Pak Markum diam membisu. Istrinya, Bu Ani, juga ikut terdiam karena bingung. Hujan semakin lama semakin berkurang. Tetesan air dari langit pun semakin jarang. Mungkin karena sebentar lagi kejahatan akan terungkap. Pak Markum bangun dari duduknya dan menuju ke pintu. Dan ternyata pintu masih tetap seperti semula, tidak terkunci. Ia merasa gusar. Istrinya semakin bingung melihat aura Pak Markum yang penuh dengan kebingungan. Sangat nampak aura seorang manusia yang dilanda perasaan takut. Wajahnya kian pucat.


       Tak lama kemudian mereka berdua mendengar sirene mobil ambulan. Mereka pun bergegas keluar rumah untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar sana. Mobil ambulan berhenti tepat di depan rumah. Lalu salah seorang keluar dari mobil dan menghampiri keduanya.
       “Selamat pagi Pak, Bu. Apa benar ini alamat saudara Irfan?” tanya orang setengah baya itu seraya mengulurkan kartu identitas.
       Wajah Pak Markum semakin tambah pucat. Ia teringat dengan kejadian yang telah ia lakukan semalam di tengah hutan. Tubuhnya tiba-tiba menggigil. Ia mengambil kartu identitas itu dan menuju mobil. Dan setelah pintu mobil dibuka. Dilihatnya jasad Irfan terbujur kaku dengan luka tusuk di bagian sisi kiri perut.
       “Be.. Benar Mas,” kilah Pak Markum terbata-bata.
       Dan pecahlah suara tangis Pak Markum dan Bu Ani seraya berpeluk erat antara satu sama lain. Mereka meratapi nasib anak sulungnya sambil menangis sesenggukan. Lalu pengendara ambulans memanggil temannya yang masih di dalam mobil sembari memberi isyarat untuk menurunkan jasad yang ada di dalam mobil putih itu.
***
       Saat ini jasad Irfan sudah berada di ruang tamu. Pak Markum dan Bu Ani masih tetap tersedu. Perasaanya begitu pilu. Mereka saling berpelukan lagi. Tak percaya dengan kenyataan yang ada. Pak Markum membenturkan kepalanya ke tembok. Bu Ani mencegahnya.
       “Semua ini salah saya,” sesal Pak Markum dalam isaknya.
       “Apa maksud, Akang? Apa salah Akang?” tanya Bu Ani berulang-ulang.
       “Saya yang membunuh Irfan,” jawab Pak Markum.
       “Appa…!” tanya Bu Ani terkejut dan ia langsung melepas tangannya yang memeluk tubuh Pak Markum.
       “Semalam saya yang menghujam perut Irfan. Dan sekarang saya sangat menyesal, Dek.”
       “Mengapa Akang tega berbuat seperti itu? Mengapa, Kang?” teriak Bu Ani tepat di depan wajah Pak Markum.
       “Ya Allah, kenapa jadi seperti ini?” sesal Pak Markum dengan bibir terkatup tanpa menjawab pertanyaan Bu Ani.
       “Jangan pernah menyesal, Kang! Percuma kamu menyesal!” bentak Bu Ani.
       Mendengar keributan di ruang tamu. Anak bungsunya pun terbangun dari tidurnya dan menangis. Lalu Bu Ani beranjak pergi ke kamar. Menggendong dan memeluk erat-erat anak yang baru berusia satu tahun itu. Pak Markum mendekati mereka. Tetapi Bu Ani berteriak mencegah.
       “Jangan mendekat, Kang,” kata Bu Ani sambil memberi isyarat stop kepada Pak Markum.
       “Saya minta maaf, Dek. Semalam saya benar-benar khilaf.”
       “Tak ada gunanya meminta maaf, Kang. Tak ada gunanya kamu menyesal. Tak ada gunanya kamu bertaubat. Mungkin saat ini Allah telah murka kepadamu,” ketus Bu Ani dengan emosi yang menyulut.
###
Semua tragedi itu berawal dari suatu malam. Malam yang semakin larut. Tak seperti malam-malam biasanya Pak Markum berdiam diri di tengah hutan. Biasanya, ia bersembunyi di semak-belukar untuk mencari mangsa. Benar ia mencari mangsa. Mangsanya yaitu orang yang melewati jalan setapak sambil mengendarai motor. Ia takkan segan-segan membunuh mangsanya, setelah itu merampas motor dari tangan sang mangsa. Sudah menjadi kebiasaan buruknya setiap malam berlaku kriminal semacam itu. Sampai-sampai sulit baginya untuk meninggalkannya. Di antara seluruh keluarganya, tak ada seorang pun yang tahu bahwa ia memiliki kebiasaan buruk seperti itu. Beberapa dari tindakan kriminalnya pun belum ada yang terlacak polisi.
