“Assalamu’alaikum!”

Bapak dan Mamak tersenyum sembari menjawab salamku. Tas dan kardus yang kujinjing membuatku gontai. Langkah kakiku terasa berat. Hatiku terasa disayat. Aku ingin tetap hidup bersama mereka. Kuhentikan langkah. Lalu kutatap lekat-lekat wajah Bapak, ia geleng-geleng kepala. Giliran aku tatap wajah Mamak, ia menghampiriku, mencium keningku, dan berbisik pelan, “Hati-hati di sana, Nak. Baik-baik dengan orang lain. Jadilah orang yang mengerti, tak perlu jadi orang pintar. Untuk sementara tak usah pikirkan kami, insya Allah kami baik-baik saja.” Aku hanya mengangguk pelan sembari berlalu.


     Aku tak tega bila Mamak mengurus rumah sendiri. Tetapi aku juga tak ingin durhaka pada bapak yang mengutusku merantau menuntut ilmu. Kulangkahkan kaki dengan paksa. Menuju stasiun yang menjadi saksi pertamaku. Sesampainya, aku ke loket lalu menunggu ‘Kertajaya’ Surabaya-Jakarta. Aku terdiam. Di telingaku selalu terngiang pesan mamak yang ketiga, “jadilah orang yang mengerti, tak perlu jadi orang pintar.” Mungkin mamak sudah gerah dengan tingkah laku para penguasa negeri ini yang sering tersandung kasus korupsi-lah, kolusi-lah, manipulasi-lah. Kepintarannya hanya dimanfaatkan untuk membodohi rakyat. Coba saja mereka tidak sekedar pintar, tetapi juga mengerti. Mengerti korupsi, kolusi dan manipulasi itu dosa. Tentu mereka takkan melakukan hal itu. Tapi toh sayang, mereka cuma pintar.

     Kubuka kertas yang baru saja kulipat dan sesekali menatapnya, “Astaga! Aku ketinggalan kereta!”. Tukang koran melintas di depanku, “Pak, apa Kertajaya sudah lewat?” tanyaku.
     “Belum.”
     “Hah! Belum? Yang bener, Pak? Bapak serius,”
     “Dasar anak bau kencur. Dikasih tau orang tua nggak percaya.”
     “Tapi jadwal keberangkatan di tiketnya sudah lewat sepuluh menit yang lalu.”
Bapak itu menghela napas. “Apa kamu nggak tau kebiasaan buruk negaramu, suka nggak tepat waktu. Ngaret.”
     “Ooo…! He’eh..”
     “Saya bilang apa! Tuh dia baru datang.”
     “Owh! Makasih, Pak!” seruku sambil berlalu.
Aku duduk di dalam kereta kembali merenung, “Aku benar-benar meninggalkan Bapak dan Mamak untuk sesaat. Menuntut ilmu di kota perantauan, yakni Jakarta. Tapi kali ini kenapa aku sangat memikirkannya. Aku pasti kangen nasihat dan teguran mereka. Ya Allah, aku titip mereka,” gumamku menitikkan air mata.


^ FlashFiction ^