(Mading ‘Dwi-Mingguan’ edisi ke-XVII, 1/12/2011)

Oleh Hamzah Puadi Ilyas

Dimuat di Suara Karya

Jalan yang penuh kerikil itu menebarkan debu. Lengang berkuasa, bersekutu dengan pohon-pohon kamboja yang berbaris sepanjang pagar batako yang sudah bolong-bolong. Undakan-undakan yang berbaris rapih di balik tembok itu juga diam. Hanya papan nama di salah satu ujungnya saja yang mungkin bisa berbicara, memberitahukan tanggal lahir dan tanggal kematian.

Anjing kotor berbulu coklat itu tetap membuntuti lelaki kumal berambut panjang kusam yang berjalan sambil menyeret kakinya yang mengenakan sandal jepit berbeda ukuran dan warna. Anjing itu juga duduk di tanah sambil menjulurkan lidahnya saat lelaki itu duduk di atas bongkahan batu di bawah sebuah pohon rindang yang daun-daunnya seukuran telapak tangan pria dewasa.

Lelaki itu menyeka keringatnya dengan lengan yang ditutupi kaos warna putih penuh noda. Butir-butir keringat yang bercampur debu di sekitar dahi dan lehernya hilang. Namun warna kecoklatan menampakkan diri pada lengan kanan kaos itu, dan kemudian berpindah lagi pada bagian kirinya.

Mata lelaki itu tertuju pada jari-jari kakinya yang berwarna hitam karena telah menginjak jalan becek dekat pasar yang warna lumpurnya segelap malam. Ia terpaksa menceburkan kakinya di jalan itu karena takut dikejar massa.

* * *

Lelaki itu hanya bisa menatap daging-daging yang tergantung di pasar, mendengar canda para penjualnya, dan melihat orang-orang pulang sambil menenteng kantong plastik hitam. Warna daging yang merah dan aromanya yang khas membuatnya teringat istri dan anak laki-laki satu-satunya yang ingin sekali merayakan hari raya dengan makan rendang daging.

“Kapan kita beli daging, Pak?” Kata istrinya. “Orang-orang sudah mulai membuat rendang. Baunya sampai tercium ke rumah kita. Hari ini sebelah kanan, kemarin sebelah kiri. Mungkin besok dari belakang rumah kita.” Lalu istrinya berbicara tentang para pedagang daging yang mulai menggantung dagangan mereka di pinggir-pinggir jalan memasuki pasar.

“Ibu.” Anak laki-laki mereka yang berbadan kurus muncul. “Apakah hari raya nanti kita bisa makan rendang daging seperti dulu. Sudah lama sekali kita tidak makan daging.”

“Tanyakan sama bapakmu,” kata ibunya. “Kapan ia bisa beli daging.”

Tidak tahan melihat ocehan istri dan rengekan anaknya, lelaki itu lalu mengambil pisau yang terbungkus sarung. Ia pergi meninggalkan rumah tanpa bicara apa-apa. Tatapan mata istrinya enggan mengikuti langkah lelaki itu. Wanita itu hanya berpikir paling-paling ia akan pulang dengan tangan kosong seperti biasanya. Kadang dalam hati ia menyesal telah menikah dengan lelaki tersebut.

Lelaki itu menuju ke pasar dan menawarkan diri kepada beberapa pedagang daging untuk membantu mereka berjualan dengan upah satu atau dua kilo daging sapi. Tetapi tak ada satu pun pedagang yang mau menerimanya. Bahkan seorang pedagang hanya menawarkan diam saja, pura-pura sibuk melayani pembeli.

Tidak menyerah, lelaki itu mendatangi seluruh pedagang daging yang ada di pasar tersebut. Akhirnya, pedagang terakhir yang dikunjungi – sepasang kakek dan nenek – mau menerimanya membantu asalkan upahnya hanya satu kilo jeroan, bukan daging. Lelaki itu bersedia dari pada tidak mendapatkan apa-apa.

Saat hari telah jauh lewat siang, daging yang dijual habis. Sesuai dengan janji yang diucapkan, si kakek lalu memberi sekilo jeroan yang dibungkus plastik warna hitam. Lelaki itu lalu pergi melewati belakang pasar yang agak sepi.

Dari balik tempat sampah tiba-tiba muncul seekor anjing yang kemudian mengejar lelaki itu dan menggigit ujung celana panjangnya. Lelaki itu lalu menakut-nakuti anjing tersebut dengan suara dari mulutnya. Anjing itu diam sebentar, tetapi kemudian terus mengikuti lelaki tersebut saat ia kembali melangkah.

