Sobat! Bagaimana perasaan kita jika mendapat sanjungan dari orang lain? Senang bukan? Bahagia karena merasa sesuatu yang kita lakukan itu dihargai, semua yang kita ciptakan itu diapresiasi dengan berbagai macam cara. Ada yang menyanjung kita, lantas memberikan sesuatu yang semakin membuat kita menyungging senyum kepuasan. Bahagia memang, namun tahukah kita jika di balik sanjungan-sanjungan yang kita dapatkan itu bisa membuat kita celaka. Celaka lantaran kita sebagai objek sanjungan tak sadarkan diri karena terbuai dengan sanjungan itu sendiri.

Memang benar sanjungan itu adalah suatu kebaikan, namun kebaikan berupa sanjungan itu akan berubah menjadi sebuah keburukan jika kita tidak menyadari. Jika kita mengalami fenomena semacam ini, kita harus mampu memosisikan diri sebagai diri kita sendiri. Misalnya dengan menyadari bahwa mereka yang menyanjung kita itu hanya melihat kita dari satu sisi. Padahal masih banyak kekurangan yang kita miliki di sisi-sisi lain. Dengan demikian kita tidak mudah puas dan lalai dalam mengoreksi diri. Itulah trik yang paling jitu untuk menghindari teror sanjungan.
Kita bisa mendapati seseorang yang berkreasi kemudian menuai prestasi dengan usia prestasi yang relatif singkat. Bisa jadi hal itu juga disebabkan karena sanjungan. Seseorang yang tak pandai-pandai dalam menyikapi sanjungan-sanjungan dari orang lain akan menyesatkan diri sendiri. Maka dari itu, fokus terhadap diri sendiri lebih penting dibandingkan muluk-muluk menanggapi sebuah sanjungan. Cukuplah tersenyum sembari berkata terima kasih kepada seseorang yang telah menyanjung kita.
Seorang ahli hikmah menuturkan syairnya seperti dikutip di intangirls.multiply.com
“Hai orang jahil yang terbuai dengan sanjungan menghanyutkan. Kejahilan orang yang menyanjungmu jangan sampai menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu. Pujian dan sanjungan itu ia ucapkan tanpa sepengetahuannya tentang hakikat dirimu. Dirimulah yang lebih mengetahui tentang baik buruknya dirimu”
So, jika ada yang menyanjung kita, waspadalah…!! Waspadalah…!! ^_^