Sobat, tahukah kamu bagaimana keadaan jiwaku saat ini? Mungkin menurutmu aku sedang dalam perasaan bahagia atau sedih. Entah. Entah Sobat, aku ini sedang bahagia atau sedih. Aku sendiri tidak tahu. Yang jelas, aku menyapa Sobat kali ini hanya untuk bertutur soal apa yang aku alami. Aku benar-benar bingung dengan perasaan yang tengah melanda jiwaku. Allah telah mengirimkan seseorang yang telah berhasil menyita perhatianku. Seorang wanita yang tiba-tiba harus aku perhatikan. Padahal dahulu, ketika aku pertama bertemu perasaan biasa-biasa saja.

Kini, tiba-tiba aku merasa sayang dan peduli. Apakah ini yang dinamakan benih-benih cinta yang mulai tumbuh bermekaran. Namun, aku selalu lemah ketika bertanya kepada diri sendiri apa yang telah membuatku sayang dan peduli? Aku tak bisa menjawab. Aku tak memiliki alasan yang rasional untuk membeberkan perasaan yang tengah kualami.

Sobat! Apakah kamu semua pernah merasakan perasaan yang saat ini kualami? Jika pernah, bagaimana kelanjutan ceritanya? Bahagia? Atau malah sebaliknya?

Orang yang aku sayangi dan cintai itu sudah mengetahui. Dan aku selalu berdoa kepada Ilahi, “Mudah-mudahan dia menyadari bahwa ada orang yang mencintai dirinya melebihi orang itu sendiri dalam mencintai tubuhnya sendiri. Maka, ketuklah hati wanita yang telah membuatku terpana itu dengan ketukan-Mu yang paliiiiing bijaksana. Sampaikanlah kepadanya bahwa aku ingin membimbingnya. Ya Allah Ya Mughitsu, aghitsni… aghitsni… (Ya Allah Dzat Maha Penolong, tolonglah aku… tolonglah aku…)”

Mungkin dari sepenggal kisah nyata yang aku alami ini akan menjadikan diriku, juga wanita tersebut, untuk lebih mengintrospeksi diri dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Aku yakin, semua yang aku rasakan ini adalah anugerah yang diberikan oleh Allah Swt. Cinta itu anugerah. Jadi, bagaimana aku harus menyikapi anugerah itu sendiri. Tak ada yang dapat aku lakukan lagi melainkan hanya berharap kepada-Nya.

Adakalanya seseorang menangis di depan massa, hingga terlunta-lunta karena cinta. Entah itu pria maupun wanita. Namun, aku tidak seperti itu, aku hanya menitikkan air mata di kala membaca al-Qur’an. Aku selalu menjatuhkan kristal-kristal bening itu dengan berharap bahwa dia jodohku. Apatah lagi surat dalam al-Qur’an yang aku baca adalah surat Ar-Rahman. Semakin menagislah aku lantaran di sana terdapat ayat ‘Fabi’ayyi’aalaa irobbikumaa tukadzibaan’: Nikmat yang mana lagi yang kamu dustakan.

Sobat! Kepada kalian semua aku bercerita dan mengharap doa. Doakanlah aku untuk bisa lebih kuat dalam menghadapi tsunami cinta ini.

Dan untukmu wahai wanita yang kucinta, aku sudah jujur mengungkapkan isi hatiku kepadamu, maka dari itu pikirkanlah matang-matang dan jangan pernah lepas untuk berdoa kepada Allah mengharap yang terbaik untuk kita. Sejujurnya, aku tak mampu beralasan kenapa aku mencintai dan menyayangimu. Akan tetapi, aku tidak mencintaimu karena fisik maupun harta. Mencintai karena fisik adalah nafsu. Dan buat apa aku mencintaimu karena harta? Bagiku, akulah yang harus memiliki harta karena memang laki-lakilah yang harus mencari nafkah.

Sejujurnya, aku menangis ketika menuliskan semua perasaanku ini. Tetapi harus tetap tersenyum karena CINTA akan indah pada waktunya. Keep smile.🙂
“Petiklah CINTA pada waktunya karena dengan itu kita akan merasakan kematangan CINTA yang sesungguhnya.”

(ditulis kembali, rabu malam 15/2/2012, pukul 21.00 wib)

Image from Google