Merasa tidak suka diikuti, lelaki itu lalu menendang anjing tersebut. Anjing itu mundur pelahan terkena tendangan kaki kanan, tapi binatang itu terus mengikutinya. Lidah anjing itu menjulur seperti menyatakan kelaparan. Beberapa saat kemudian timbul rasa kasihan pada lelaki itu. Ia kemudian memberikan beberapa usus sapi kepada si anjing yang langsung melahapnya tanpa sisa.

Selesai melahap pemberian lelaki itu, binatang tersebut tetap mengikuti ke mana pun ia melangkah, seolah masih tetap merasakan lapar dan masih mengharapkan pemberian dari lelaki itu lagi. Timbul kembali rasa kasihan di hatinya karena terus saja diikuti oleh si anjing, sehingga ia kembali memberikan jeroan kepada anjing itu sampai tak ada sisa sama sekali, hanya sebuah kantong plastik hitam kosong yang kemudian dibuangnya.

Ia kini tak punya apa-apa lagi untuk dibawa pulang. Hanya sebilah pisau yang terselip di pinggangnya. Anehnya, anjing itu masih saja mengikutinya sambil terus menjulurkan lidah.

Dari arah berlawanan ia melihat seorang wanita yang tampaknya seperti pembantu rumah tangga sedang berjalan sambil menenteng belanjaan. Timbul suatu gagasan di benaknya. Saat wanita itu lewat di depannya, ia segera menarik baju wanita itu dan mengarahkan pisau ke wajahnya. Muka wanita itu berubah menjadi sangat pucat.

“Berikan belanjaan kamu.”

Wanita itu dengan gemetar menjatuhkan belanjaannya ke tanah. Segera lelaki itu menggeledah isi kantong plastik. Tapi ia tidak menemukan bungkusan daging yang sedang dicarinya. Hanya ada sayuran, ikan asin serta beberapa potong tempe dan oncom. Karena kecewa, lelaki itu lalu menyuruh wanita itu untuk pergi. Dengan terburu-buru ia melangkah meninggalkan lelaki yang kecewa itu.

Setelah jarak mereka cukup jauh, tiba-tiba wanita itu berteriak ‘rampok’ sambil jarinya menunjuk ke arah lelaki itu. Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi tersebut menoleh ke arah lelaki itu. Menyadari situasi yang tidak memungkinkan, ia kemudian berlari kencang diikuti oleh seekor anjing.

* * *

Hari telah mulai remang, tapi lelaki itu masih duduk di bongkahan batu ditemani seekor anjing yang masih tetap menjulurkan lidahnya. Lelaki itu menatap kepada anjing yang lama-kelamaan seolah seperti ingin mengatakan sesuatu. Lelaki itu memasang telinganya, lalu seolah menangkap pesan dari anjing itu yang menyuruh lelaki itu untuk menyembelihnya.

“Aku tidak mau, nanti sifatku seperti anjing.” Kata hatinya berucap. Tapi kemudian anjing itu seolah berkata lagi bahwa ia sebenarnya bukan anjing biasa, melainkan suatu penjelmaan malaikat yang memang diutus untuk membantu manusia yang sedang dalam kesulitan, apalagi jika manusia itu baik dan suka memberi makan hewan yang kelaparan.

“Aku tidak percaya.” Kata hati lelaki itu masih mengingkari bisikan-bisikan yang masuk di telinganya. Tapi bisikan-bisikan itu makin terus menyundut pikiran dan hatinya sehingga lambat-laun ia mulai meraba gagang pisau yang dibawanya.

“Cepat!” Suara itu terdengar keras, bagai pemicu yang menggerakkan tangannya untuk menyambar leher anjing. Dengan cepat ia mencabut pisau dari sarungnya.

“Berhenti! Jangan lakukan itu!” Tiba-tiba muncul sosok berjenggot dalam jubah warna putih menghentikan gerakan tangan lelaki itu saat sisi tajam pisau akan menyentuh leher anjing. “Kamu tidak boleh makan anjing, binatang itu haram.” Sosok itu berkata lagi dengan tutur kata yang manis tapi tegas.

Lelaki itu menjadi diam dan ragu-ragu.

