Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apa kabar Pak Syarif? Mudah-mudahan Anda sekeluarga masih diberikan kesehatan dan kenikmatan dalam mengarungi samudera kehidupan oleh Allah Swt.

Pak Syarif, setahu saya Anda adalah seorang dosen/motivator yang memiliki semangat luar biasa. Di beberapa kegiatan, baik seminar maupun dalam mengajar di perkuliahan, Anda selalu menggebu-gebu dalam menyampaikan pesan dan motivasi. Semangat Anda untuk kami sangatlah patut diacungi jempol. Maka dari itu, bagi saya pribadi, Anda adalah sosok yang tak tergantikan.


Menurut hembusan angin yang saya tangkap dalam kegiatan perkuliahan pada hari Sabtu, 12 November 2011 yang lalu, Anda berniat untuk keluar dari zona aman. Anda hendak berhenti dari aktivitas yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya adalah berhenti sebagai dosen. Mendengar ucapan Anda pada saat itu, saya merasa bingung dengan nasib semangat saya ke depannya, khususnya semangat saya dalam hal menulis karya non fiksi (jurnalistik).

Semangat dan minat saya dalam ilmu jurnalistik muncul seiring kemunculan Pak Syarif itu sendiri. Yakni pada masa-masa kuliah di UNINDRA, khususnya di semester V ini. Sejatinya saya adalah mahasiswa yang tertarik dengan ilmu sastra (fiksi). Tak pelak saya seringkali menulis cerpen, puisi atau novel yang tak kunjung rampung. Tak dapat saya pungkiri pula saya pernah menimba ilmu di FLP DKI Jakarta. Dalam forum itu saya mengambil kepelatihan cerpen. Selain itu, saya juga pernah menimba ilmu di Writer University, yakni kepelatihan ‘menulis berbasis otak’. Tak cukup sampai di situ, dalam perkuliahan saya juga mengambil RABAS (Rangkuman Analisis Bacaan Sastra).

Pak Syarif, memang benar saya  meminati ilmu Sastra, tetapi saya juga tertarik dengan ilmu jurnalistik yang sudah cukup lama Anda geluti. Saya pun memutuskan untuk mengikuti jejak Anda dengan menggeluti ilmu Jurnalistik tanpa harus meninggalkan ilmu Sastra. Dalam kegiatan belajar saya, seperti menulis cerpen dan puisi, saya juga belajar menulis berita karena saya ingin seperti Anda. Maka dari itu, dengan perubahan terhadap diri saya yang sangat signifikan ini sangat disayangkan jika terbengkalai lantaran keputusan Anda untuk berhenti menjadi dosen. Tak ada yang saya khawatirkan dari keputusan Anda itu kecuali semangat saya yang akan berkurang. 

Saya secara pribadi sangat menyayangkan dan turut prihatin jika benar Pak Syarif berhenti menjadi dosen dan motivator bagi saya, bagi teman-teman saya di Bumi Unindra (mahasiswa semester V kelas S5A), begitu pun bagi teman-teman saya di KJ-Post dan Sutera. Kami semua masih membutuhkan sosok seperti Anda. Kami pun tak mampu menemukan sosok seperti Anda melainkan Anda.

Pak Syarif, kami sangat memahami, walaupun seseorang itu berada di titik yang aman seperti Anda, kalau sudah bertahun-tahun, lambat laun seseorang tersebut akan menemui titik jenuh. Titik jenuh itu muncul lantaran aktivitasnya yang cenderung monoton. Begitu pun dengan Anda, kini Anda berada pada titik jenuh yang amat luar biasa. Akan tetapi, tolong Anda rela bertahan untuk tetap menjadi dosen dan motivator bagi kami. Kami masih membutuhkan ilmu dari Anda.

Pak Syarif, kami berharap Anda mengurungkan niat baik Anda untuk menghargai diri, berhenti beraktivitas yang melelahkan karena tubuh kita memang membutuhkan hal itu. Namun, kami juga tak ada henti-hentinya berdoa untuk Anda agar Allah tetap selalu memberikan kesehatan dan umur panjang untuk Anda serta keluarga Anda. Tak jarang pula kami menghayal betapa nikmatnya jika kami memetik kesuksesan, menjadi sosok seperti Anda.

Terima kasih atas jasa-jasa Anda, wahai dosen yang sangat berpengaruh. Hari ini Anda sangat luar biasa. Salam antusias dan salam DAHSYAT.

Wassalamualaikum Wr. Wb. ^_^

Dari mahasiswa UNINDRA yang mengagumi Anda
Ghofar El Ghifary