Pagi itu langit desa Banjaran tampak begitu gelap. Tubuhku terasa begitu berat untuk bangun dan mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Entah kenapa. Mungkin istilah lain, nyawaku belum terkumpul semua. Lalu aku duduk dan kugerak-gerakkan tangan serta leherku untuk senam ringan. Sekilas kulihat jam yang senantiasa menggantung di dinding kamar. Dan kutemukan jarum jam menunjuk angka tujuh. Tak lama kemudian ayah muncul dengan menyungging senyum bijaksana. Benar bijaksana. Bijaksana bukan karena dibuat-buat. Tetapi ayahku memang bertabiat seperti itu. Tanpa basa-basi ia berkata kepadaku.


“Nak, sudah bangun! Persiapan sekolah yuk.”
Aku menganggukkan kepala. Dia  pun berlalu dari hadapanku. Aku keluar dari kamar. Dan kudapati ayah meraih handuk yang ada di atas kursi. Lalu ia mengulurkan handuk itu kepadaku.
“Jangan lupa gosok gigi ya,” kata ayah.
“Iya Yah,” jawabku.

Bagi  orang kampung seperti aku dan ayah sudah menjadi hal yang biasa menggosok gigi setelah bangun tidur. Padahal aturan yang benar untuk kebersihan dan kesehatan adalah menggosok gigi pada malam hari sebelum tidur.

Aku sudah selesai mandi dan sudah memakai seragam batik putih karena kebetulan hari ini hari kamis. Kualihkan pandanganku ke luar rumah. Tiba-tiba air hujan mengguyur desaku. Aku menuju ruang tamu. Kudapati ayah sedang duduk menghirup kopi hitam dari hasil tumbukannya sendiri. Lalu ia meraih piring kecil yang berisi singkong rebus di hadapannya. Kubiarkan ayah menikmatinya. Setelah ayah selesai menikmati semua hidangan itu. Aku langsung menyapanya.

“Ayah…”
“Heh…” jawab ayah dengan suara asal jawab.
“Hujannya sangat deras. Aku tidak usah masuk sekolah ya,” pintaku kepadanya.
“Jangan begitu Nak. Walau bagaimanapun kamu harus tetap sekolah. Jadikanlah hujan itu sebagai tantangan, bukan halangan. Ah masa karena hujan saja kamu sudah menyerah,” ulas ayah dengan agak meledek dan menyemangatiku.
“Tapi aku tidak suka jalan di jalanan yang becek Yah. Apalagi sudah pasti kehujanan,” aku beralasan.
“Hemm… jangan lah Nak. Jangan sampai kamu tidak masuk sekolah. Ya sudah, sekarang ambil payung di atas lemari. Ayah antar kamu ke sekolah.”
“Tapi aku kan tidak suka jalan di jalanan yang becek Yah.” Aku kembali mencoba beralasan dengan alasan yang sama.
“Ayah gendong. Yang penting kamu masuk sekolah,” kata ayah sambil tersenyum seraya mencium keningku.
“Iya deh,” jawabku sambil membalas senyumnya.
Dan ayah pun duduk jongkok. Aku memeluk erat punggung ayah. Badannya terasa hangat. Sepertinya beliau sedang sakit.
“Ayah sedang sakit ya?” tanyaku pada ayah.
Ia diam sejenak. Aku mencoba melihat wajahnya. Kutemukan wajahnya begitu pucat. Setelah ia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya, ia langsung menjawab pertanyaanku.
“Tidak Nak. Ayo kita berangkat.”

Aku tak mampu berbuat apa-apa selain menganggukkan kepala. Bibirku terasa kelu. Hatiku terasa disayat sembilu. Dan hanya doalah yang selalu terlintas di bathinku, mudah-mudahan ayah baik-baik saja. Ia begitu semangat dalam memperjuangkan cita-cita anaknya. Cita-citaku. Dari situlah kuberjanji akan belajar sungguh-sungguh, tidak ingin mengecewakan ayahku. Ku bertekad dengan sebulat-bulat tekad untuk meraih cita-citaku, harapan ayah. Mungkin baginya aku adalah harapan satu-satunya, atau harapan terakhirnya. Karena aku dua bersaudara. Dan kakakku saat ini telah putus sekolah semenjak ia duduk di bangku SD. Aku tahu, ayah sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa kakakku itu. Aku harus berjuang, tak boleh putus asa. Aku harus mampu untuk menuntaskan sekolah. Ya paling tidak menyandang status sarjana.