       Baginya, kebiasaan itu sangatlah sulit untuk ditanggalkan dari dirinya. Namun, kali ini ia berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Ia duduk di ruang tamu sambil menonton acara televisi yang di bintangi pelawak kondang Tukul Arwana. Tak lain dan tak bukan acaranya adalah ‘Bukan Empat Mata’. Meski ia berusaha mengganti kebiasaan buruknya dengan menonton teve. Hatinya tetap saja merasa tidak tenang. Pikirannya gundah gulana. Dalam sisi pikirannya yang lain menerawang, membayangkan kejahatan yang biasa ia lakukan. Saat-saat ia berbuat dosa dan kehinaan. Tak terlintas sedikit pun dalam hatinya bahwa perbuatan itu sangatlah melanggar norma. Menghilangkan nyawa sesama. Dan mengambil barang yang bukan haknya. Mungkin saat itu kesadaran jiwa dan hati nuraninya telah sirna.
       Setan demi setan mulai membisikkan alunan kejahatan di telinga kirinya. Hatinya yang masih bertaburkan serpihan iman mulai terusik. Sontak ia pun berniat melakukan kejahatan yang serupa. Aduh. Saat ini adalah saat yang paling berbahaya. Jiwanya yang kejam tak mampu dicegahnya. Nafsunya yang sadis tak mampu tak digubris. Sekelilingnya terasa sangat sunyi dan sepi. Ia menduga mungkin istri dan dua anaknya sudah tertidur pulas. Oh, ternyata dugaannya salah. Masih ada anak sulungnya yang belum tidur. Irfan, begitulah nama anak sulungnya itu. Tak lama kemudian. Remaja yang masih duduk di bangku SMA itu menghampirinya untuk meminta izin.
      “Ayah! aku mau keluar sebentar,” kata Irfan.
       “Mau ke mana, Nak?” tanyanya.
       “Mau beli obat nyamuk. Sekalian isi pulsa.”
       “Pulang jam berapa?”
       “Aku pulang sekitar jam dua belasan.”
       “Kok lama sekali pulangnya?”
       “Mampir ke rumah teman,” teriak Irfan sambil berlalu.
       Pak Markum mengangguk memberikan izin. Ia masih memandang anaknya berbadan bongsor itu hingga hilang dikejauhan. Bisikan-bisikan setan yang sedari tadi menipu dirinya masih terus berlanjut. Ia merasa semakin harus dan harus melakukan kejahatannya lagi. Ia memencet tombol power yang ada di-remote control sembari mengulurkannya ke arah teve. Klik. Seketika teve pun padam. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil penutup kepala berwarna hitam yang hanya berlubang dua, lubang khusus mata. Setelah itu ia meraih sebilah pisau kecil yang sangat tajam. Ia biasa menggunakan pisau itu untuk menguliti kambing di halaman masjid saat Idul Adha. Ia langsung bergegas menuju hutan. Nafsu setannya menggebu-gebu. Nafsu binatangnya menderu-deru. Sesampai di hutan, ia berdiam di tepi jalan setapak yang tertutup semak-belukar. Selang beberapa menit kemudian. Terdengar suara motor meraung-raung yang akan melewati jalan setapak itu. Lampu depan motor terlihat begitu redup. Mungkin karena lampunya, ataukah aki-nya yang harus diganti. “Waah… kesempatan emas, nih. Harus berhasil,” gumamnya dalam hati.
       Suara motor semakin mendekat. Dan mungkin saat ini jarak antara pengendara motor dengannya hanya delapan meter. Dengan penuh semangat tanpa menghiraukan akibat ia menerobos keluar dari semak-belukar.
Bugh…!
Pak Markum berhasil menerjang pengendara motor itu hingga terjatuh. Tanpa basa-basi ia menikam dan merampas motor si pengendara. Lalu meluncur dengan kecepatan penuh. Dalam hatinya ia merasa puas karena rencana jahatnya berjalan dengan mulus dan sempurna. Ia merasa lega kebiasaannya itu telah tersalurkan. Ia masih dan terus meluncur menuju rumahnya. Sebelumnya ia melintasi jurang. Dan membuang penutup kepala beserta sebilah pisaunya ke dalam jurang itu. 
       Ketika sampai di rumah. Dimasukkannya motor hasil curiannya itu di ruang tamu. Dan setelah itu ia duduk di kursi panjang. Sejurus kemudian ia menaikkan kedua kakinya di atas kursi serta bertelentang. Peluh telah membasahi dahinya. Ia merasa begitu letih. Letih karena telah berjibaku dengan pengendara motor tadi. Ia tak menyadari bahwa satu hal yang baru saja ia lakukan adalah musibah baginya. Ia masih terdiam. Dan membiarkan pintu tertutup tanpa dikunci, ia teringat pesan anaknya. Ia pun tertidur pulas.
