Sebuah masjid berdiri tegak nan kokoh di tengah-tengah komplek yang ada di Jakarta Timur. Warna cat dinding luarnya biru tua, juga biru muda menambah keanggunannya sebagai rumah Allah. Lantai yang terbuat dari marmer tebal serta kipas angin yang terdapat di setiap sudut masjid membuat kemegahannya kian modern. Kebersihan seisi masjid dan kerapian karpet serta tatanan Al-Quran tak luput dari pengawasan penjaga masjid. Dua orang penjaga masjid yang masih berusia remaja itu biasa disebut sebagai remaja masjid, atau disingkatnya remas.


Suatu ketika di siang hari, awal munculnya balada di antara kedua remaja masjid tersebut. Dengan tubuh yang begitu letih remaja yang pertama mengantuk berat, lalu ia menuju kamarnya yang terletak berdekatan, bahkan dindingnya menempel dengan masjid. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur tipis buatan Palembang. Tak membutuhkan waktu lama remaja pertama pun tertidur pulas.
Hingga adzan ashar mengalun, remaja pertama juga belum bangun dari mati sementaranya. Sampai selesai shalat ashar, remaja pertama masih saja bermesraan dengan mimpinya. Tak lama kemudian remaja kedua datang membuka pintu kamar, lantas remaja pertama tiba-tiba terbangun dan mendapati remaja kedua tersenyum seolah-olah menertawakan. Remaja pertama pun kaget bukan kepalang mendapati jamaah shalat yang sudah ramai di luar kamarnya. Ia berpikir sejenak, “Astaghfirullah, mengapa saya tidak dibangunkan,” katanya melintas di kepala.
Tanpa sepatah kata remaja kedua meninggalkannya dan membiarkan pintu kamar agak terbuka. Sedangkan remaja yang pertama duduk termangu. Tiba-tiba dua orang ustadz besar memasuki kamar, alangkah terkejutnya si remaja pertama tadi.
“Maaf Ustadz, saya ketiduran,” ujarnya lirih
“Masya Allah,” kata salah seorang ustadz sembari menyungging senyum
“Kamu belum sholat?” tanya ustadz yang lain dengan mimik serius
“Saya ketiduran Ustadz, tidak ada yang membangunkan,” jawab remaja pertama lagi
“Kamu yang lucu, kamar di masjid tapi tidak sholat,” cetus sang ustadz yang bermimik serius dan berlalu. Ustadz yang selalu tersenyum hanya mengikuti di belakangnya.
Remaja pertama bingung, gundah gulana. Ia tetap duduk sambil merenung. Ia menyesalkan apa yang baru saja dilakukannya itu. Ia merasa namanya sudah tercemar. Ia semakin bingung, bingung dan bingung. ”Semua ini gara-gara dia (remaja kedua), pintu kamar dibiarkan terbuka,” pikirnya.
Lalu ia mengintimidasi remaja kedua melalui telepon selulernya.
“Awass, gara-gara ente Boy,” pesannya via sms
“Kenapa Gan, kok ane yang kena,” balas remaja kedua
“Gara-gara ente nggak tutup pintu, Ustadz Rohim dan Ustadz Husain masuk kamar. Nama ane tercoreng,” pesan remaja yang pertama lagi
“Subhanallah, ane tadi shalat juga telat dan nggak tahu ente tidur. Ustadz Rohim dan Ustadz Husain apa hubungannya sama ane?” balas remaja yang kedua lagi
Setelah itu remaja yang pertama tak membalas sms remaja kedua. Ia merasa kesal dengan remaja kedua. Kemudian ia beranjak menuju kamar mandi, berwudhu lalu mendirikan shalat ashar.