“Ya Allah, ternyata dugaanku benar,” kataku membathin.

Lagi-lagi motor mogok. Motor mogok lagi-lagi.
Ini adalah kali kedua motor kesayanganku mogok. Antara semangat dan kecemasan aku masih berusaha menyalakan motor bebek rakitan tahun 2003 itu. berkali-kali motor menyala, namun pada akhirnya mati juga. Padahal perjalanan menuju kampus baru kutempuh 30 persen. Akhirnya kuputuskan untuk menepi di depan bengkel yang sudah tutup. Pakaian serta tasku sudah basah, tapi Alhamdulillah buku-buku di dalamnya tidak terjamah oleh air hujan yang turun pada saat susasana yang semakin lama semakin kelam. Dalam rintikkan air hujan itu aku membuka jok, mengambil jas hujan dan menutupkannya ke motor bagian depan, lebih tepatnya agar karburator motor tidak bertambah penuh oleh air hujan. Dalam tindakanku itu terselubung sebuah harapan, mudah-mudahan selesai hujan motor bisa dihidupkan.


Aku duduk terdiam sembari memandangi motor kesayanganku yang mulai rewel. Sesekali men-jepret jalanan yang mulai dibanjiri air hujan barang me-rileks-kan suasana hati. Hujan semakin lama semakin deras saja. Rasa dingin mulai menguasai tubuhku, menusuk kulit hingga terasa ke tulang-tulangku, ngilu.
Kutanggalkan helm hitam dari kepala. Lalu kubuka tas dan kuambil kopi yang masih hangat di kemasan gelas yang bertuliskan Tupperware. Sambil menghirup kopi hitam itu kualihkan pandanganku ke arloji yang setia melingkar di pergelangan tangan kiriku. Alamak, tak terasa sudah jam setengah tujuh. Di kampus teman-temanku sudah mulai melaksanakan ujian.

Aku masih di depan bengkel. Aku mulai was-was menyaksikan hujan yang tak kunjung reda. Kuamati dengan seksama air hujan yang tengah kosisten membasahi tanah, rumah-rumah, kios-kios, serta bengkel yang di mana saat ini aku beteduh di depannya. “Ya Allah, redakanlah hujan yang Kau turunkan kali ini. Aku harus menghadapi ujian tengah semester,” aku kembali membathin.

Hingga pukul 19.30 WIB, hujan baru memberikan tanda-tanda akan reda. Kembali kuteguk kopi hitamku itu sampai habis tersisa ampasnya. Kuberbenah diri lalu menghampiri motor yang ibarat manusia nampak pucat lantaran kehujanan berjam-jam. Kemudian kukemasi jas hujan yang bertandang di motor. Perlahan kunyalakan mesin motor. Sayup-sayup suara mesin menyala. Tak lama kemudian mati, menyala, mati dan menyala lagi. Kutahan gas hingga mesin motor meraung-raung. Alhamdulillah akhirnya motor kesayanganku kembali menyala.

Kutatap lagi jam tanganku yang bermerk QnQ itu. Aduh, jarum jam menunjuk pada angka 19.35 WIB. Perjalananku ke kampus akan memakan waktu 20 menit, belum lagi ditambah kemacetan yang disebabkan oleh hujan lantaran air hujan yang menggenang di sepanjang jalan. Lantas dengan berat hati kuputuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan kuliah. Hanya saja ada perasaan khawatir dalam benakku.

“Mudah-mudahan dosen pada mata kuliah bersangkutan bisa memaklumi situasi dan kondisi yang aku hadapi saat ini. Aku sudah berusaha, dan aku yakin usahaku ini takkan sia-sia. Aku hanya takut dan trauma dengan nilai E (0,00) yang pernah aku terima di semester IV yang lalu. Sekali lagi, aku tak masuk kuliah dan tak mengikuti ujian bukan tanpa alasan. Harapanku, mudah-mudahan ada ujian susulan.” Tegasku dalam hati.