalam kandang. Aku dan teman-temanku berjalan santai. Tetapi jantungku masih saja berdetak kencang. Tiba-tiba terdengar suara gonggongan anjing bersahutan. Salah satu gonggongan itu adalah gonggongan anjing hitam yang terlihat beringas tadi. Dan gonggongan yang lainnya dari luar. Sepertinya aku pernah mendengar suara gonggongan anjing yang dari luar. “Waah…! Ternyata dia adalah anjing Helder cokelat berkaki tiga.” Gumamku pelan dalam hati.

       Dan tanpa kusadari, teman-temanku berlari terbirit-birit. Aku pun mengikuti jejak temanku-temanku dari belakang. Aku tertinggal. Jarak antara diriku dan teman-temanku semakin jauh. Sedangkan jarak antara anjing Helder cokelat berkaki tiga denganku semakin dekat saja. Aku semakin cemas. Sandal jepitku lepas. Sarungku kemungkinan juga akan terlepas. Aku berlari dan berlari. Berlari sekencang-kencangnya sambil menahan sarung yang hampir lepas. Dalam hatiku kembali bergumam, “Kalau memang sarungku terlepas dan aku telanjang tak apalah, asal selamat.”

       Aku terus berlari sampai terengah-engah. Sepertinya aku takkan kuat lagi. Kakiku tersangkut sarung, aku pun terjungkal dan diam. Lariku terhenti. Dan kudapati anjing Helder cokelat berkaki tiga juga terhenti. Saat ini teman-temanku sudah hilang dari penglihatan. Di tengah jalan komplek yang sepi itu, hanya ada aku dan anjing yang membuat jiwaku diselimuti rasa takut nan mencekam. Anjing itu terdiam di tempat sambil menggonggong serta mengeluarkan air liur. Sepertinya ia sangat bernafsu dan bersiap mencabik-cabik diriku. Aku semakin takut tak karuan. Dalam ketakutanku itu, aku teringat akan pesan pamanku yang ada di kampung halaman, “Kalau kamu dikejar anjing dan kamu sudah kepepet, coba kamu mencari batu atau apa-lah di sekelilingmu, lalu lemparkan batu itu ke arah anjing yang mengejarmu. Karena anjing takut dengan lemparan benda-benda keras.”

       Lalu dengan sigap kucoba meraba-raba jalan. Dan kudapati tiga batu kerikil kecil. Dan kulemparkan batu-batu kerikil itu ke arah anjing yang tengah mendekat hingga mengenai kepala dan bagian matanya. Ternyata benar kata pamanku, anjing itu lari terbirit-birit. Sejurus kemudian, angin kelegaan menerpa diriku. Rasa ketakutanku mulai berkurang. Aku pun berdiri. Memperbaiki gulungan sarung yang sempat terlepas. Lalu mencari sandal jepit. Setelah kumenemukannya dengan jarak yang terpisah. Kemudian kumengenakannya kembali. Dan selanjutnya, kulanghkahkan kaki berjalan untuk kembali pulang ke asrama. Tentunya berjalan dengan santai dan hati penuh dengan perasaan lega. Walau berjalan sendirian tanpa kawan.

Akhirnya, selamat juga.     *^_^*
Jakarta, Juli 2010

Image Scooby doo from Google