“Jangan percaya kata-katanya.” Kini anjing itu benar-benar bisa bicara. “Dia itu iblis yang sedang menggodamu. Ingatlah kisah Nabi Ismail yang ingin disembelih oleh bapaknya. Bukankah saat itu iblis datang menggoda? Agar ia tidak mengikuti perintah Tuhan.” Lelaki itu masih memegangi leher anjing. “Lemparlah iblis itu dengan batu yang ada di dekatmu!” Anjing itu memberi perintah.

Lelaki itu lalu memungut batu yang ada di dekat kaki kanannya dan dengan sekuat tenaga melemparnya ke arah sosok berjenggot yang sedang berdiri. Seiring dengan lemparan batu, sosok itu lalu hilang diikuti oleh kata-kata yang mengatakan bahwa lelaki itu akan menyesal jika masih terus mengikuti keinginannya.

“Cepat sembelihlah aku. Istrimu sedang menanti dengan bumbu rendang yang sudah siap.” Anjing itu berkata. “Juga anak laki-lakimu yang sedang menanti kedatanganmu. Tidakkah kau sayang mereka?”

Akhirnya lelaki itu memotong leher anjing yang sejak siang tadi mengikutinya. Ia lalu menguliti dan memotong-motong daging anjing itu menjadi bagian-bagian kecil.

Daun-daun kamboja banyak yang berguguran.

* * *

“Bapak tidak makan?” Suara anaknya terdengar, membangunkan lelaki itu dari lamunannya. Anak itu sangat menikmati sekali rendang yang baru selesai dimasak oleh istrinya bersama nasi hangat.

Istrinya datang dengan membawa sepiring nasi hangat dan tiga potong rendang yang disodorkan ke hadapannya. Tapi ia menolak dengan mengatakan bahwa ia belum lapar. Langsung saja istrinya memakan makanan tersebut.

“Daging ini enak sekali. Tidak seperti biasanya.” Kata istrinya sambil terus mengunyah.

“Iya, benar.” Anak laki-lakinya menyahut, lalu meminta tambah lagi beberapa potong rendang.

Mereka berdua tertawa-tawa senang tanpa mempedulikan lelaki itu yang sedang melamun, membayangkan kata-kata sosok berjenggot yang kini kembali bergema di telinganya. Ibu dan anak itu tanpa sadar telah menghabiskan lebih dari setengah rendang daging yang telah dimasak.

 

Saat malam tiba dan mereka sedang tertidur lelap, lelaki itu tiba-tiba terjaga karena dikejutkan oleh suara nafas anjing. Sewaktu ia mencari sumber suara, ternyata suara itu datang dari arah anaknya yang sedang tidur tidak jauh dari tempatnya. Ia berdiri dan berjalan ke sudut ruangan untuk menyalakan lampu minyak tanah. Cahaya terang menerangi ruangan sempit itu.

Alangkah terkejutnya ia setelah mengetahui ternyata suara itu berasal dan mulut anak laki-lakinya. Ketika mendekat, ia makin terkejut dan seperti ingin melompat begitu melihat kepala anaknya seolah bertelinga seperti anjing. Ia mundur beberapa langkah dan mulutnya bergerak-gerak bagai melantunkan sesuatu. Suara yang keluar dari mulut anak lelakinya itu kini makin mirip suara dengkur anjing.

Ia menoleh ke arah istrinya untuk membangunkannya. Lagi-lagi, ia terkejut dan hampir berteriak ketika dilihatnya istrinya pun memiliki telinga yang mirip telinga anjing dan juga mulai memperdengarkan suara anjing dalam dengkur nafas tidurnya. Ada lidah yang menjulur dari mulut berbentuk aneh.

Lelaki itu seperti kehilangan keseimbangan, dan tanpa sadar ia menjatuhkan lampu minyak itu ke lantai yang segera membakar seprei. Ia menutup mata, tak ingin melihat mereka berubah menjadi anjing.

Dengan cepat api menjalar dan berubah menjadi besar, melahap bangunan yang terbuat dari kayu dan tripleks. Lelaki itu berlari ke luar rumah dengan cepat untuk menghindari api yang mulai terasa panas tanpa mempedulikan apa-apa lagi.

Dalam jarak beberapa meter, ia jatuh tersungkur dan menangis. Dari tempatnya berlutut ia mendengar suara dua lolongan anjing yang terdengar bagai minta tolong. Dari kobaran api, samar-samar ada bayangan anjing yang telah disembelihnya. Anjing itu tidak menjulurkan lidahnya melainkan tersenyum. Senyum iblis.

*###*