Segala sesuatu adalah Allah yang menentukan. Hujan turun, panas matahari yang menyengat, banjir, kebakaran. Semua itu adalah Allah yang menentukan. Adakalanya mati lampu, seperti yang dialami oleh siswa-siswa Smp Al-Qalam pada hari kamis, 24 Maret yang lalu. Ketika itu, mati lampu terjadi lantaran ada beberapa saluran listrik sekitar yang sering konsleting dan harus diperbaiki. Dan saat itu seluruh siswa-siswa Smp Al-Qalam memasuki waktu belajar jam kedua. Dengan suasana yang cukup genting itu, akhirnya siswa-siswa Smp Al-Qalam pun belajar di rumah Allah yakni di Masjid Baitul Karim yang terletak tak jauh dari sekolah.

Awalnya. Pak Ruslan, selaku guru Ilmu Pengetahuan Alam kelas tujuh saat itu kelimpungan dan sempat mangkir di kantor sekolah lantaran belum tahu di mana tempat yang nyaman untuk belajar. Ia pun sempat bertanya kepada wakil kepala sekolah, Ustadz Mahmud.

“Ustadz, anak-anak belajar di mana, nih?” tanyanya polos.

“Di masjid, Pak Ocan,” kilah Ustadz Mahmud menyebut nama sapaan akrab Pak Ruslan.

“Di masjid? Oke, deh!” jawab Pak Ruslan lantas berlalu.

Selain Pak Ruslan, ada juga guru lain yang tak kalah kelimpungan yakni Pak Saiful. Guru yang saat itu mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris kelas delapan itu cukup bingung.

“Mau belajar di mana? kelas mati lampu,” gumamnya pelan. Tanpa ia sadari perkataannya itu didengar oleh salah seorang siswanya yang sedang mengambil buku absen di kantor.

“Kita belajar di masjid saja, Pak! Kelas tujuh sudah belajar di masjid,” sahut siswa yang bernama Luthfi itu.

“It’s ok, ajak teman-temanmu ke masjid, kita belajar di masjid,” kata lelaki yang biasa disapa Pak Ipul itu menanggapi usul seorang siswanya tadi.

Berhubung kelas sembilan ada ujian praktek mata pelajaran Penjasorkes, maka mereka tidak ikut andil belajar di masjid. Mereka berbondong-bondong ke lapangan taman Simanjuntak dengan didampingi Kak Samsudi sebagai guru Penjasorkes. Kak Samsudi adalah guru baru yang masih berstatus mahasiswa dan sedang menyelesaikan S1-nya di Universitas Indrpaprsata PGRI Jakarta. Sejurus dengan itu, ia pun tak mau disapa dengan kata-kata ‘pak’ oleh para siswanya. Ia lebih suka disapa ‘kak’. Menurutnya, dengan kata kak laiknya kakak kandung, bisa menjadikan hubungannya lebih dekat dengan para siswanya.

Kini, di masjid hanyalah siswa kelas tujuh dan delapan. Mereka belajar dengan tertib. Dengan guru dan mata pelajaran masing-masing. Mereka tak berpengaruh walau belajar tanpa menggunakan meja (lesehan). Pun tanpa lampu yang menyala, karena dengan ventilasi jendela dan pintu-pintu masjid membiarkan cahaya matahari memasuki masjid dengan leluasa. Sehingga penerangan sinar ultra-violet saat itu laksana lampu yang menyala.

By: Staff TU Smp Al-Qalam