(Mading ‘Dwi-Mingguan’ edisi ke-XIV, 1/10/2011)

Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Dimuat di Suara Karya

Mas Eko Endarmoko sudah menyiapkan berbagai piranti untuk menyambut Lebaran. Kue kering beberapa kotak, sirup Marjan beberapa botol, dan juga kurma walaupun selama Ramadhan banyak orang sudah makan kurma tetapi tamu-tamunya nanti ada juga yang bukan muslim dan tidak makan kurma.

Selain itu, dia sudah menyiapkan dua ekor ayam kampung yang akan disembelih sehari sebelum lebaran, dan istrinya akan memasak lontong dan akan mempersilahkan tamu-tamunya menikmati lontong dengan lauk opor ayam.

Andaikata dia punya banyak uang, dia ingin menyembelih kambing dan mengantar gulai kambing serta sate kepada para tetangga.

Tetapi untuk membeli kambing ditabungnya sedikit demi sedikit agar nanti waktu Idhul Adha dia dapat membeli seekor kambing qurban.

Dengan pikiran pikiran itu dia melewatkan hari hari berbuka puasa, salat tarawih, dan makan sahur. Setiap kali menyelesaikan kegiatan itu dia tak lupa bersyukur, walau tak punya uang banyak, dia selalu merasa kaya raya, apalagi saat rumahnya diserbu fakir miskin yang minta zakat Walau dia tahu, hak mereka mendapatkan zakat (dan akan mereka terima melalui bazis) dia tak berhenti memberi mereka barang lima ratus rupiah, namun saat mereka terus datang membanjir, dengan berat hati dia berkata:

“Maaf, untuk Ramadhan ini cukup sekian. Nanti saudara-saudara cari di bazis aja saat malam lebaran.”

Tak mungkin dia mengeluarkan uang lebih banyak, sebab lima ratus rupiah kali sekian puluh menguras koceknya. Istrinya juga mengabarkan bahwa dia tak punya uang lebih kecuali untuk belanja sehari-hari.

Belum lagi kedua anaknya pasti minta dibelikan kain sarung baru dan baju koko baru dan juga peci baru. Eko mencoba membujuk mereka untuk mengenakan peci yang lama saja, dan hasilnya wajah cemberut muncul.

“Sabarlah, dan juga bergembira. Allah mengasihi ummatnya yang sabar.”

Eko punya niat membelikan mereka baju koko baru serta juga peci baru, namun sementara ini uang untuk membelinya belum tersedia.

Dia ingin mereka merasa bangga dengan pakaian baru itu saat shalat Iedul Fitri, pulang dari lapangan dengan wajah berseri-seri lantaran kembali fitri. Ah, siapa tahu nanti dia mendapat rejeki tak terduga dari kantor, walaupun kantor sudah lama tak pernah memberikan hadiah lebaran mendadak, siapa tahu tahu ini para pimpinan lembaganya tergerak hati untuk memberi kejutan yang melegakan hati.

Sampai sepekan sebelum lebaran, belum juga ada kejutan itu. Lima hari, empat hari, tiga hari, sampai datangnya takbir, tak ada orang mengetuk pintu. Istrinya sudah mulai menjerang air dan memasak lontong yang akan mereka santap esok hari setelah shalat Ied.

Santapan sederhana yang dapat dinikmati bersama keluarga dan juga para tamu yang mudah-mudahan kebagian karena hanya dua ekor ayam yang akan disembelih.

Namun, ketika beduk ditabuh bertalu-talu, istrinya berteriak:

“Pak, dimana ayamnya?”

“Kan di dalam kurungan.”

“Kosong!”

“Kosong?”

“Aduh!” terasa kepalanya dipukul palu godam.

“Kemana harus kucari?” “Cepat ke tempat Bik Siti yang jualan ayam potong. Mungkin masih ada sisa.” Istrinya melaju ke rumah Bik Siti dengan membawa uang belanja yang seharusnya dibelikan lauk setelah lebaran nanti.

Istrinya segera balik dan bernapas lega:

“Untung masih ada sisa, namun bukan ayam utuh. Yang ada ayam broiler yang dijual kiloan, dan dapat hanya sekilo, itu pun berupa kepala ayam, ceker ayam, dan sisa-sisa beberapa potong sayap yang tak habis terjual, padahal ayam kita ayam kampung pasti lebih sehat.”

“Ya, kita harus tetap bersyukur tetapi tentu tak bisa menyajikannya pada tamu.

Kita makan sendiri. Anak-anak biar makan sayap, sedangkan kita makan ceker dan kepala.”

“Syukur aku paling senang makan kepala ayam,” kata istrinya.

“Sepulang dari shalat Ied, anak-anak menyerbu meja makan, dan ibunya langsung mengambilkan mereka makan lauk sayap ayam.”

“Bu, kok hanya sayap?”

“Biar kalian bisa terbang mencapai cita-citamu!”

Dan Eko akan sigap mengais-kais rejeki dengan cakar ayam. Itu memang tugas kepala rumah tangga, pikirnya.***

Singaraja, 2010