(Mading ‘Dwi-Mingguan’ edisi ke-XIV, 1/10/2011)

SAYA lahir dari keluarga Hindu. Ayah saya dari Bali, sedangkan ibu Banyuwangi. Keduanya seorang guru. Sejak kecil, keluarga tinggal di Banyuwangi. Karena tinggal di daerah muslim, setiap hari saya bergaul dengan teman-teman muslim. Anehnya, saya justru merasa nyaman dan senang berada di tengah-tengah mereka.

Meski beragama Hindu, tapi sejak kecil saya merasa tidak diajarkan banyak hal tentang agama saya. Beda halnya dengan teman saya yang Muslim. Ketika SD, mereka sudah hafal berbagai doa sehari-hari. Mereka juga tiap hari melakukan ibadah lima waktu. Yang membuat saya lebih tertarik lagi, perempuannya mengenakan kerudung. Terlihat begitu anggun dan sopan. Hal itu membuat saya iri.

Suatu kali,  di Bali sedang ramai berita bom. Islam kala itu dihujat habis-habisan. Tak sedikit yang mengatakan Islam agama “radikal” dan “teroris”. Karena itu, banyak orang yang takut Islam. Tapi, saya tidak demikian. Bagi saya, para turis itulah yang “teroris moral”. Mereka datang ke Bali dan hanya mengenakan two piece saja. Saya memang tidak membenarkan pengeboman itu, tapi saya yakin jika Islam agama yang bagus. Dan itu seperti yang tercermin dari teman-teman muslim saya.

Kasus itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk mengetahui Islam. Bahkan, sejak itu saya tertarik dengan Islam. Saya mulai banyak membaca buku-buku Islam. Mulai dari fiqih, shalat, dan akhlak dalam Islam. Saya pun semakin tertarik. Sejak itu pula, saya tidak segan-segan bergaul dengan kawan muslim. Saya tanya tentang Islam. Alhamdulillah, respon mereka sangat bagus. Mereka begitu antusias berbagi tentang Islam kepada saya.

Di antara mereka, ada satu teman yang lebih perhatian kepada saya. Ia mengajarkan saya banyak hal. Di antaranya shalat dan membaca al Quran. Meski saya masih beragama Hindu, tapi saya melakukannya dengan senang hati, tanpa paksaan.

Kecintaan saya pada Islam kian menggelora. Akhirnya, di hadapan teman tersebut, saya mengikrarkan syahadat. Saya pun resmi jadi  muslim meski hanya saya dan dia saksinya.

Masuknya Islam saya belum diketahui ibu. Ketika itu, ayah sudah meninggal sejak saya masih kecil. Saya lakukan itu sengaja karena takut ibu sedih dan menangis terus. Sebab, saya paling tidak ingin melihatnya mengeluarkan air mata.

Akhirnya saya melakukan ibadah secara sembunyi-sembuyi. Jika shalat, saya selalu menutup pintu, takut jika ibu saya tahu.
Tapi lambat laun, akhirnya ibu mengetaui juga. Syukurlah, ia tidak marah dan menangis. Ia hanya bilang kenapa saya tidak terus terang. Padahal, katanya, jika terus terang, ia tidak akan memarahi saya gara-gara masuk Islam.

Lulus, SMA saya kemudian melanjutkan kuliah ke Malang Jawa Timur. Saya kuliah di perguruan swasta dengan jurusan komunikasi. Di tempat baru ini, saya bertemu banyak kawan muslim. Saya bisa belajar lebih dalam tentang Islam. Dengan bertambahnya ilmu saya pun semakin mantap menjalankan Islam. Saya begitu bangga menjadi muslim. Saya juga merasakan kebagiaan luar biasa. Hal yang tidak saya rasakan sebelum ini.

Subhanallah, ternyata Allah juga membukakan pintu hidayah kepada ibu saya. Tidak lama setelah kuliah, ibu ternyata masuk Islam. Keputusan itu ia ambil karena ingin dekat dengan saya. Ia ingin agar doa anak ke ibu tetap nyambung. Jika satu agama, maka doa akan satu jalur. Tidak beda jalur. Lebih dari itu, ibu ingin tetap membahagiakan keluarga.

Alangkah berbunga-bunganya hati saya ketika itu. Saya pun semakin rajin beribadah. Ini adalah nikmat Allah terbesar bagi saya. Ibu, orang yang saya sayangi masuk Islam dan seakidah dengan saya. Tahu hal itu, saya pun memperbaharui syahadat. Di hadapan seorang ustadz di samping rumah dengan disaksikan banyak orang saya pun bersyahadat.

Kendati sudah menjadi muslim, bukan berarti jalan untuk berjumpa dengan Allah kelak di akhirat mulus. Aral yang melintang tetap menghadang. Bahkan datang bertubi-tubi. Jika tidak sabar dan istikomah, bisa jadi, kesucian yang telah saya sandang bisa terkotori.  Karena itu, saya berdoa kepada Allah agar selalu menamcapkan hidayah dan pertolongan-Nya untukku dan ibuku.

Kini saya bekerja di sebuah radio dakwah di kota Batu, Malang. Di tempat ini, saya berusaha memberikan terbaik. Selain tetap terus menimba ilmu dan mengamalkannya, saya juga ingin berdakwah, agar orang tahu bahwa Islam itu agama yang benar dan penuh dengan kebahagiaan.* Diceritakan Efixdent kepada hidayatullah.com

Sumber: http://hidayatullah.com/read/16999/14/05/2011/saya-bangga-jadi-muslim.html