(Mading Dwi-Mingguan edisi ke-XI, 1/6/2011)

Oleh: Fanny Jonathans Poyk

Dimuat di Jurnal Nasional

          Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu hari kematianmu? Stres, mungkin iya. Atau bisa saja kau mengakhiri hidupmu agar berjalan lebih cepat dari datangnya hari kematianmu itu. Mungkin juga kau akan menjadi gila dan merasa hari yang datang dan berlalu bagai gugurnya dedaunan kering yang telah layu dan tak bermakna. Kau gundah, gelisah. Barangkali kau akan menghujat Tuhan dan berteriak mengapa? Mengapa semua ini terjadi padamu. Sepanjang sisa hidupmu pastinya Kau akan dicekam rasa takut, rasa tak nyaman dan selalu dalam keadaan tidak menyenangkan.

Itulah yang kini kurasakan. Sebelumnya, perkenalkan, namaku Johan. Orang-orang di sekelilingku akrab menyapaku Pak Jo. Seperti yang sudah kukisahkan tadi, aku sudah tahu kapan aku akan mati. Aku merasakan kematian yang kian mendekat adalah perjalanan waktu yang sangat mendebarkan sekaligus menakutkan.

Barangkali jika Elie Wiesel dalam bukunya Night melihat holocaust di kamp konsentrasi Auschwitz sebagai kebiadaban manusia terhadap manusia, maka aku merasakan apa yang kualami lebih dari itu. Menurutku, Elie masih lebih beruntung karena ia hanya melihat orang-orang Yahudi yang bergiliran masuk ke ruang gas untuk dikremasi, Elie masih memiliki kesempatan untuk bernegosiasi dengan waktu, dengan usianya.

Sedang aku? Ah, selain statusku duda dengan lima anak yang ditinggal kabur isteriku setelah menjalani perkawinan panjang yang penuh komplikasi dan ironi itu, keadaanku mungkin lebih buruk dari Elie. Aku sudah tahu kapan aku akan mati. Kanker otak yang menggerogoti kepalaku, perlahan-lahan membesar, sedikit demi sedikit sel-sel yang menggumpal dan membentuk sekelompok zombie itu bersiap-siap memakan tiap jaringan isi kepalaku, invasi sel-sel kanker ganas ke dalam batok kepalaku, bagai nano teknologi yang ditembakkan ke pembuluh venaku. Chip kecil dari teknologi nano itu seharusnya bergerak cepat menelusuri dan mematikan sel-sel kanker yang ada di kepalaku. Namun, kali ini berbeda, nano teknologi telah berubah menjadi kembang kol yang berwarna merah darah, gumpalan kembang kol itu terus merekah dan menggurita, ia melumpuhkan segala sistem imum yang ada di diriku.

***

          Aku akhirnya tak berdaya. Aku hanya bisa menyesali keberadaanku sebagai manusia. Dalam diam, batinku terus bertanya, mengapa setelah isteriku pergi aku menerima segala derita berkepanjangan tanpa jeda. Mengapa penyakit ini tidak menyerang para koruptor, para pemeras atau para pemanipulasi fakta? Mengapa aku yang diserang? Apakah ini dosa masa laluku?

Dosa? Dosa macam apa yang telah kubuat? Gumamku. Di negara ini, besarnya dosa bisa dimanipulasi dengan berbagai perangkat yang jitu dan matang. Dengan limpahan uang, konspirasi untuk meringankan dosa bisa dilakukan, bisa dihapus, dan bisa direkayasa. Dosaku toh tidak sebesar dosa para koruptor, para pemalsu tanda tangan, para konspirator, para penjilat, dan para lainnya. Aku hanya salah satu dari kaum marjinal yang mengenyam pendidikan tidak terlampau tinggi.

