Sebagai alumni SMP Al-Qalam tahun 2005/2006, hanya Anda yang terlihat mengabdi untuk sekolah tersebut. Apa motivasinya?
Sampai detik ini status saya kan anak rantau. Saya berasal dari Jawa Timur dan hijrah ke Jakarta atas ajakan paman saya yang kebetulan mengurus SMP Al-Qalam juga asrama di Jakarta. Nah, selama saya sekolah di SMP tersebut dan tinggal di asrama tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Saya mendapat fasilitas asrama dan sekolah gratis. Jadi setelah saya lulus SMP lalu melanjutkan ke MA At-Tahiriyah dan sekarang kuliah di UNINDRA, saat itu sudah mengabdi untuk SMP Al-Qalam. Karena saya merasa berhutang budi untuk SMP dan asrama. Dulu, saya diasuh oleh kakak-kakak senior saya, dan sekarang saya mengasuh adik-adik junior saya.



Jadi, sudah berapa lama Anda bekerja (mengabdi) untuk SMP Al-Qalam?

Kelas satu SMA saya masih tinggal di asrama dan mengabdi di sana. Kemudian kelas dua dan tiga saya masih tetap tinggal di asrama dan mengabdi untuk asrama juga SMP. Jadi merangkap. Lalu, setelah lulus SMA saya tinggal di SMP dan mengabdi sepenuhnya untuk SMP sampai sekarang, kuliah semester empat. Jadi, ya empat tahunan lah.

Apakah ada teman mengabdi yang lain di lulusan angkatan Anda selain Anda?
Ada. Namanya Samsudi. Dia santri asal Pontianak, Kalimantan Barat. Setelah lulus SMA dia sempat ditugaskan di Padang, lalu ditarik kembali ke Jakarta. Sebenarnya kita ada empat orang yang mengabdi untuk asrama selama SMA. Saya, Samsudi, Latif dan Raiyan.

Apa yang Anda kerjakan selama mengabdi di SMP Al-Qalam?
Kebersihan lingkungan sekolah adalah tanggung jawab saya, dari kantor, kelas, kamar mandi dan halaman. Namun, seiring berjalannya waktu saya merasa sempit dan saya sering sakit-sakitan karena lelah. Dengan banyaknya tugas yang saya emban sedangkan tangan saya hanya dua dan tenaga pun terbatas. Akhirnya, saya minta keringanan tugas. Sekarang kelas dan halaman sekolah menjadi tanggung jawab siswa sesuai jadwal piket.
Apakah ada pekerjaan lain yang juga Anda tangani?
Ada. Selain kebersihan saya juga ditugaskan untuk membantu keperluan TU. Saya menjadi staff TU. Lalu, tanpa disuruh oleh siapa pun saya berinisiatif untuk mengadakan mading sekolah. Alhamdulillah, sekarang mading sudah masuk edisi ke duabelas.

Anda sendiri yang menangani mading sekolah?
Tentu tidak. Saya memilih beberapa siswa dari kelas tujuh dan delapan untuk bergabung di meja redaksi. Kelas Sembilan tidak saya pilih karena mereka harus fokus menghadapi UN.

Apa harapan Anda selama mengabdi?
Untuk diri pribadi saya berharap bisa menggali lubang ilmu sedalam-dalamnya dan selebar-lebarnya. Di antaranya ilmu tentang menangani mading. Saya sebagai ketua redaksi masih harus banyak belajar tentang pers. Selain itu ilmu tentang mengajar dari guru-guru senior saya karena menjadi guru dan penulis adalah cita-cita saya.

Pernahkah Anda diberi tawaran untuk mengajar?
Pernah. Tapi saya malah ragu-ragu. Akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak menerimanya.

Mengapa Anda ragu-ragu dan tidak menerima?
Ya saya ragu-ragu karena pelajaran yang ditawarkannya bukan bidang saya. Walaupun sebenarnya saya bisa tapi kalau tidak mumpuni untuk apa. Saya takut nantinya malah tidak bermanfaat untuk siswa-siswa. Bidang saya kan Bahasa dan Sastra Indonesia, jadi saya hanya bisa percaya diri menerima kalau ada tawaran untuk mengajar pelajaran Bahasa Indonesia.

Pernahkah Anda mendapat tawaran dari sekolah lain?
Pernah. Untuk mengajar pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SD. Lagi-lagi saya tidak menerimanya juga karena lokasinya sangat jauh. Hehe…***

Profil
Nama                     : Ghofar El Ghifary
TTL                        : Bojonegoro, 10 Maret 1989
Hobi                       : Membaca, menulis, makan dan futsal
Cita-cita                 : Menjadi guru dan penulis yang berdedikasi tinggi
Status                     : Mahasiswa

Minat                     : Menjadi wartawan