Tribute to Bu Rawi
( Koki Pondok Pesantren Hidayatullah Marhamah Jakarta )

Pernah suatu ketika, Bu Rawi marah-marah lantaran salah seorang santri telat makan siang. Aku yang ada di dapur pondok hanya menunduk terdiam, bukan terdiam karena tak perduli, namun karena aku sudah tahu tabiat ibu yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengabdi untuk pondok kami itu. Biasanya, bila ia sudah marah-marah, nanti ujung-ujungnya akan ada nasihat yang bisa kita petik dari akhir ucapannya.


Seperti kasus di atas, risiko bila telat makan siang, tidak akan kebagian jatah makan. Namun, setahuku Bu Rawi berjiwa besar, beliau tak akan sampai hati membiarkan santri yang tidak kebagian makan sampai kelaparan. Walau sambil marah-marah, beliau akan tetap saja memberi makan. Beliau sudah menganggap seluruh santri Pondok Pesantren Hidayatullah, Marhamah Jakarta dari berbagai angkatan sebagai anaknya. Dari angkatan Mahidin Syahidu yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Al-Qalam. Angkatan Samsudi yang saat ini sedang mengabdi di asrama yang pernah disinggahinya untuk menuntut ilmu itu. Lalu angkatan Dika Firmansyah, yang kini sedang tugas di Pondok Pesantren Hidayatullah Bengkulu. Dan masih banyak angkatan-angkatan lainnya.

Pernah suatu ketika aku bersilaturrahim di kediamannya yang ada di lokasi rawan banjir, di Tanjung Lengkong, Bidaracina, Jakarta Timur. Beliau bercerita kepadaku bahwa beliau sering sedih dan gusar bila jatuh sakit. Sedih bukan karena sakitnya. Namun, beliau sedih karena memikirkan siapa yang akan memasakkan makanan untuk para santri. Aku yang mendengar keluhannya itu hanya bisa menyemangati dengan tetap menghiburnya agar beliau kembali sehat seperti sediakala. Dan kukatakan kepada beliau bahwa untuk sementara waktu, makan para santri dimasakkan oleh istri para ustadz yang ada di pondok. Lantas, beliau pun terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

Dalam silaturrahimku waktu itu hanya membawa sedikit makanan untuk beliau dan segera izin meminta diri karena masih ada jadwal kuliah. Ia pun sangat berterima kasih. Sebenarnya aku ingin memberikan beliau berupa uang tunai. Namun, untuk biaya sehari-hariku saja pas-pasan. Dan aku bertekad suatu saat nanti aku bisa mewujudkan niat baikku itu.
Awal penyakit kronis yang dialami Bu Rawi
Akhir-akhir ini Bu Rawi sering jatuh sakit. Beberapa ustadz pondok pun sering menyarankannya untuk istirahat di rumah saja. Tapi beliau sering mengelak dari rasa sakit yang dideritanya. “Saya masih kuat bekerja. Saya tidak mau berhenti bekerja. Diam di rumah malah membuat badan saya lemas,” ujar wanita yang menginjak usia 56 tahun itu.

Dan ternyata, sakit yang dialami Bu Rawi semakin parah. Ada penyakit kronis, yakni penyakit tumor yang bersemayam di tenggorokan kirinya. Beliau pun semakin sulit untuk berbicara. Dan akhirnya pihak pondok memutuskan untuk membawa beliau ke RS Persahabatan. Sesampai di rumah sakit, beliau dioperasi bagian perutnya untuk menyambungkan selang ke lambung karena tidak bisa makan dan minum melalui tenggorokan. Sebelumnya beliau pernah mempunyai penyakit tumor di perut, namun penyakit itu sudah diangkat di RS Budhi Asih. Dan saat itu dokter di sana menganjurkan beliau untuk cemotherapy, namun ia juga tak kunjung cemotherapy. Sehingga sisa-sisa tumor di perut yang sempat diangkat tadi menjalar ke tenggorokan.

