A.A. Navis adalah sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya untuk menyinggung apa-apa yang dilihatnya. Karya sastranya yang terkenal adalah cerita pendek yang berjudul, ‘Robohnya Surau Kami’. A.A. Navis biasa dijuluki dengan sebutan ‘Sang Pencemooh’. Ia adalah sosok yang lebih suka ceplas-ceplos, kata-katanya sangat satir dan apa adanya. Kritik kritik sosialnya mengalir dengan jujur untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi yang membacanya, agar hidup pembaca tersebut lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih, benar-benar sesuai dengan yang dilihatnya.




Bagi saya, cerpen yang berjudul ‘Robohnya Surau Kami’ sangat mengkritik. Karya sastra tersebut merupakan karya sastra yang layak diapresiasi dalam dunia literasi, khususnya kesusasteraan Indonesia. Namun, ada beberapa pihak yang menyudutkan karya sastra itu lantaran terlalu menyinggung ke arah agama. Mereka bilang cerpen karya A.A. Navis itu keterlaluan karena menghadirkan dialog antara Tuhan dengan hamba-hamba-Nya. Sejurus dengan penyudutan karya itu, ternyata masih banyak yang mengacungkan jempol, termasuk saya. Kenapa? Alasan saya sama dengan mereka yang mengacungkan jempol tadi yaitu itulah sastranya, menghadirkan dialog antara Tuhan dengan hamba-hamba-Nya tidak menjadi masalah. Toh, banyak ustadz-ustadz yang jika ceramah sama persis seperti itu.


Jika kita mampu bersikap bijaksana dalam menilai suatu karya sastra, kita akan menilainya dari berbagai sudut pandang. Sangat maklum kalau ada orang menilai dengan berbagai bentuk nilai, itulah keragaman. Begitu juga dengan karya sastra. Kita tidak bisa memandang hanya dengan satu sisi. Kalau cerpen karya A.A. Navis ada yang menilai sangat keterlaluan dalam mengkritik agama, menurut saya itu hanya cara penulis yakni A.A. Navis sendiri dalam menyampaikan gagasan/ide.


Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam cerita ini, khususnya si Kakek yang berprofesi sebagai garin, seolah-olah ia datang dari sisi kebenaran, yakni agamis. Ia sangat menginginkan kebahagiaan di akhirat sehingga ia terlalu mengabaikan urusan dunia. Kemudian datanglah tokoh yang bernama Ajo Sidi yang biasa dijuluki si pembual. Ia membuat bualan untuk si Kakek dengan cara menyinggung aktivitas dan rutinitas sehari-hari si Kakek. Ia mengumpamakan bahwa si Kakek berposisi sebagai Haji Shaleh, dalam cerita bualannya itu. Lantas, si Kakek pun geram karena ia merasa dikatakan oleh Ajo Sidi sebagai manusia terkutuk. Seperti kata-kata si Kakek dalam dialog sebagai berikut:


“Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.”


Dalam kalimat yang berisi cemoohan atas apa-apa yang dilakukan oleh si Kakek tersebut, A.A. Navis sebagai penulis ingin menyampaikan bahwa setiap orang jangan mudah terpancing untuk marah jika diejek atau dinasihati karena bisa jadi orang berbuat seperti itu karena ada hal-hal yang kurang baik yang telah kita lakukan. Walaupun dengan kata-kata yang satir dengan dibumbui cemoohan, sebenarnya gagasan/ide yang akan disampaikan oleh A.A. Navis adalah sangat baik. Meski berbau kritik tetapi itulah kenyataan yang ada.


Di antara kita masih ada yang belum adil dalam menyikapi segala sesuatu. Sejatinya, jika kita mencari kehidupan dunia, maka kita tidak boleh melupakan kehidupan akhirat. Begitu pun sebaliknya, seperti yang dilakukan oleh si Kakek tadi. Selain itu, gagasan/ide yang disampaikan oleh A.A. Navis berupa syukur. Mensyukuri apa yang ada di hadapan kita itu lebih baik daripada kita mengabaikannya. Masalahnya, kita belum tentu menyadari akan sesuatu hal yang patut untuk disyukuri dan dimanfaatkan itu. Sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita yang diutarakan oleh Ajo Sidi, Haji Shaleh. Sesuatu yang mewakili bahwa kurangnya rasa syukur dalam cerita ‘Robohnya Surau Kami’ ini bisa kita amati dari penggalan dialog antara Haji Shaleh dengan Tuhan. Misalnya sebagai berikut:


‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.
‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’
‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’
‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’
‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’
‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.
‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’
‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’
‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’
‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’
‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’
‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’
‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’
‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’
‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’
‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’
‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’
‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’
‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’
‘Ada, Tuhanku.’
‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”


Dari penggalan dialog yang cukup panjang tersebut kita bisa menilai bahwasanya tokoh Haji Shaleh, tidak mensyukuri dan tidak memanfaatkan tanah Indonesia yang terkenal subur dan kayak akan bahan tambang. Ia lebih fokus dan memprioritaskan kehidupan akhirat sehingga ia lalai bahwa ia memiliki keluarga, seperti istri, anak, dan cucu-cucunya. Sangat ironis memang jika kita meyaksikan kehidupan Haji Shaleh yang ber-ending seperti itu. Maka dari itu, A.A. Navis menyampaikan pesan, gagasan/ide dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang seolah-olah baik dan benar seperti si Kakek dan Haji Shaleh, dan tokoh-tokoh yang seolah-olah buruk dan jahat seperti Ajo Sidi. Kemudian tokoh ‘Aku’, ia hanya menyaksikan. Sebenarnya tokoh ‘Aku’ ini orang pertama namun pelaku sampingan.


Pesan yang bisa kita ambil dari cerpen ‘Robohnya Surau Kami’ karya A.A. Navis ini adalah jangan cepat bangga dengan perbuatan baik kita karena bisa jadi baik di mata manusia tetapi tidak baik di mata Tuhan, jangan menyia-nyiakan apa yang kita miliki, maka dari itu cermati firman Tuhan. Kemudian yang terakhir jangan mementingkan diri sendiri, seperti yang difirmankan Tuhan dalam cerpen ini.


Ini pendapatku, apa pendapatmu…??? ^_^