       Detik demi detik telah berlalu. Menit demi menit juga berlalu.  Dan jam demi jam pun begitu. Bu Ani, istri Pak Markum, bangun dari tidurnya. Ia langsung berwudhu dan mendirikan salat subuh. Usai salat ia menuju ke ruang tamu. Ia mendapati suaminya yang masih terlelap dalam kematian kecilnya. Dengan cara yang begitu halus ia duduk membangunkan suaminya sembari menggerak-gerakkan pundak suaminya.
       “Akang, bangun. Sudah pagi. Akang belum shalat Subuh,” seru Bu Ani.
Dengan tergagap kaget Pak Markum terbangun dan memaki-maki Bu Ani.
       “Hahh.. Ganggu saja kamu! Shalat sendiri sana,” bentak Pak Markum penuh emosi.
       Dengan berat hati bercampur perasaan kecewa Bu Ani meninggalkan suaminya itu. Ia beranjak dari duduknya dan berniat membangunkan anak sulungnya, Irfan. Tumben anak itu belum nampak batang hidungnya pagi ini. Biasanya ia sudah bersih-bersih rumah, pikirnya.
       Di kamar Irfan, Bu Ani tak menemukan siapapun. Dan ia kembali ke ruang tamu. Kali ini ia baru sadar mendapati motor tetangga yang penuh dengan tanah dengan spakbor pecah. Tadi waktu pertama kali ke ruangan ini, ia lengah karena terlalu fokus membangunkan suaminya dan tak sadar bahwa di ruang tamu ada sebuah motor yang bukan miliknya. Sebenarnya ia berharap suaminya mau shalat seperti dulu lagi. Akan tetapi, harapannya itu hanyalah menjadi sebuah harapan yang tak kunjung terwujud.
       “Lho, motor tetangga ada di sini? Apa mungkin akang yang meminjamnya,” ujar Bu Ani dengan nada agak meninggi keheranan. “Atau mungkin Irfan yang meminjamnya?” lanjutnya.
Ia mencoba membangunkan suaminya lagi.
       “Kang! motor siapa ini? Sepertinya motor tetangga sebelah,” kilah Bu Ani.
Saat Pak Markum mendengar suara istrinya mengenai motor, saat itu pun ia teringat dengan kejahatan yang telah diperbuatnya semalam. Ia membuka matanya yang terasa berat untuk dibuka. Seolah-olah ada sesuatu yang menggelayut di sana.
       “Mo… motor tetangga?” gumam Pak Markum dengan bibir begitu kelu.
Kali ini pertanyaaan istrinya dijawab dengan pelan. Rasa kecewa di hati istrinya pun sedikit berkurang.
       “Iya, itu kan motor tetangga. Akang yang meminjamnya?” tanya Bu Ani.
       “Tidak, saya tidak pinjam motor itu,” jawab Pak Markum.
       “Lalu siapa yang meminjamnya? Kok bisa sampai ada di rumah kita? Apa jangan-jangan Irfan yang meminjamnya. Tapi sekarang dia di mana, lho? Di kamarnya malah ndak ada siapa-siapa, Kang,”
       Pak Markum terdiam. Ia berpikir sejenak dan mengamati motor itu. Penglihatannya masih tampak kabur. Lalu kedua tangannya mengusap pelan kedua matanya. Setelah penglihatannya nampak cukup jelas, ia pun menitikkan air mata. Kejujuran adalah hal terpenting untuk disampaikan kepada istrinya saat itu, pikirnya.
***
       Malam hari telah berubah menjadi pagi. Jarum jam telah terdiam untuk sesaat di angka enam. Matahari menampakkan sinarnya dengan redup. Karena saat ini musim hujan telah menaungi desa itu. Cuaca langit pagi itu nampak begitu gelap. Tetes demi tetes air hujan dengan konsisten membasahi tanah-tanah, atap-atap rumah serta tanaman-tanaman di sekitarnya. Dan mungkin pagi itu langit sedang menangis. Ya, menangis. Menangis karena tragedi malam hari yang sangat tragis.
          Karena kebiasaan buruk yang sejak lama bertandang dalam dirinya itu, Pak Markum hanya bisa menangis. Ia terdiam pasrah dan menyesal. Sungguh menyesal. Lalu ia berniat untuk menebus dosa-dosa yang telah ia perbuat itu dengan bertaubat. Namun, walau begitu hukum dunia sudah barang tentu menjeratnya. Lebih-lebih hukum akhirat kelak.
***
                                                       
Jakarta, April 2010
Seperti kejadian yang dituturkan oleh Mbak Hayatun di Jawa Timur