(Mading ‘Dwi-Mingguan’ edisi ke-XVII, 1/12/2011)

Menjadi seorang guru adalah tugas yang mulia. Mungkin bisa dibilang tugas yang paling mulia di antara tugas – tugas yang lain. Banyak manusia sukses dari peran seorang guru. Mulai dari rakyat jelata hingga pejabat, mulai rakyat kecil hingga presiden, mulai dari orang pinggiran hingga orang gedongan. Semuanya menjadi bisa apa saja karena didikan seorang guru. Coba saja buktikan sendiri kalau tidak percaya. Anda datang pada seorang menteri dan tanya, dulu sekolah dasar/madrasah di manakah anda? Pasti dia akan menjawab, saya sekolah di madrasah/sekolah dasar ini itu. Ada gurunya nggak di sana? Pasti ia menjawab ada. Atau anda tanya pada seorang petani yang telah sukses meraup jutaan rupiah dari hasil pertaniannya, pak tani anda sukses seperti ini sekolah Mi/SD ndak dulu? Pak tani pasti akan menjawab, ya, saya sekolah di sekolah ini itu. Atau mungkin anda seorang blogger. Saya tanya, apakah anda pernah belajar dulu di MI / SD? Semoga anda akan jujur menjawabnya. Jadi tidak ada kesuksesan tanpa sentuhan tangan – tangan trampil seorang guru. Kita bisa blogging ini jasa guru punya peran awal atau dasar yaitu mengajarkan kita membaca dan menulis. Tanpa membaca dan menulis yang diajarkan oleh seorang guru, mungkin kita hanya terlongong-longong ( bloon banget ) melihat internet.

Tapi tahukah anda bahwa tugas seorang guru, di samping kemulyaan, ia memiliki beban yang sangat berat. Tidak hanya tanggung jawab yang berat, tapi juga kenyataan bahwa murid-muridnya ketika SD/MI, yang sekarang telah sukses menjadi orang besar, tidak mau melihat atau tidak memandang sebelah mata pun pada dirinya. Lupa pada guru sekolah dasar atau Madrasah Ibtidaiyah di mana dulu ia ditempa menjadi murid yang bisa membaca dan menulis. Itulah yang penulis ( maaf ) rasakan. Seperti anda ketahui bahwa saya mengajar di sebuah madrasah di sebuah Pondok Pesantren.

Banyak murid-murid saya, kini telah menjadi orang pintar dan telah menggendong titel sarjana-sarjana. Terkadang saya merasa kecil di hadapan mereka. Karena saya kan hanya tamatan MA (Madrasah Aliyah setingkat SLTA). Kadang mereka ketemu dan berpapasan dengan saya, senyum saja tidak. Jangankan menunduk untuk memberi hormat. Jangankan memberi salam. Menoleh saja tidak. Bahkan kadang saya lihat mereka sebenarnya bertemu saya lalu membuang muka seakan gengsi kalau punya guru seperti saya. Nasib nasib. Saya yakin masih banyak kejadian-kejadian serupa yang dialami seorang yang lain.

Bagaimana kawan, bagi saya ini adalah cobaan batin yang sangat berat menjadi seorang guru. Guru memang tugas yang sangat mulia dan terhormat. Banyak orang akan menghormati orang yang menjadi guru. Tapi ingin dimulyakan dan ingin dihormati adalah penyakit batin yang harus dibuang jauh-jauh. Guru, saya yakin dia tidak gila hormat dan kemulyaan. Karena kemulyaan berasal dari Allah SWT. Tapi bisakah kita menghargai paling tidak bahwa guru itu pernah kenal dengan kita dan kitapun kenal dengan guru tersebut. Dengan bagaimana? Dengan cara menyapanya. Dengan cara memberikan senyuman sebagai tanda sapaan. Kalau tidak menyapa sama sekali, tidak senyum sama sekali, bukankah seakan-akan guru tersebut tidak ada di dunia ini? Seakan dalam kehidupan kita tidak pernah bertemu dengan guru yang telah mengajarkan kita bisa membaca menulis.

Itulah mungkin sekedar ungkapan batin (curhat la yau) bahwa betapa berat tugas seorangguru. Pantas bagi mereka diberi gelas Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Padahal jasanya sangat besar. Pahlawan tanpa Tanda kehormatan karena kurang diingat dan kurang dihormati. Padahal tugasnya sangat terhormat.

Pahlawan tanpa tanda kemulyaan. Pada tugasnya sangat mulya. Tapi karena saya juga adalah seorang guru, semoga masih diberikan keikhlasan yang sedalam-dalamnya dalam mendidik anak-anak bangsa ini. Bukankah bangsa yang besar jika orang-orangnya memiliki pendidikan dan pengetahuan yang luas. Semoga hanya Allah yang akan memberikan kemulyaan dan kehormatan yang setinggi-tingginya. Tidak ada kehormatan dan kemulyaan yang melebihi kehormatan dan kemulyaan dari Allah SWT. Ya, Allah berilah hambamu yang lemah ini rizqi keikhlasan dalam menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu dan dalam segala ketaatan kepadaMu. Amien ya ‘Aliim Ya Fattaahu ya Mubiin.

 

Sumber: http://muktiblog.com/pesan-hidup/cobaan-paling-berat-bagi-seorang-guru