Ayah berjalan menerobos hujan menuju sekolahku. Perjalanan yang lumayan melelahkan. Jarak antara rumahku dan sekolah lebih dari satu kilometer. Aku yang digendong, tinggal duduk berpegangan saja terasa lelah. Apalagi ayah. Ia masih terus bersemangat menelusuri jalan setapak. Kebun demi kebun ia lewati. Ia berjalan dengan kaki telanjang. Sesekali ia menginjak sesuatu yang membuat kakinya terasa sakit. Tetapi ia masih tetap berjalan. Celana panjangnya basah kuyup terkena air hujan bercampur lumpur yang menggenang di jalan. Hujan semakin lama semakin mereda. Kami sebentar lagi sampai di sekolah. Dan kudapati baliho besar yang bertuliskan, Sekolah Islam MI AN NAFI’AH. Alhamdulillah, ternyata kami sudah sampai di sekolah. Dan di sana Pak Burhan, selaku wali kelasku telah menunggu. Setelah kita saling berhadapan, ayahku menyungging senyum dan mengucapkan salam kepada Pak Burhan. Pak Burhan pun tersenyum serta menjawab salam ayah. Ayah berjabat tangan dengannya, dan aku mengikutinya. Setelah itu aku langsung menuju kelasku. Menyapa teman-temanku yang sudah cukup lama menunggu. Ayah berbincang-bincang dengan Pak Burhan. Entah apa yang dibicarakan. Mungkin tak jauh dari perkembangan belajarku. Sekilas Pak Burhan melihat kebawah. Dan ditemukannya kaki Ayah yang tidak memakai alas kaki dan telah berlumuran darah.

Masya Allah Pak, kenapa kakinya berdarah?” tanya Pak Burhan setengah kaget.
Lalu ayah melihat kakinya yang tanpa ia sadari telah seperti itu.
“Owh, tidak kenapa-kenapa kok Pak Bur.” jawab ayah dengan memanggil sapaan akrab Pak Burhan.
“Jangan dibiarkan Pak. lukanya cukup parah.”
“Hmm… pantas saja terasa perih.” gumam ayah.
Tanpa diminta, Pak Burhan langsung menuju kantor sekolah. Mengambil P3K dan kembali menemui ayah. Ayah mengobati lukanya.
“Terima kasih banyak, Pak Burhan. Ya sudah sekarang saya pamit dulu. Assalamu’alaikum” kata ayah tersenyum sembari meminta diri.
“Sama-sama. Wa’alaikumussalamwarohmatullah.” jawab Pak Burhan.

***

       Hari sudah semakin siang. Sekarang pukul setengah sebelas siang. Bel sekolah berbunyi tiga kali. Pertanda kegiatan belajar mengajar telah usai. Aku keluar dari kelas dan kutemukan ayah telah menungguku di bawah pohon yang ada di depan kelas sambil berbincang-bincang dengan penjual jajanan. Dan dalam perbincangannya kali ini, kudengar mereka membicarakan tanaman tembakau. Tanaman yang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat dimusim yang akan datang. Musim kemarau. Bagi rakyat seperti kita musim kemarau adalah musim uang, karena tanaman tembakau tergolong tanaman yang sangat tinggi harganya. Begitu pun tergantung dari kualitasnya. Aku berjalan mendekati mereka. Ayah yang melihatku langsung menyapaku dengan mengucapkan salam sembari tersenyum kepadaku. Aku menjawab salamnya dengan tersenyum pula. Ayah selalu mengajarkan aku untuk mengucapkan salam jika bertemu dengan setiap muslim. Tetapi malah akunya yang bandel. Aku selalu lupa jika akan berbuat demikian.

          Ketika perbincangan ayah dengan penjual jajanan selesai, aku merengek-rengek meminta pulang. Ayah pun menuruti permintaanku. Kali ini ayah dan aku pulang dengan mengendarai sepeda. Sepeda yang terbuat dari besi tua. Dan catnya sudah terkelupas, nyaris tak tersisa. Dalam perjalanan pulang, kudapati kaki ayah yang dibungkus hansaplast dan masih ada sedikit percikan darah di sekitarnya. “Duh, kayaknya sakit banget. Sampai ayah mengayuh sepeda dengan meringis.” gumamku dalam hati. Aku ingin bertanya pada ayah mengenai hal itu, tetapi dengan penuh perhatian ayah menanyaiku terlebih dahulu.

