Belum lama ini ada sesuatu yang unik yang terjadi di Smp Al-Qalam. Yaitu, setiap siswa Smp Al-Qalam (santri asrama Marhamah, Red.) melanggar peraturan di antaranya; keluar asrama tanpa izin, bermain playstation, internet, berkelahi, terlambat kembali ke asrama usai liburan dsb. akan dipotong tabungannya. Hal itu sesuai dengan yang diungkapkan oleh bendahara Smp Al-Qalam, ustadz Mahmud“Siapa yang melanggar peraturan, baik di asrama maupun di sekolah, akan dipotong tabungannya.”

Sepertinya peraturan ini dijadikan sebagai batu loncatan dari peraturan sebelumnya. Yakni, pihak pelanggar mendapatkan hukuman push up, dibotak, dipukul dengan rotan, atau ditidurkan di halaman. Jadi, logikanya, siswa-siswa Smp Al-Qalam lebih sayang dengan uang tabungannya dibandingkan dengan dirinya yang dihukum fisik. Dan sudah jelas bahwa semakin banyak peraturan yang dilanggar, semakin banyak pula uang tabungan yang dipotong.

Menurut ustadz Mahidin, selaku Kepala Sekolah Smp Al-Qalam, siswa yang melanggar sudah tidak mempan jika hanya dihukum fisik. Dengan hukuman potong tabungan siswa lebih merasa khawatir untuk tidak jajan dan kemudian mentaati peraturan. Selain itu, hukuman fisik juga kurang mendidik. “Anak zaman sekarang susah dikasarin, kalau dikasarin ya semakin melawan. Berbeda dengan zaman saya dulu (masa pimpinan ustadz Abdul Manan, Red.) Mendengar suara Pak Manan saja sudah kalang-kabut,”  lanjutnya menutup pembicaraan.

Senada dengan ucapan ustadz Mahmud dan ustadz Mahidin, ustadz Suriadi selaku pimpinan asrama hanya mengamini. Beliau seolah-olah menurut dan menyetujui peraturan yang baru mulai berjalan. “Yang penting bagaimana caranya meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di smp maupun asrama. Agar santri yang melanggar juga jera,”  ujarnya menyetujui lantas tersenyum.

(GFR, Staff TU)