(Mading ‘Dwi-Mingguan’ edisi ke-XV, 1/11/2011)

Cerpen oleh: Suhairi Rachmad*

Dimuat di Republika

 

SUARA azan itu seperti selalu menggema dari load speaker masjid di kampung ini. Padahal, Suparto, yang biasa mengumandangkan azan, sudah meninggal dunia dua minggu yang lalu. Orang-orang setengah percaya setengah tidak. Mana mungkin Suparto kembali melantunkan azan. Tak mungkin ada orang lain yang menggantikan posisi Suparto melalui suara dan alunan yang sama dengan cara azan Suparto.

Orang-orang berduyun-duyun mendatangi masjid. Mereka ingin memastikan, apakah Suparto hidup lagi atau ada orang lain yang menggantikan posisinya sebagai muazin. Di halaman masjid, tak seorang pun berani mendekati mimbar atau sekadar mendekati pintu masjid. Jangan-jangan pelantun azan tersebut roh Suparto yang gentayangan dan sudah menjadi pocong.

Setelah hampir satu jam menunggu, ternyata tak seorang pun yang keluar dari masjid. Orang-orang membubarkan diri sambil menyimpan tanda tanya dalam diri mereka masing-masing.

“Tak mungkin ada orang lain yang melantunkan azan di masjid itu,” kata seseorang.

“Iya. Apalagi, suara itu mirip suara Suparto. Itu bukan suara siapa-siapa. Itu pasti suara Suparto,” yang lain menanggapi.

“Kau betul. Jarang sekali dua orang memiliki kemiripan suara, termasuk irama dan tangga lagunya ketika melantunkan azan.”

Suparto tak pernah absen melantunkan azan lima kali sehari, yakni ketika Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Namun, orang-orang sepertinya tak menghiraukan panggilan shalat tersebut. Tak seorang pun yang mau melaksanakan shalat berjamaah bersama Suparto. Ia melantunkan azan sendiri, ikamah sendiri, lalu melaksanakan shalat sendiri. Sebenarnya, ia ingin sekali melaksanakan shalat berjamaah. Memperoleh pahala dua puluh tujuh kali lipat. Namun, bagaimana caranya agar dia memperoleh berlipat ganda pahala ketika tak seorang pun mau menemaninya melaksanakan shalat berjamaah?

Suparto seperti hidup seorang diri. Bahkan, ia sering dicibir dan dicemooh tetangga.

“Sok suci.”

“Sok alim.”

“Paling-paling, nantinya hanya jadi teroris.”

Cibiran dan cemoohan tak ditanggapi serius oleh Suparto. Ia tetap melantunkan azan, ikamah, lalu melaksanakan shalat fardhu di masjid tersebut. Sebelum memulai shalatnya, ia kembali menoleh ke kanan dan kiri. Barangkali, ada seseorang yang datang ke masjid dan mau melaksanakan shalat berjamaah. Namun, Suparto selalu tak menemukan siapa-siapa. Kembali ia melaksanakan shalat seorang diri. Persis di tempat imam. Paling depan. Barangkali, beberapa saat kemudian, masih ada seseorang yang datang dan melaksanakan shalat di belakang Suparto sebagai makmum.

***

Setiap Jumat pagi, Suparto membersihkan lingkungan masjid. Rumput-rumput yang menjalar dicabuti. Daun-daun yang berserakan dipungut satu per satu. Lalu, dikumpulkan dalam sebuah kubangan di pojok kiri halaman masjid. Bebatuan sebesar kepalan tangan orang dewasa juga dipindah ke pinggir. Gundukan-gundukan tanah dicangkuli hingga menjadi rata.

Lantai masjid disapu hingga bersih. Sawang-sawang yang menggantung di setiap pojok dibersihkan dengan menggunakan sapu lidi yang disambungkan pada sebuah bambu sepanjang tiga meter. Sesekali ia harus mengerjapkan sorot matanya. Kotoran-kotoran yang terlepas dari ujung sapu sesekali menimpa sudut matanya.

Kamar kecil tempat wudhu dibersihkan. Keran air yang selalu macet diperbaiki. Ia berharap, hari Jumat ini, lingkungan masjid menjadi indah, bersih, dan asri. Namun, yang lebih penting, hari ini orang-orang mau menghadiri masjid dan melaksanakan shalat Jumat.

Setelah matahari condong ke arah barat, tak seorang pun yang datang. Suparto hanya duduk sambil menopangkan kedua tangan pada dagunya yang lancip. Ia tak mungkin melaksanakan shalat Jumat seorang diri.

Suatu pagi, Suparto mendatangi tetangga yang rumahnya berdekatan dengan masjid. Ia meminta agar masjid di kampung itu menjadi ramai dengan shalat berjamaah setiap saat. Lalu, melantunkan ayat-ayat suci selepas shalat Subuh.

“Pak Midun, alangkah baiknya jika kita melaksanakan shalat jamaah bersama setiap saat. Apalagi, pahalanya dua puluh tujuh kali lipat dibanding shalat sendirian,” bujuk Suparto.