“Nak, kamu kenapa? Kok cemberut. Tadi kamu juga tidak sepenuh hati menjawab salam ayah. Ada masalah?” ayahku bertanya memberondong.
“Ada PR Yah.” Jawabku.
“Oh ya, PR apa? Kok ada PR malah cemberut. Seharusnya kamu senang. Itu pertanda kalau bu guru sayang dan memperhatikan perkembangan belajar para siswanya,” urai ayah.
“PR matematika. Perkalian dan pembagian. Tapi aku tidak bisa Yah,” jawabku polos.
“Kau pasti bisa Nak. Ayah akan mengajarimu,” hibur ayah kepadaku.
Aku terdiam dan mencoba mengalihkan pembicaraan
“Ayah kan pernah berjanji kepadaku, ayah lupa ya?” tanyaku padanya. Ia berpikir  sejenak.
“Janji kan harus ditepati Yah,” aku kembali berseloroh.
“Iya, iya, ayah tidak lupa Nak. Janji membelikan mobil-mobilan ya? Janji ayah kan nanti kalau ayah sudah menjual jagung hasil panen dari ladang kita. Kalau saat ini uang ayah belum cukup, harga mainan yang kau minta terlalu mahal,” tukasnya.

Dan aku kembali terdiam. Apakah yang kuminta pada ayah ini terlalu memberatkannya. Aku ingin menarik permintaanku, tapi aku ingin memiliki mobil-mobilan itu. Rasanya aku ingin menangis. Di satu sisi aku berharap keinginanku itu bisa terwujud. Tetapi di sisi lain aku telah menyusahkan ayahku. Aku bingung,  kembali terdiam tanpa kata. Dan tanpa terasa kami sudah sampai di rumah. Sesampai di rumah, aku lekas mengganti seragam sekolah dengan kaos sepak bola kesukaanku. Kaos Manchester United. Kaos hadiah dari ayah ketika aku berhasil menghafal ‘juz amma’. Sesekali kudongakkan kepala, kumelirik jam butut yang sudah ada sebelum aku lahir. Dan kutemukan sekarang jam sebelas lebih tiga puluh. Aku menuju dapur, siapa tahu ibu sudah pulang dari pasar. Ternyata ibu belum pulang juga. Ibu berangkat ke pasar jam empat pagi, dan pulang jam satu siang. Kumencari-cari ayah. Entah menghilang kemana. Suasana rumah saat itu tampak begitu sepi. Tak ada satu orang pun di dalamnya kecuali aku. Tiba-tiba ayah datang dan membawa mobil-mobilan yang aku inginkan. Dengan sigap aku langsung berlari mendekati ayah sambil berteriak-teriak kegirangan. Kuraih mobil-mobilan yang ada di tangan ayah. Dengan ceria kumainkan mobil-mobilan berwarna merah itu sambil bibir mengatup bersuara tak ubahnya suara mobil. “Ngeeeeng.. ngeeeeng..” kulihat ayah menatapku dengan penuh senyum. Dan sejenak aku berpikir. Lalu bertanya pada ayah.

“Yah, kok sudah beli mobil-mobilan. Memangnya ayah udah menjual jagung yang di kebun? Kan pohon jagungnya baru berbunga,” tanyaku ingin tahu.
Ayah mengulang senyumnya. Dan rasa ingin tahuku semakin menjadi-jadi.
“Belum,” jawab ayah singkat.
“Terus, beli mobil-mobilan ini uangnya dari mana?” tanyaku lagi.
“Tadi ayah pergi ke ladang untuk melihat perkembangan kebun jagung kita. Tetapi sebelum ayah sampai di ladang, ada teman ayah yang membayar hutangnya pada ayah. Di situ ayah langsung berpikir untuk membelikan mobilan-mobilan yang kamu minta. Dan uangnya masih tersisa, untuk jajan dan sekolahmu,” ulas ayah dengan tersenyum lebar. Aku cengar cengir. Hatiku sangat senang. Senang kegirangan.
“Nak,” tegur ayah dengan mimik serius.
“Kenapa Yah,” jawabku dengan bentuk wajah bengong melongo.
“Kalau kita mendapatkan rizki, atau sesuatu apa pun. Kita harus bersyukur. Alhamdu..” ayah mengajariku bersyukur dengan memancing kalimat hamdalah.
Lillah.” Jawabku.
“Yang lengkap sayang,” kata ayah tersenyum lagi.
Alhamdulillah.” jawabku sembari memainkan mobil-mobilan baruku.

Hatiku begitu senang. Ayah kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Padahal ia sedang sakit, tetapi ayah tidak mau mengakuinya di hadapanku. Ia lebih memilih menyembunyikannya dan membahagiakan anaknya. Dan saat ini aku sibuk dengan mobil-mobilan baruku. Ngeeeeeng…!! Ngeeeeeeng…!! Tiiiiit. Tiiiiit…!

# Syukron Laka Ya Abiy #

*Cerpen oleh: Ghofar El Ghifary
Cerpen ini menduduki juara harapan II pada perlombaan cerpen inspiratif yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena Jakarta