Dosa yang kerap kuingat adalah dulu aku suka mempermainkan wanita, dengan wajah tampanku dan sedikit rayuan gombal yang kubumbui dengan kata-kata manis, mereka bertekuk lutut padaku. Tapi, untungnya, mereka tidak sampai hamil karenaku. Kupikir itu bukanlah dosa yang besar. Itu adalah bagian dari perjalanan waktu masa mudaku. Jika demikian, mengapa penyakit laknat dan biadab itu datang menggerogotiku? Mengapa dokter memberikan vonis mati dengan mengatakan usiaku tinggal satu tahun lagi? Dokter itu mungkin salah. Dia merasa dirinya pengejawantahan dari malaikat pencabut nyawa yang seenaknya mematok batas umurku. Aku berharap dokter itu telah salah mendiagnosis.

***

          Di kamarku yang sepi, aku merenungi takdirku, sesungguhnya aku bagai bujang tua yang loyo dan tak berdaya. Sepinya kamar berukuran empat kali tiga meter tempatku berbaring membuatku kian merana. Aku teringat kelima anak-anakku. Di mana mereka kini? Apakah ibu mereka telah mencekoki mereka dengan kisah-kisah nyinyir bernada miring tentangku? Ah, aku mendesah.

Kenangan manis saat aku bertemu dengan isteriku, saat aku memadu kasih, saat kelahiran lima anak kami, saat janji untuk saling setia di depan altar pupus sudah. Semuanya berganti dengan hari-hari kelabu yang diwarnai caci maki, teriakan kasar, dan saling menyalahkan. Cinta telah tergerus bersama berlalunya waktu, cinta telah lenyap bersamaan dengan munculnya kekurangan-kekurangan di antara kami.

Jeanete isteriku mulai menyadari wajah tampanku bukan sagalanya. Kala kebutuhan ekonomi kian merangkak naik, kala anak-anak bertambah besar, kala biaya pendidikan mulai menjadi masalah, isteriku meradang. Bom waktu yang berdetak lambat akhirnya berjalan dengan cepat, aku tidak juga memperoleh pekerjaan yang pasti untuk anak-anak dan isterinku. Aku kian tenggelam dalam ketidakberdayaan dan merefleksikan semua rasa putus asaku dengan menjadi peminum sejati. Aku telah berubah menjadi pecundang tanpa makna.

Jeanete berontak. Perempuan cantik dengan tubuh sintal dan kulit kecokelatan nan eksotis itu menyadari bahwa aku bukanlah suami yang tepat untuknya. Ia sadar bahwa dirinya masih memiliki pesona ragawi dengan nilai jual yang lumayan mahal. Perempuan itu mulai menyusuri remangnya malam. Dalam sekejap ia telah bermetamorfosis menjadi penjinak laki-laki dengan bayaran yang lumayan tinggi, ia melenggang dari pelukan satu bos kaya ke bos kaya lainnya. Aku melihat semua itu dengan lemah, mataku yang sayu tak kuasa memacu tenagaku untuk sekadar bertanya atau menegur semua yang dilakukan isteriku. Aku tak punya nyali untuk menentangnya, sebab aku tak punya lagi kemampuan untuk memberikan nafkah pada anak-anakku.

Jeanete tercinta semakin menjauh, dia tak bisa lagi kurengkuh. Dia telah berubah menjadi wanita flamboyan berbau wangi dengan segala pesona ragawi bagi tiap lelaki. Aku, pria yang bernama Johan, terpuruk dalam kesalahan yang tidak bisa termaafkan. Aku merintih, menangis dalam kamarku yang pengap, menyesali semuanya tanpa bisa bertindak apa-apa. Aku merasa merasa ada dan tiada.

Tatkala kelima anakku memutuskan untuk ikut ibu mereka, aku terduduk lunglai, aku hanya bisa menatap kepergian anak-anakku dalam diam, aku tak mampu menahan mereka, sebab aku hanya bisa mendengar waktu yang berdetak cepat dan pasti.

***

          Hampir dua puluh tahun aku merajut kasih bersama isteriku. Kini kisah kasihku berakhir sudah. Cinta membara dan asmara menggelora yang aku ciptakan membias menjadi serpihan-serpihan luka tanpa meninggalkan bekas kenangan indah yang kami ciptakan dulu. Kini kami bagai dua makhluk yang saling membenci dan penuh dendam. Bila kuingat semua itu, aku merintih, kenangan itu bagai elegi duka yang tak mampu kutolak.