“Maaf, Mas Parto, saya sangat sibuk. Apalagi, kalau azan Zhuhur, saya masih bekerja di sawah. Baru pulang ke rumah menjelang Maghrib,” jelas Pak Midun beralasan.

Tak seberapa lama, Suparto pindah ke rumah di sebelahnya.

“Pak Dulla dan Mas Rizal, bagaimana kalau kita sama-sama melaksanakan shalat berjamaah di masjid kampung ini. Selain pahalanya berlipat, juga dimudahkan rezeki, lho,” kata Suparto mengiming-imingi dengan ucapan ‘dimudahkan rezeki’.

“Maaf, Nak Parto, saya shalat di rumah saja. Lagi pula, dari dulu, saya shalat di rumah, kok,” kata Pak Dulla yang juga beralasan.

“Kalau aku memang jarang shalat. Jadi, ngajak yang lain aja.” Rizal malah mengatakan yang sebenarnya bahwa dia memang jarang melaksanakan shalat walaupun dalam KTP-nya tercatat sebagai pemeluk agama Islam.

Suparto juga mendatangi kantor-kantor yang berdekatan dengan masjid. Ia mengajak pegawai kantor agar melaksanakan shalat berjamaah, sekali saja setiap hari. Namun, semuanya menolak.

Sebenarnya, Suparto juga tergolong orang yang sibuk. Sebagaimana mayoritas penduduk di kampung itu, Suparto juga menggarap lahan: membajak dan mencangkuli sawah menjelang musim tanam, memberi pupuk, serta menjaga tanaman dari serangan hama. Ia juga harus menyabit rumput untuk dua ekor sapi dan dua ekor kambing. Namun, setiap menjelang shalat Zhuhur atau Ashar, Suparto menghentikan pekerjaannya. Pulang ke rumah, ia mandi, berpakaian rapi, lalu pergi ke masjid untuk persiapan mengumandangkan azan. Sebelum matahari terbenam, Suparto kembali berada di masjid, baru pulang setelah shalat Isya. Begitu juga ketika menjelang shalat Subuh. Ia lebih awal bangun tidur daripada para tetangga yang lain.

Setiap menjelang Lebaran, para tetangga berdatangan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Suparto mendata para tetangga yang berhak menerima zakat. Beras yang terkumpul dibungkus lagi sesuai jumlah warga yang berhak menerimanya. Walaupun bertindak sebagai amil zakat, Suparto tak mengambil sebiji pun dari zakat yang terkumpul. Ia lebih senang makan dari hasil keringat sendiri.

“Saya hanya sebagai muazin di masjid. Jadi, zakat fitrah ini akan saya bagikan kembali kepada yang lebih berhak dan lebih membutuhkan,” kilahnya.

Hampir satu bulan, Suparto tak berhasil mengajak seorang pun melaksanakan shalat jamaah di masjid. Namun, ia tetap melantunkan azan setiap saat. Membersihkan pekarangan masjid, memperbaiki keran air yang tersumbat, atau membakar tumpukan sampah yang mulai memenuhi sebuah kubangan di pojok kiri halaman masjid.

Menurut mendiang ayahnya, azan Suparto seperti suara muazin yang mengumandangkan azan di radio-radio. Maklum, ia adalah alumnus pesantren terkemuka di kampung sebelah. Maka, tidak heran jika lantunan azan Suparto mengalun hingga ke sudut-sudut kampung, seperti dibawa angin musim kemarau. Namun, tak seorang pun yang mau memperhatikannya, apalagi menjawab panggilan shalat tersebut.

Sejak dua minggu yang lalu, orang-orang mulai merasa kehilangan. Suparto menghadap sang Ilahi. Tak seorang pun yang bisa dan mau menggantikan Suparto sebagai muazin di masjid tersebut. Tak seorang pun yang mau membersihkan masjid: menyapu lantai dan halamannya, memungut dedaunan kering yang berserakan, atau memperbaiki keran air di tempat wudhu.

Kini, halaman masjid mulai dipenuhi daun-daun yang berserakan, lantainya berdebu, sel pintunya semakin berkarat, setiap pojok dipenuhi sawang-sawang, dan tak ada aliran air setelah satu-satunya keran tempat wudhu macet beberapa hari yang lalu.

Setiap menjelang shalat, load speaker di kubah masjid selalu melantunkan azan. Persis seperti suara Suparto ketika azan. Orang-orang berkumpul di halaman masjid. Namun, hingga beberapa jam menunggu, mereka tak menemukan siapa-siapa. Ruangan masjid kosong. (*)

Sumenep, 19 September 2010

*Suhairi Rachmad lahir di Sumenep, Madura. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Jember dan mantan ketua umum Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Jember. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media nasional. Sebagian puisinya dimuat dalam antologi bersama Puisi Rakyat Merdeka (Radio Nederland, Belanda, bekerja sama dengan PT Grasindo tahun 2003) dan 142 Penyair Menuju Bulan.