Selama tiga minggu Bu Rawi dirawat di RS Persahabatan. Kata dokter, penyakit yang diderita Bu Rawi sangat parah dan sudah tidak ada harapan lagi. Kemudian Bu Rawi pun dianjurkan untuk dibawa pulang. Mengingat status Bu Rawi hanyalah seorang janda dan hidup sebatangkara walaupun sebenarnya mempunyai anak laki-laki yang sudah tak perduli lagi dengannya, salah seorang ustadz pondok menyarankan beliau untuk diinapkan di pondok saja. Tujuannya agar ada yang merawat dan memerhatikan beliau.
Beliau telah tiada
Dua pekan lamanya beliau dirawat di pondok. Semakin lama kondisi Bu Rawi semakin memburuk. Tubuhnya tampak kurus lantaran tak ada asupan makanan bergizi yang cukup mengisi lambungnya. Hanya air susu dan obat-obatan cair. Beliau pun sering mengeluh sakit kepala dan susah bernapas. Bila berbicara, suaranya serak parau dan susah dimengerti. Pagi itu beberapa santri segera melaporkan kondisi Bu Rawi kepada ustadz-ustadz di pondok. Kemudian beberapa pengasuh pun kembali membawa beliau ke RS Persahabatan atas perintah beberapa ustadz tadi.

Sesampai di rumah sakit, beberapa pengasuh pondok menunggu kepastian dari dokter. Cukup lama Bu Rawi menunggu penanganan dari dokter. Hingga waktu sore menjelang salat ashar, dokter dan beberapa suster membawa Bu Rawi ke ruang UGD. Kata dokter, tumor yang tumbuh di tenggorokan merambat ke saluran pernapasan, sehingga diharuskan untuk operasi. Operasinya pun akan dilakukan tanpa adanya tahap pembiusan terlebih dahulu. Menurut dokter, bila dilakukan pembiusan, dikhawatirkan berhasil tidaknya proses operasi tidak bisa diketahui karena kondisi pasien yang sangat lemah. Kemudian saat operasi akan dilakukan, Bu Rawi menghembuskan napas terakhir. Beliau sudah dipanggil lebih dulu oleh Allah Swt. Innalillahi wa’inna ‘ilaihi rooji’uun.
Menuju peristirahatan terakhir
Sesampai di rumah, lebih tepatnya pukul empat sore, beberapa tetangga Bu Rawi, ustadz dan pengasuh pondok terlibat adu argumen tentang waktu pemakaman beliau. Ada yang mengusulkan untuk langsung dimakamkan sore itu juga. Namun ada juga yang mengusulkan untuk dimakamkan besok pagi saja dengan alasan menunggu kedatangan anak laki-laki satu-satunya. Beberapa orang yang mengusulkan untuk dimakamkan sore itu jelas marah dan kecewa lantaran tingkah anak Bu Rawi yang hanya dua kali menjenguk beliau selama sakit. Itupun anaknya langsung pergi tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu sampai beliau wafat.
Dalam perang argumen itu, akhirnya ada ketua RT setempat yang menjadi penengah. Dan menganjurkan kepada salah seorang warga untuk menelpon anak Bu Rawi.  Setelah anak Bu Rawi ditelpon, ia berkata bahwa akan datang pukul tujuh malam. Akhirnya, pemakaman pun diputuskan malam ini juga, usai shalat isya’, sambil menunggu kedatangan anak Bu Rawi, namun tak sampai menunggu hingga besok pagi.

Jenazah Bu Rawi sudah siap untuk dimakamkan. Aku merasa sangat berhutang budi kepada beliau. Apalagi niatku untuk memberinya uang tunai belum juga tertunaikan. Tanpa pikir panjang aku megambil alih untuk mengangkat keranda bersama-sama dengan para pengasuh dan warga. Hingga sampai proses pemakaman Bu Rawi selesai. Dan doa usai pemakaman pun dipimpin oleh salah seorang ustadz pondok.

Aku, para santri, pengasuh dan ustadz pondok merasa kehilangan atas wafatnya Bu Rawi yang sangat berjasa bagi Pondok Pesantren Hidayatullah Jakarta ini. Dan kami sangat menyadari, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah atas dasar kehendak Allah. Suatu saat, entah kapan, kita semua pasti akan menyusul beliau, ibu kami, Bu Rawi.
***
Jakarta, 15 Januari 2011