Vonis kematian itu kian mengoyak-ngoyak dinding jiwaku. Aku merasa hancur. Suara sang dokter saat mengatakan, “Saya tidak bisa menentukan sampai kapan Anda bisa bertahan hidup. Mungkin paling lambat lima tahun lagi, atau paling cepat satu tahun. Semua tergantung dari kuasa Tuhan. Penyakit kanker otak Anda tidak dapat disembuhkan. Jalan satu-satunya yang harus Anda lakukan adalah berdoa dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa!”

Rasanya ucapan dokter itu telah membuatku menjadi manusia yang berada di titik nol. Aku ingin menjerit dan mengabarkan pada siapa saja tentang kepedihanku. Tapi, apa gunanya? Rumput pun enggan berkompromi denganku, sebab aku kini bukan lagi siapa-siapa, aku hanya seorang lelaki tua tanpa isteri, tanpa anak, tanpa pekerjaan, dan tanpa kasih sayang.

***

          Kini, di tengah rasa sepi yang menggerogotiku, aku bertanya pada alam dan pepohonan, adakah sedikit bahagia bisa kureguk? Aku, makhluk teralienasi dari kehidupan ini mencoba menghibur diri dengan membuat beberapa bait puisi. Entah ke mana puisi itu hendak kutujukan, kepada siapa. Yang pasti, aku tak berharap ada sedikit belas kasih bisa kuterima, dan aku tahu itu adalah hal yang sangat mustahil. Inilah puisi yang kuharap bisa dibacakan oleh seseorang kala hari kematianku tiba.

Aku adalah salah satu dari sekian laki-laki yang tak berdaya

Aku manusia paling tak berguna dari semua manusia yang ada

Aku adalah seonggok makhluk dengan seonggok penyakit yang berkuasa dan menjadi tuan dari tubuhku

Aku bukan siapa-siapa

Aku aku juga tak berharap bantuan siapa-siapa

Sebab aku tahu mereka pun tak akan memalingkan wajahnya padaku

Aku adalah seonggok raga tanpa arti yang terbuang dari ramainya belantara ego…

Aku yang lemah

Aku yang tak berarti

Aku yang tak berharga

Aku adalah onggokkan daun-daun kering yang membusuk bersama basahnya hujan…

Maka, sebelum aku benar-benar mati, kutaruh puisi ini di samping tubuhku. Aku hanya berharap anak-anakku mau membacakannya di sisi mayatku yang telah terbujur kaku. Itu sebabnya, sebelum aku benar-benar kecewa, aku harus mendahuluinya, sebelum kanker otak itu kian merusak seluruh jaringan sel-sel yang ada di tubuhku, aku harus mengalahkannya. Dan akhirnya, di sinilah aku. Mungkin, saat ini orang-orang yang datang ke hari kematianku melihat sebuah pisau tajam yang ada di sisi tubuhku. Mungkin mereka heboh karena pisau itu kugunakan untuk memotong urat nadiku. Tidak apa-apa. Yang pasti elegi panjang tuntas sudah. Aku kini bukan lagi siapa-siapa. Aku tak lagi merasakan penderitaanku. Semuanya sudah berakhir.

(Sesudah Johan menghembuskan napasnya terakhirnya, dokter yang merawatnya datang tergopoh-gopoh ke rumahnya untuk mengabarkan kekeliruan selama ini. Bahwa sesungguhnya ia tidak terserang penyakit kanker otak. Surat keterangan dari Rumah Sakit Umum Daerah menjelaskan bahwa Johan hanya menderita migrain biasa, penyakitnya hanya akan kambuh bila ia stres memikirkan nasibnya. Sang dokter berdiri dengan kaki gemetar di hadapan jasadnya. Sang dokter hanya mampu berkata pelan, “Terlambat sudah…”).

Cipete, Desember 2009